..Ibadah qurban itu berarti perlu disiapkan dengan beternak yg baik !

Selasa, 16 Desember 2014

Membuat pupuk cair organik sendiri yang murah dan hebat dengan bantuan Alfalfa



Mencari Jawaban dengan Alfalfa
Kompas
Nugroho Widiasmadi
Rabu, 28 November 2012 | 17:22 WIB
Oleh AMANDA PUTRI NUGRAHANTI
KOMPAS.com - Nugroho Widiasmadi (46) mengawali penelitiannya dengan pertanyaan sederhana. Bagaimana agar petani mandiri dan tidak bergantung pada pupuk atau pakan pabrikan yang harganya kerap tak menguntungkan petani? Ternyata, ia menemukan jawabannya pada mikroorganisme agresif yang berinang pada tanaman alfaafa (”Medicago sativa”).

Namun, jawaban itu tidak diperolehnya secara instan. Nugroho memulainya sejak 1998 ketika mengerjakan proyek pembuatan saluran irigasi di perkebunan alfaafa di Taiwan. Sejak itu, tahun-tahun penuh perjuangan mewarnai kegagalan demi kegagalan upayanya.

Nugroho bekerja keras mengupayakan tanaman subtropis itu agar dapat hidup dan berkembang di iklim tropis, khususnya di Indonesia. Ia menjaga iklim mikro di tanah dengan sistem irigasi menggunakan metode interflow.

Berkali-kali tanaman alfaafa yang dibawanya dari Iran mati karena perbedaan iklim, cuaca, air, dan tanah. Namun, akhirnya tanaman itu dapat tumbuh stabil pada 2007.

Tanaman yang di negara asalnya disebut bapak segala tanaman itu pun dapat tumbuh di lingkungan tropis dengan stabil. Bahkan, kandungan proteinnya bisa lebih tinggi setelah ditanam di Indonesia. Indukan alfaafa memiliki kandungan protein 15 persen, sementara anakan yang dihasilkan Nugroho mengandung protein hingga 35 persen.

”Di Indonesia, proteinnya menjadi lebih tinggi karena pengaruh sinar matahari yang berlimpah. Sekarang, bibit alfaafa dapat ditanam di mana saja tanpa diperlukan perlakuan khusus,” kata Nugroho.

Tanaman itu bisa memiliki kandungan protein sedemikian besar karena adanya bakteri Rhizobium pada tanaman alfaafa yang berinang pada akarnya. Alfaafa memiliki akar tunggang yang kedalamannya bisa mencapai 10 meter dan juga akar serabut.

Nugroho menemukan, kinerja bakteri itu begitu mengagumkan. Ia, seperti halnya Rhizobium pada kedelai, mengikat nitrogen bebas di udara. Bedanya, Rhizobium alfaafa mengikat nitrogen hanya dalam waktu empat detik.

Riset pun dilanjutkan dengan memanfaatkan bakteri tersebut. Nugroho coba menggabungkan Rhizobium alfaafa dengan bakteri pada rumen sapi, yaitu bakteria selulolitik, proteolitik, dan amilolitik. Dari kombinasi tersebut, Nugroho memperoleh formasi bakteri yang mampu merombak material organik dengan sangat cepat, yang kemudian dinamakan Microbacter Alfaafa-11 (MA-11).

Mikroorganisme ini mampu menjadi dekomposer yang sangat andal. Ia bisa memecah dinding lignin yang menyelubungi kandungan gizi yang ada pada tanaman, yang selama ini sulit dirombak. Hasilnya, semua limbah pertanian yang difermentasi dengan bakteri ini memiliki kandungan gizi yang melesat jauh dibandingkan sebelumnya.

Sebut saja jerami, eceng gondok, ampas teh, bonggol jagung, ampas tahu, hingga ampas singkong yang kandungan protein awalnya rendah, bisa meningkat tiga hingga 10 kali lipat dalam kurun waktu 24 jam. Jerami, misalnya, yang pada awalnya mengandung protein 0,8 persen, setelah difermentasi sehari semalam, proteinnya naik hingga 8,0 persen.

”Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan petani jauh lebih murah ketimbang membeli pakan pabrikan. Petani dapat memanfaatkan limbah pertanian yang ada menjadi pakan ternak yang gizinya setara dengan pakan pabrikan,” ujar Nugroho.

Tidak hanya pakan, pupuk juga bisa dibuat dengan memfermentasikan tanaman atau kotoran hewan. Hasilnya, padi yang diberi pupuk organik dari hasil fermentasi dengan MA-11, ditemukan tidak mengandung bahan kimia dan bakteri berbahaya sedikit pun.

Bahkan, dengan mengolah singkong menjadi pakan, petani dapat memperoleh pupuk cair dan bioetanol sekaligus. Bioetanol yang dihasilkan memiliki oktan hingga 117, jauh lebih tinggi dibandingkan Pertamax yang beroktan 98.

Sejauh ini, Nugroho hanya menjual MA-11 langsung kepada petani dengan harga Rp 50.000 per botol berukuran satu liter. Dia tidak mau MA-11 dijual di pasaran untuk menghindari permainan pasar atau rantai distribusi yang panjang yang pada akhirnya merugikan petani karena harga bisa menjadi lebih mahal.

Untuk petani Indonesia

Nugroho mengaku pernah mendapat tawaran dari Raja Perlis Malaysia pada 2007 untuk mengembangkan tanaman alfaafa di Malaysia, dengan syarat, pengembangan tidak boleh dilakukan di tempat lain, termasuk Indonesia. Namun, dengan tegas Nugroho menolak walau ia tahu belum tentu risetnya lebih mudah diterima di negerinya sendiri.

Amerika Serikat, salah satu negara yang membudidayakan alfaafa, menurut Nugroho, bahkan tidak membiarkan tanaman alfaafa dibudidayakan di negara lain. Karena itu, mereka membuat bibit yang dimandulkan untuk negara lain.

Meski demikian, Nugroho tetap teguh dan percaya bahwa suatu saat para petani Indonesia dapat mencapai kemandiriannya. Dia terus bergerak, berpromosi, dan memperkenalkan alfaafa sehingga semakin lama semakin banyak pihak yang mengetahui dan ingin belajar bagaimana membuat pakan, pupuk, hingga bahan bakar secara mandiri.

Perwakilan dari negara-negara seperti Afrika Selatan, Taiwan, Malaysia, Filipina, India, Uganda, Kenya, dan Etiopia datang untuk mempelajari alfaafa. Nugroho menyanggupi pendampingan kepada mereka dengan catatan tidak untuk monopoli.

Di dalam negeri, petani-petani dan pemerintah daerah, di antaranya dari Lampung, Aceh, Bukittinggi, Papua, Kalimantan Timur, Banjarmasin, Pontianak, Makassar, dan Manado, juga berdatangan untuk belajar bagaimana membuat pakan dan pupuk secara mandiri dengan alfaafa. MA-11 kini diproduksi hingga 10.000 liter per bulan untuk dijual kepada petani-petani di Jawa Tengah dan daerah-daerah lain yang memesan.

Nugroho juga membagikan benih alfaafa secara gratis kepada petani yang menginginkannya. Dalam kemasan tertulis bahwa benih itu tidak untuk dijual, tetapi untuk dibagikan kepada para petani. Syaratnya, petani harus memperkenalkan tanaman itu kepada petani yang lain.

Benih tersebut dapat ditanam di mana saja tanpa perlakuan khusus dan dapat dimanfaatkan untuk pembuatan teh (pucuk daunnya), juga untuk pakan ternak dan pupuk yang kaya kandungan gizi.

