..Ibadah qurban itu berarti perlu disiapkan dengan beternak yg baik !

Kamis, 12 April 2012

TANAMAN JERUK DAN KARET

Oleh : Asbudi Salam


Jamur upas (Upasia salmonicolor (Berk. et Br.) Tjok.) adalah jamur penyebab penyakit upas atau mati cabang/ranting. Penyakit ini biasanya menyerang pohon perkebunan dan buah budidaya di daerah tropis, terutama di musim penghujan. Gejala penyakit ini, matinya pepagan batang dan tampak mengering. Pada awalnya bagian yang terserang tampak keperakan, lalu beralih merah jambu. Pada saat ini miselia jamur telah menyerang pada jaringan korteks kulit kayu. Penyakit jamur ini biasa mneyerang bagian pangkal cabang atau ranting, tempat air terkumpul.

Pada serangan yang berat mengakibatkan tanaman lalu mati sebagian atau seluruhnya. Sehingga mempengaruhi populasi tanaman per hektar, dan hasil yang diperoleh tidak optimal, kerugian secara tepat memang sulit untuk ditentukan, tetapi penyakit ini berarti penting dan kadang – kadang sangat merugikan.

JAMUR UPAS (PINK DESEASE)
PADA TANAMAN JERUK


Jamur ini merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri - ciri dari jamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, dan pertumbuhan, serta reproduksinya.

Gejala Serangan

Penyakit jamur upas pada jeruk disebabkan oleh Corticium salmonicolor Berk. & Br. Gejala timbul pada batang atau ranting yang dilapisi benang – benang mengkilap seperti sarang laba - laba (stadium membenang) berwarna merah muda. Perkembangan selanjutnya jamur masuk dalam kulit menyebabkan kulit membusuk. Terdapat bintil spora jamur (stadium membintil). Pada tahap ini biasanya menyebabkan daun - daun menjadi gugur, ranting dan cabang terserang dapat mengalami kematian. Pada stadium lebih parah menyebabkan permukaan pada kulit terserang yang berwarna merah jambu (stadium kortisium) berubah menjadi abu – abu. Lapisan miselium mem bentuk bercak – bercak tak beraturan seperti kerak (stadium nekator).

Bioekologi

Kelembaban dan cahaya yang kurang pada percabangan tanaman mendorong perkem bangan penyakit. Patogen ini masuk dengan penetrasi langsung. Penyebaran terjadi oleh karena kelembaban yang tinggi pada ranting, adanya percikan air, pengairan atau hujan.

Pengendalian

Upayakan agar cahaya dapat masuk secara sempurna ke seluruh bagian tanaman. Apa bila tajuk tanaman telah bertautan sebaiknya dipangkas. Bagian tanaman yang sakit lalu dibuang dengan cara dipotong pada batas 5 cm dari bagian sakit, kemudian luka ditutup dengan bahan penutup luka (parafin). Potongan tanaman yang sakit lalu dibakar. Bagian sakit yang belum parah stadiumnya dapat diobati dengan pengerokan, kemudian dilabur dengan fungisida dengan bahan aktif Copper atau bubur California.


JAMUR UPAS (Corticium salmonicolor)

PADA TANAMAN KARET

Penyakit jamur upas merupakan penyakit penting pada tanaman karet, karena dapat menjadikan kerusakan pada batang/ranting tanaman sehingga mempengaruhi produksi lateks. Jamur upas menyerang tanaman yang belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM).

Penyakit ini lebih berbahaya bila menyerang TBM dan TM bila dibandingkan dengan tanaman tua. Pada TBM, jamur mematikan batang atau cabang yang menyebabkan tajuk tanaman kurang berkembang, sehingga tanaman lambat disadap. Serangan jamur di tanaman tua terjadi pada ranting, dan jarang terjadi pada batang atau cabang, karena pada bagian kulit batang atau cabang telah ada terbentuk lapisan gabus. Penyakit tersebut banyak menyerang tanaman pada kebun yang lembab dan kurang sinar matahari. Klon – klon yang tajuknya rindang relatif rentan terhadap jamur upas.

