Kedelai Raksasa Milik Pak Zum
Oleh: A. Bimo Wijoseno
Untuk menciptakan tanaman produktif para ahli tidak harus melakukan
rekayasa genetika langsung pada tanaman itu. Buktinya, dengan pupuk yang
diformulasikan secara khusus, tanaman kedelai bisa “dipaksa”
menghasilkan kacang kedelai berlipat ganda.
====
Boleh percaya, boleh tidak. Tanaman kedelai yang biasanya memiliki
tinggi tak lebih dari 70 cm, dengan jumlah polong antara 40 – 80,
ternyata bisa “disulap” menjadi tanaman jangkung setinggi 4,5 m dengan
jumlah polong 2.300 – 2.800 polong. Ruarrr biasa!
Namun, jangan membayangkan sosoknya menjadi besar seperti tanaman keras
macam pohon nangka atau rambutan. Penampilannya masih tetap seperti
dulu. “Hanya saja, batangnya sedikit lebih besar, lebih tinggi, dan
berbuah lebih banyak,” ujar Ir. Ali Zum Mashar (32), pemelihara tanaman
kedelai jangkung dan produktif ini.
Untuk membuat tanaman kedelai menjadi “raksasa”, Ali melakukan rekayasa
pada pupuknya.
Tanamannya tidak diotak-atik sama sekali. Lingkungan
penanamannya pun tidak diberi perlakuan khusus, meskipun sebenarnya
kedelai merupakan tanaman subtropis. Yang dia sentuh cuma tanah tempat
kedelai itu tumbuh dengan memberi pupuk yang diformulasikan secara
spesial.
Logikanya, jika tanahnya subur, tentu akan dihasilkan tanaman yang
bagus. Hanya saja, Ali tidak lantas latah menggunakan pupuk kimia yang
banyak tersedia di pasaran. Ia menggunakan pupuk hayati yang ia rekayasa
secara khusus.
Mikroba biangnya
“Secara alami ada ‘pabrik pupuk’ yang membuat subur tanaman dan tanah
tempat tanaman bertumbuh. Namanya, mikroba,” ujar Zum. Jasad renik itu
banyak jenisnya, di antaranya ada yang menghasilkan unsur natrium,
fospat, kalium, dan zat kimia lain yang terdapat dalam pupuk kimia
buatan. Mereka memproduksi zat hara dan nutrisi melalui proses
bio-perforasi. Selain memberikan zat hara pada tanah, mereka juga
bahu-mambahu menciptakan keseimbangan mikro-ekologi ke dalam jaringan
secara cepat. Sayangnya, tak semua tanah disusupi mikroba. Di sinilah
pupuk hayati bikinan Zum mengambil alih peran mikroba.

Berawal dari pemikiran itu, yakni bahwa tidak setiap tanah mengandung
mikroba yang bisa menghasilkan zat hara dan nutrisi, Ali tergerak untuk
meneliti dan mengumpulkan bermacam-macam mikroba penyubur tanaman dari
ujung daun hingga ke dalam tanah. Selama kurang lebih 10 tahun, alumnus
Universitas Jenderal Sudirman, Purwokerto, ini berkutat meneliti mikroba
apa saja yang bisa menyuburkan tanaman dan ramah bagi manusia maupun
lingkungan.
Dari satu dekade berburu mikroba itu, terkumpullah 18 jenis mikroba, di
antaranya cyano-bacter, azospirella, dan pseudonomy bacter. Dengan
formula tertentu, para jasad renik itu diadon menjadi pupuk hayati baru
yang oleh Ali diberi nama Bio P2000 Z (Bio = bahan hidup, P =
perforation technology, 2000 = tahun pembuatan, Z = Zum, nama tengah
Ali).
Meski cuma 18 mikroba yang terkumpul, ternyata tidak mudah memadukannya.
“Ada yang saling membunuh malahan. Harus by trial and error untuk
membuat mereka bisa berpadu,” terang Ali.
“Tidak usah takut dan
khawatir. Pupuk ini aman bagi manusia dan lingkungan,” yakin Ali. Secara
alami mikroba ini akan berkembang terus, namun secara alami pula ia
akan mati dengan sendirinya jika sudah jenuh dan tugas dan kewajibannya
selesai.