”Ya, syaratnya hanya satu, petani harus memperkenalkan tanaman dan bakteri ini kepada petani yang lain. Yang saya inginkan hanya satu, semua petani sejahtera,” tuturnya.
Editor: yunan
Sumber: Kompas Cetak
Sumber : http://sains.kompas.com/read/2012/11/28/17224489/Mencari.Jawaban.dengan.Alfalfa

Minggu, 14 Desember 2014

Mari mengenal tanaman Alfalfa yang multi fungsi dan berkhasiat

Rumput Alfalfa (Medicago Sativa L)

Alfalfa (Medicago sativa) Adalah Jenis Tanaman Kacang-kacangan (Leguminoseae) Yang Sudah Dapat Dibudidayakan Sejak Jaman Dahulu.  Berkat Kandungan Dan Nutrisinya Alfalfa Disebut Juga Father Of Food (Nenek Moyang Makanan). Tanaman Ini Mampu Hidup 3 Sampai 12 Tahun Tergantung Pada Kondisi Iklim Dan Varietas Serta Lokasi Dimana Tanaman Alfalfa Hidup.   Jumlah benih per 1000 gr adalah 182.360 - 188.000 biji





















Pakan Ternak Alfalfa Hay produk Boyolali Indonesia



HAY ALFALFA dari tanaman keluarga kacang-kacangan (medicago sativa) yang mengandung lebih banyak protein kasar , energi dan kalsium yang dicerna dari pada jenis rumput apapun. Perbedaan-perbedaan ini membuat Alfalfa Hay merupakan pilihan yang sempurna untuk hewan/ ternak yang sedang mengalami pertumbuhan, bunting atau menyusui. Dokter Hewan merekomendasikan Hay Alfalfa untuk kesehatan hewan Anda.

Hay Alfalfa dipanen dari kebun Selo Pass Boyolali bermerek COWBOY  ALFALFA (“Cowboy” singkatan dari Cow Boyolali/ Sapi Boyolali) telah dipilih oleh Pemiliknya langsung Nugroho Widiasmadi. Nugroho adalah generasi petani yang memahami dan mengakui kualitas Alfalfa.  Itulah mengapa setiap kemasan Hay Alfalfa Selo Pass selalu dikerjakan dengan  kualitas terjamin dan memenuhi kebutuhan gizi tinggi untuk hewan peliharaan Anda.


KONSUMSI UNTUK HEWAN
Sapi/ lembu, Biri-biri / domba, Kuda, Kelinci, Chinchillas, Anjing, Babi , Ayam/ Unggas, Kura-kura, Burung, Reptile / Iguana, Ikan air tawar, Ikan tambak/ Laut, dll
KANDUNGAN
Protein (min) ..............................25.0  %
Lemak (min)................................1.50  %
Serat (max) .................................20,0  %
Kandungan Air (max) ................15,0 %

KESEHATAN TERNAK 
Hay Alfalfa mutlak dan vital bagi kesehatan hewan memamah biak. Hay Alfalfa menyediakan tidak hanya serat, tetapi juga pengayaan lingkungan hewan peliharaan Anda yang sesuai dengan  habitat aslinya.  Sebagai peternak / pemelihara, ini merupakan bentuk tanggung jawab Anda untuk selalu menjaga kesehatan ternak  dengan menggunakan Hay Alfalfa.

PENYIMPANAN 
Simpan Hay Alfalfa ini di tempat yang sejuk dan kering, terlindung dari sinar matahari secara langsung. Dalam kemasan aslinya tidak diperlukan pendinginan atau pembekuan. Jika Anda memilih untuk menyimpan dalam wadah lain, pastikan  memiliki sirkulasi udara yang cukup.

HARGA PASAR             :    Rp. 45.000,-/ kg (tidak ada minimal order)
HARGA DISTRIBUTOR :    Rp. 30.000,-/ kg (minimal order 500 kg)
harga diluar ongkos kirim
PEMBAYARAN
Via Rekening atas nama Nugroho Widiasmadi
BCA            No. Rek  8165038068
MANDIRI    No. Rek. 135 00 95008585
BNI             No. Rek. 0198130919

Ekowisata Taman Air Indonesia / ETASIA
Jl. Tentara Pelajar Boyolali
Hp 081 22654 915

Sumber : http://nusaword.blogspot.com/2011/09/hay-alfalfa-dari-tanaman-keluarga.html

Jumat, 12 Desember 2014

Kisah kecil sosok Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman Menteri Pertanian Kabinet Kerja Jokowi-JK


'Pembunuh Hama' Kembalikan Uang Negara 600 Juta

Sandi Prastanto
'Pembunuh Hama' Kembalikan Uang Negara 600 Juta
Menteri Pertanian Amran Sulaiman (ANTARA/Andika Wahyu)
MAKASSAR (HN) -Penunjukan Amran Sulaiman, putra Sulawesi Selatan (Sulsel) sebagai Menteri Pertanian Kabinet Jokowi-JK dinilai tepat. Kejujurannya teruji saat ia pernah mengembalikan uang negara senilai lebih dari Rp. 600 juta.