Penyebab Penyakit

Penyebab penyakit jamur upas Corticium salmonicolor. Nama lain jamur upas tersebut adalah Upasia salmonicolor, Pelli cularia salmonicolor, Phanerochaete salmoncolor dan Botryobasidium salmonicolor.

Gejala Serangan

Jamur upas timbul pada batang atau cabang yang kulitnya sudah berwarna coklat, tetapi belum membentuk lapisan gabus yang tebal. Umumnya jamur mulai berkembang dari pangkal batang atau sisi bawah cabang, karena disini keadaannya lebih lembab dari pada di bagian lain.

Gejala awal ditandai dengan adanya benang – benang halus yang mirip sarang laba – laba pada bagian dari tanaman yang terserang. Kemudian patogen membentuk kumpulan hifa yang dilanjutkan dengan pembentukan kerak berwarna merah jambu. Pada tahap ini kulit dan kayu yang ada dibawahnya telah membusuk. Untuk mengimbangi kerusakan tersebut, biasanya pada jaringan yang masih sehat tumbuh tunas – tunas baru dan jaringan kulit yang terinfeksi mengeluarkan lateks.

Lateks meleleh pada cabang atau batang yang kemudian mengering tampak seperti garis – garis hitam. Menurut perkembangan nya gejala tersebut dapat dibagi 4 (empat) stadium :

1. Stadium rumah laba – laba : pada tingkat ini, jamur akan membentuk lapisan tipis miselia yang mengkilat seperti sutera. Pada stadia ini jamur belum menembus jaringan kulit.

2. Stadium membintil : sebelum masuk ke jaringan kulit, jamur akan membentuk kumpulan hifa yang mempunyai bintil. Hal ini sering terjadi di depan lenti sel.

3. Stadium kortisium : pada tingkat ini jamur membentuk kerak berwarna merah jambu. Kulit yang di bawah kerak merak jambu ini telah membusuk. Kerak ini merupakan lapisan basidium yang mem bentuk basidiospora.

4. Stadium nekator : kulit kayu dibawah kerak kortisium menjadi busuk dan bila jamur berkembang terus, maka akan terbentuklah piknidia yang berwarna merah tua yang biasanya terjadi pada sisi yang agak kering, misalnya pada sisi atas cabang. Pada stadium ini, didalam piknidium jamur membentuk spora yang lain yaitu konidium. Piknidia inilah yang disebut Nekator yang umumnya terdapat pada batang atau cabang yang sudah mati. Pada level yang lebih lanjut daun – daun pada batang atau cabang yang sakit menjadi layu dan mengering. Kuncup – kuncup tidur di bawah bagian yang terserang ber kembang menjadi tunas dan akhirnya tanaman karet menjadi mati.

Cara Berkembang dan Sebaran Penyakit

Penyakit ini dapat berkembang dengan cepat bila keadaan kebun lembab dan kurang sinar matahari. Cara penyebaran penyakit melalui spora jamur yang terbawa oleh angin dan percikan air. Jamur Cortisium salmonicolor merupakan jamur yang cosmopolite (inangnya banyak) meliputi kurang lebih 140 jenis tanaman antara lain karet, jeruk, durian, dan belimbing, nangka, lada, kopi, cempedak, dan lain sebagainya.

Posted by
Sumber : http://asbudisalamminds.blogspot.com/2011/06/ayam-nunukan.html

HAMA, PENYAKIT DAN PENGENDALIAN PRODUK PADA PISANG

Oleh : Asbudi Salam

A. H a m a


a) Ulat penggulung daun atau Erionata thrax menyebar pada Asia Tengara. Gejala: larva instar awal membuat irisan miring pada tepi daun dan menggulung ke atas bagian yang ter potong sebagian dan lebih lanjut gulungan makin lebar. Pada tingkat serangan berat hanya tersisa tulang daun dan gulungan daun. Curah hujan yang tinggi menekan populsi instar awal. Pada daerah terlindungi dari angin, populasi hama tinggi.