Diharapkan, pupuk Bio P2000Z ini bisa menjadi alternatif, menyusul
dicabutnya subsidi pupuk oleh pemerintah (Kompas, 4-1-2005). Nilai lebih
pupuk hayati ini, ia mampu mengembalikan kesuburan tanah yang rusak
akibat bertahun-tahun dijejali pupuk kimia buatan pabrik. Endapan pupuk
di dalam tanah bisa diurai oleh mikroba dalam pupuk Bio. Petani tak
perlu lagi membeli pupuk kimia.
Soal harga pun, bisa diadu. Harga seliter pupuk Bio P2000Z cuma Rp
100.000,-. Padahal, isinya setara dengan 200 kg urea (seharga Rp
200.000,-), 50 kg fosfat (Rp 90.000,-), dan setara 40 kg pupuk KCL (Rp
60.000,-). Jika merasa kemahalan, pupuk ini bisa diencerkan lagi dengan
cara fermentasi selama 48 jam (dengan menambah 1 kg gula, 1 kg urea, dan
20 l air). Seliter pupuk bisa diencerkan menjadi 20 l pupuk cair. Jadi,
harganya memurah menjadi sekitar Rp 5.000,- seliter.
Zum sendiri telah mengujicobakan pupuknya untuk berbagai tanaman
produksi dan lahan pertanian, termasuk lahan gambut. Sebagai contoh
bukti hasil pemakaian pupuk Bio P200Z, Zum menyatakan, pupuk itu mampu
meningkatkan jumlah panen kedelai, yang semula 1,2 ton per ha menjadi
4,5 ton per ha dalam enam kali pemupukan dengan jeda 1 – 2 minggu.
Untuk mendapatkan kedelai tingkat raksasa seperti di awal tulisan ini,
tanaman perlu dipupuk dua kali seminggu. Tiap ada tunas baru, semprotlah
daun, batang, dan tanahnya dengan pupuk ini.
Didasari keprihatinan
Pupuk Bio P200Z barangkali tidak akan pernah tercipta bila Ali Zum
Mashar tidak didera rasa prihatin melihat kondisi ekonomi petani sejak
ia duduk di bangku kuliah. Akibat revolusi hijau, produksi pertanian
digenjot menggunakan pupuk kimia. Pada awal panen hasilnya memang
memuaskan, tetapi untuk selanjutnya petani malah merugi. Setiap musim
tanam, petani harus punya modal untuk membeli bibit, pupuk, dan
pestisida.
Ketika panen, belum tentu petani bisa langsung tersenyum bahagia meraup
untung dan menutup utang modalnya. Soalnya, harga jual hasil panen masih
bisa digoyang untuk menguntungkan pihak tertentu. Petani akan lebih
merana lagi jika tanamannya ludes diserang hama. Kalau demikian, dengan
apa lagi petani bisa membayar utangnya?
Jika kondisi seperti itu berlangsung terus-menerus, petani bisa makin
jatuh melarat, begitulah Zum membatin. Kalau akhirnya petani kemudian
menggantung paculnya, “Ini bahaya, negeri kita bisa rawan pangan.
Meskipun bisa impor pangan, hal itu tidak bisa dilakukan terus-menerus.”
Menurut Zum, salah satu kunci penyebab kemelaratan petani yaitu karena
ketergantungan petani dengan pupuk buatan. Takaran penggunaan pupuk
buatan ini untuk satu satuan luas perlu terus meningkat. Dari segi
biaya, ini tentu menambah ongkos produksi yang memberatkan petani.
Pemakaian urea yang berlangsung terus-menerus dan bertahun-tahun juga
membuat tanah menjadi seperti plastik. Akibatnya, tanah tidak bisa
bernapas dan air pun tidak bisa meresap. Ini baru akibat ulah urea.
Belum akibat pupuk lain seperti TSP dan fosfat yang membuat tanah
menjadi asam.
Kalau sudah begitu, akar tanaman sulit berkembang dan hidup. Padahal,
dari yang dipelajari Ali, sesungguhnya tanaman bisa subur secara alami
tanpa diberi pupuk kimia buatan. Maka, ia pun berupaya mati-matian untuk
menciptakan formula pupuk hayati yang bisa memberi zat hara cukup bagi
tanaman, tetapi tidak merusak tanah. Hasilnya, ya pupuk hayati Bio P200 Z
itu.
Bravo, Pak Zum!
Sumber : http://wijoseno.wordpress.com/2008/01/22/kedelai-4-meter-tahu-tempe-bisa-murah-lagi/