"Kala itu sekitar tahun 1997, Amran bertugas sebagai juru bayar pembebasan lahan di Proyek Gula Tinanggea, Kendari, ia mengembalikan sisa uang lebih dari Rp 600 juta ke negara, padahal saat itu jika ia mau mengambilnya tak akan ada yang mempersoalkan karena dana pembayaran tersebut sudah dianggap habis," ungkap mantan Direktur PTPN XIV H.M. Ali Arief yang saat itu menjadi atasan Amran, di Makassar, Minggu (26/10).

Kejujuran Amran inilah yang menurut Ali, pada akhirnya membuat ayah empat anak tersebut memilih mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Bagian Logistik di perusahaan pelat merah tersebut.

"Amran tidak nyaman dalam kondisi sistem yang banyak menyimpang saat itu," ujarnya.

Selain jujur, lanjutnya, Amran juga merupakan sosok yang cerdas, inovatif, dan mampu memecahkan masalah.

"Saya menjuluki dia sebagai 'trouble shooter' karena setiap kali ada masalah yang pelik ia pasti mampu memecahkannya," urainya.

Ali mencontohkan suatu ketika mereka menghadapi masalah serangan hama babi di perkebunan kelapa sawit, sehingga mereka memutuskan membangun parit mengelilingi kebun.

"Hasilnya, babi-babi itu malah menimbun kembali parit yang dibuat dengan cara menggugurkan tanah di tepi parit," ujarnya.

Untunglah Amran datang dengan solusi yang sederhana namun efektif.

"Ia memberikan umpan tanpa racun selama dua hari berturut-turut, baru pada hari ke tiga, saat babi-babi mulai lengah, umpan dicampur dengan racun, hasilnya ribuan hama babi mati dan perkebunan terselamatkan," katanya.



Satu visi, punya kemauan
Keputusan Amran untuk terlibat mendukung Jokowi sebagai koordinator relawan Sahabat Rakyat KTI, kata Ali, juga tak terlepas dari kesamaan visi Amran dan Jokowi.

"Mereka sama-sama ingin melihat negara dibangun dengan sistem yang bersih," katanya.

"Amran sudah mengkaji berbagai masalah pertanian Indonesia dengan sejumlah pakar dan sudah ada konsep yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan ke depan," ujarnya.

Ali khususnya optimis jika Amran mampu membawa Indonesia menuju swasembada gula.

"Amran tahu betul berbagai masalah yang ada di industri gula dengan pengalamannya yang panjang di PTPN XIV, dan dengan kapasitasnya yang sudah teruji ia akan mampu menyelesaikan masalah tersebut," katanya.

Dilansir dari Antara, saat ditemui di Makassar, Sabtu (25/10) sebelum pengumuman kabinet, Amran Sulaiman sendiri mengaku tidak ingin berandai-andai jika ia menjadi menteri. Namun, kata Amran, jika Allah mempercayakan jabatan tersebut kepadanya ia optimis bisa memperbaiki sektor pertanian Indonesia.

"Saya yakin tidak sulit, yang penting punya kemauan, selain itu hati dan pikiran harus sejalan, jika tidak energi kita akan habis hanya karena pertarungan hati dan pikiran," ujarnya.