b) Penggerek di buah pisang (Nacoleia octasema) menyebar di daerah Asia Tenggara.
Gejala : seperti kudis, buah bercak kecoklatan dan sebagian membusuk.

c) Penggerek batang pisang (Cosmopo lies sordidus) menyebar di daerah tropika.
Gejala: larva instar awal membuat beberapa gerekan memanjang pada jaringan luar sehinga menembus di seludang daun bagian dalam didekat nya. Hama menggerek pada pangkal batang dan rhizoma. Serangan pada daerah pegunungan lebih tinggi dari pada dataran rendah. Populasi hama banyak terdapat pada tanaman yang terlalu tua serta pada tungul dan rhizoma yang tersisa.
Pengendalian : sanitasi kebun dan pemanenan secara periodik.

d) Odoiporus longicallis adalah hama sekunder. Larva menggerek bagian dalam tengah batang hingga pada seludang daun.


B. Penyakit


a) Penyakit Layu Fusarium (penyakit Panama) disebabkan oleh Fusarium oxysporium. Penyakit ini merupakan penyakit merugikan setelah layu bakteri dan menyebar luas diseluruh dunia.
Gejala : tepi daun bawah kuning tua lalu menjadi coklat dan mongering, pangkal tangkai daun patah, kadang kala batang palsu bagian luar belah dari pangkal, pada belahan mem bujur pangkal batang palsu tedapat garis – garis coklat kehitaman ke berbagai arah (pada pangkal batang) batang batang palsu hingga tangkai daun terjadi perubahan warna berkas pembuluh

b) Bercak daun cercospora (penyakit sigatoka) oleh jenis Mycospharella musicola. Penyakit ini kadang kala merugikan, sebab dapat menurunkan kuantitas dan kualitas buah namun kurang mendapat perhatian.
Gejala : bercak kecil dan memanjang kuning pucat atau hijau kecoklatan sejajar tulang daun, bercak lalu mem besar menjadi coklat tua hingga hitam ellips (0.5 cm x 1.5 cm), pada daun tua pusat bercak mengering kelabu dengan tepinya coklat tua dengan halo kuning, di pusat bercak ada titik hitam

c) Bercak daun cordana disebabkan oleh Cordana musae. Penyakit ini terdapat di setiap negara penanam pisang, dianggap kurang penting.
Gejala : bercak ellips kecil kemudian membesar coklat pucat konsentris dengan halo kuning, yang sering bercampur dengan bercak cercos pora, dan bercak dapat merupakan hawar.

d) Penyakit kerdil pisang disebabkan oleh Banana Bunchy Top Virus (BBTV). Penyebaran penyakit di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Pasifik, Australia, serta di beberapa negara Afrika.
Gejala : awalnya garis – garis pendek terputus – putus diselingi titik – titik terdapat di antara dan sejajar tulang – tulang daun sekunder; selanjutnya : daun – daun yang muncul berikutnya (daun – daun muda) tumbuh lebih tegak lebih pendek lebih sempit tangkai daun lebih pendek.

Pada sepanjang tepi daun terjadi klorosis dan kering daun jadi rapuh, infeksi pada tanaman muda menyebabkan tanaman tidak berproduksi
Pengendalian : penerapan karantina tumbuhan, penggunaan bibit bebas virus, rouging, aplikasi insektisida.

e) Pseudomonas solanacearum atau penyakit layu bakteri pisang/moko. Serangan terjadi terutama saat pisang menjelang berbunga. Tanaman tiba tiba layu tanpa didahului menjadi kuningnya daun. Pada bonggol pisan terdapat lendir.

f) Xanthomonas celebens atau penyakit darah. Bakteri menyerang pembuluh batang pisang melalui akar. Pada pembuluh yang diserang mengeluar kan cairan darah bila dipotong.


C. Pengendalian Kualitas Produk


a) Kegiatan pengendalian kuantitas dan kualitas produk bertujuan untuk men jaga buah agar memenuhi standar kualitas yang telah ditentukan utama nya untuk tujuan ekspor. Rusaknya buah (turunnya kualitas buah) dapat disebabkan oleh berbagai hal antara lain tandan buah menyentuh tanah karena pohon roboh, gesekan daun/ gesekan mekanis lainnya terhadap buah, serangan hama dan penyakit terhadap buah serta adanya getah yang menempel pada buah.

b) Pengendalian dimulai sejak kuntum bunga muncul dari batang semu hingga buah siap panen.

Kegiatan yang dilakukan meliputi:
+ Penyuntikan kuntum bunga pada waktu bunga (jantung) pisang muncul 2/3 dari pucuk batang semu dengan insektisida sistemik untuk mencegah serangan aphid yang dilakukan pada 10 cm dari ujung bunga
+ Pembuangan sisa bunga betina pada buah setelah pembungaan umur 30 hari setelah anthesis
+ Pembuangan daun terakhir dan daun tua yang menempel pada buah
+ Penyisaan daun pada saat fase perkembangan buah tidak kurang dari 4 helai
+ Pemasangan penyanggah pada tanaman yang sedang berbuah
+ Membungkusan buah dengan jenis plastik polyethylene yang mengandung insektisida di saat tandan sudah terbentuk sempurna (50 hari setelah anthesis), jantung yang masih kuncup dan dua sisir buah terbawah dibuang. Setelah dibungkus, tandan diberi tanda untuk menentukan waktu panen yang tepat sehingga umur dan ukuran buah seragam.

Sumber : http://asbudisalamminds.blogspot.com/2011/06/ayam-nunukan.html

PUPUK ORGANIK CAIR DARI LIMBAH BUAH

Oleh : Asbudi Salam


Penggunaan pupuk terus meningkat sesuai dengan pertambahan luas areal pertanian, pertambahan penduduk, kenaikan tingkat intensifikasi serta makin beragamnya penggunaan pupuk sebagai usaha peningkatan hasil pertanian. Para ahli lingkungan hidup khawatir dengan pemakaian pupuk mineral yang berasal dari pabrik ini akan menambah tingkat polusi tanah yang akhirnya berpengaruh juga terhadap kesehatan manusia. Berdasarkan hal tersebut makin berkembang alasan untuk dapat mengurangi penggunaan pupuk mineral dan agar pembuatan pabrik pupuk di dunia dikurangi atau dihentikan sama sekali agar manusia bisa terhindar dari malapetaka polusi. Upaya pembudidayaan tanaman dengan pertanian organik merupakan usaha untuk dapat mendapatkan bahan makanan tanpa penggunaan pupuk anorganik. Dengan sistem ini diharapkan tanaman dapat hidup tanpa ada masukan dari luar sehingga dalam kehidupan tanaman terdapat suatu siklus hidup yang tertutup.

Banyak sifat baik pupuk organik terhadap kesuburan tanah antara lain ialah : bahan organik dalam proses mineralisasi akan melepaskan hara tanaman dengan lengkap (N, P, K, Ca, Mg, S, serta hara mikro) dalam jumlah tidak tentu dan relatif kecil; dapat memperbaiki struktur tanah, menyebabkan tanah menjadi ringan untuk diolah dan mudah ditembus akar; tanah lebih mudah diolah untuk tanah – tanah berat; meningkatkan daya menahan air (water holding capacity). Sehingga kemampuan tanah untuk menyediakan air menjadi lebih banyak.

Kelengasan air tanah lebih terjaga; permeabilitas tanah menjadi lebih baik. Menurunkan permeabilitas pada tanah bertekstur kasar (pasiran), sebaliknya meningkatkan permeabilitas pada tanah bertekstur sangat lembut (lempungan); meningkatkan KPK (Kapasitas Pertukaran Kation) sehingga kemampuan guna mengikat kation menjadi lebih tinggi, akibatnya apabila dipupuk dengan dosis tinggi hara tanaman tidak mudah tercuci; memperbaiki sifat kehidupan biologi tanah (baik hewan tingkat tinggi maupun tingkat rendah) menjadi lebih baik karena ketersediaan makan lebih terjamin; dapat meningkatkan daya sangga (buffering capasity) terhadap goncangan perubahan drastis sifat tanah; dan mengandung mikrobia dalam jumlah cukup yang berperanan dalam proses dekomposisi bahan organik.