Amran Sulaiman pernah berkiprah di PTPN XIV, dan terakhir menjabat sebagai Kepala Bagian Logistik PTPN XIV Wilayah Timur, sebelum akhirnya mengundurkan diri pada tahun 2010. Amran juga tercatat sebagai Dosen Luar Biasa di Universitas Hasanuddin, dan CEO di Tiran. (sdp)

Sumber : http://m.harnas.co/2014/10/27/pembunuh-hama-kembalikan-uang-negara-600-juta

Pagari dengan pohon Salak cara efektif untuk mengatasi serangan hama Babi


Cara Mengatasi Serangan Babi Hutan Pada Tanaman Kelapa Sawit

Tanaman sawit hancur akibat serangan babi hutan
Tanaman sawit hancur


Mengatasi serangan babi hutan bukanlah perkara mudah. Mengendalikan hama bermoncong panjang dan kuat ini jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan mengatasi serangan tikus atau landak
Tingkat kesulitan mengendalikan babi hutan ini cukup tinggi dan butuh biaya ekstra,  karena tubuh babi yang lebih besar, tenaganya yang sangat kuat, dan kemampuan menggali tanahnya yang luar biasa. Jika babi mau, ia bisa menumbangkan sepohon kayu tegak sebesar paha orang dewasa, dengan cara menggali tanah tempat tumbuhnya.
babi hutan
babi hutan

Nah, apabila lahan anda yang akan ditanami kelapa sawit atau tanaman lain ada babi hutannya, maka terlebih dahulu harus diupayakan penanggulangan akan kemungkinan serangan hama itu.
Pemagaran tiap pohon sawit yang baru ditanam dengan kayu-kayu kecil tidaklah banyak membantu, karena babi memiliki kekuatan penghancur yang cukup kuat.

anak-sawit

Cara paling efektif dan murah adalah dengan memagari sekeliling lahan dengan tanaman salak yang banyak berduri panjang-panjang.

salak 1

Saat kecambah bibit sawit mulai ditanamkan ke polibag persemaiannya, maka mulai jugalah semai bibit salak.
Setahun kemudian, bibit salak sudah bisa ditanamkan di sekeliling lahan, jarak tanam 35-40 cm, atau tergantung besar anakan salak. Yang menjadi perhitungan adalah, setahun kemudian barisan tanaman salak sudah menyatu, hingga tak ada celah bagi babi untuk masuk.

Nah, saat bibit sawit sudah berumur dua tahun, adalah umur yang tepat untuk ditanamkan ke lahan yang memiliki sejarah serangan tikus, landak dan babi hutan.
Babi hutan dan landak sudah dipagar dengan salak berduri, sedangkan tikus sudah tak berdaya menghadapi besar dan kerasnya batang anak sawit umur dua tahun.
Sekarang anda sudah bisa memiliki sebidang kebun yang aman dari serangan hama pengerat. Dan anda bisa juga menikmati manis dan renyahnya buah salak yang berasal dari pohon yang anda tanam, meski pun awalnya hanya sebagai pagar hidup pelindung lahan.

salak lebat

Sebenarnya, masih ada cara lain yang cukup efektif untuk mengurangi efek destruktif dari babi hutan. Hanya saja cara ini butuh modal yang lebih banyak untuk pekerjaan.

Bibit kelapa sawit di tanam di dalam lubang ukuran panjang 50 cm, lebar 50 dan dalam 40 cm. Lalu didasar  lubang dibuat lubang lagi untuk menanam bibit. Lubang yang besar dibiarkan atau tidak ditimbun. Dengan cara ini babi hutan akan kesulitan menjangkau batang bawah bibit sawit. Babi tak punya pijakan untuk beraksi. Jika babi nekad, maka babi akan terperosok dan hidungnya tertusuk duri sawit.

Cara ini sudah terbukti efektif kami praktekkan di Bagan Siapi-api.

Cara yang paling umum dilakukan orang adalah dengan menanam bibit sawit yang sudah berumur 2 tahun. 1/3 bagian bibit sebelah atas dipangkas, lalu ditanam dengan cara memendam sejengkal batang bawah.
Jadi, bagian akar dan sejengkal bagian batang bawah ada di dalam tanah.

Kesulitannya adalah jarang sekali ada dijual bibit sawit umur 2 tahun. Kalau pun ada, harganya lumayan mahal. Jika bibit sawit non sertifikat umur setahun harganya 14.000 rupiah, bibit umur dua tahun bisa seharga 24.000 rupiah perpokok. 

Sumber foto lihat di : http://zahirkabupatenbatubara.blogspot.com/2014/03/1.html
Sumber : http://bibitsawitkaret.blogspot.com/2014/03/tanaman-sawit-hancur-mengatasi-serangan.html