Sedangkan sifat yang kurang baik dari pupuk organik adalah bahan organik yang mempunyai C/N masih tinggi berarti masih mentah. Kompos yang belum matang (C/N tinggi) dianggap merugikan, karena bila diberikan langsung ke dalam tanah maka bahan organik diserang oleh mikrobia (bakteri maupun fungi) untuk memperoleh energi. Sehingga populasi mikrobia yang tinggi akan memerlukan juga hara tanaman untuk tumbuh dan kembang biak. Hara yang seharusnya digunakan oleh tanaman berubah digunakan oleh mikrobia. Dengan kata lain mikrobia bersaing dengan tanaman untuk memperebutkan hara yang ada. Hara menjadi tidak tersedia (unavailable) karena berubah dari senyawa anorganik menjadi senyawa organik jaringan mikrobia, hal ini disebut immobilisasi hara. Terjadinya immobilisasi hara tanaman bahkan sering menimbulkan adanya gejala defisiensi.

Makin banyak bahan organik mentah diberikan ke dalam tanah makin tinggi populasi yang menyerangnya, makin banyak hara yang mengalami immobilisasi. Walaupun demikian nantinya bila mikrobia mati akan mengalami dekomposisi hara yang immobil tersebut berubah menjadi tersedia lagi. Jadi immobilasasi merupakan pengikatan hara tersedia menjadi tidak tersedia dalam jangka waktu relatif tidak terlalu lama; disamping itu bahwa bahan organik yang berasal dari sampah kota atau limbah industri sering mengandung mikrobia patogen dan logam berat yang berpengaruh buruk bagi tanaman, hewan dan manusia.

Cara Pembuatan POC Limbah Buah

Pupuk Organik Cair (POC) adalah sejenis pupuk organic yang diekstrak dari berbagai unsur organic menjadi bentuk cair sehingga mudah diaplikasikan. Dikemas dalam wadah botol menjadikan pupuk ini lebih praktis dibawa kemanapun. Beberapa keuntungan dari POC limbah buah ini adalah : menekan penyebaran hama/penyakit tanaman, memanfaatkan residu unsur hara yang masih terdapat dalam buah yang busuk (seperti unsur N, P dan K serta beberapa unsur mikro yang masih bisa menguntungkan bagi tanaman), lingkungan lahan/kebun lebih bersih, mudah diaplikasikan terhadap tanaman, dan lebih praktis serta efesien dalam pemanfaatannya.

Buah yang busuk akibat dekomposisi dari buah yang jatuh maupun akibat serangan hama penyakit pada pohonnya merupakan salah satu bahan pembuatan pupuk yang masih kurang memasyarakat. Pada umumnya buah yang busuk ini dibuang, sebab dianggap sebagai vektor dari penyebaran penyakit kepada tanaman/buah yang sehat. Padahal jika ditilik secara seksama, buah busuk meski penampakannya tidak lagi eksotik namun masih memiliki kandungan unsur hara yang bisa digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk organic cair (POC).

a) Alat dan Bahan :

1) Alat : botol aqua lengkap dengan tutupnya, selang kecil (selang timbangan air), ember/ jergen yang tertutup, isolasi, dan lesung/blinder.
2) Bahan : satu buah busuk, air cucuain beras yang pertama 1 liter dan gula merah/molasses sekitar ¼ kg.

b) Cara Pembuatan :

1) Semua bahan ditumbuk/dihaluskan
2) Bahan dicampur dan diaduk dengan air beras
3) Ditambahkan dengan gula aren/gula pasir atau air tebu (molases)
4) Masukkan campuran kedalam wadah yang kedap udara
5) Buat lubang pada tutup wadah dan botol aqua
6) Botol aqua diisi air bersih, jangan terlalu penuh agar ada ruang untuk udara
7) Selang dipasang pada kedua tutup yang telah dilubangi
8) Setelah 15 hari mol siap digunakan sebagai starter membuat kompos dan sebagai POC.

Posted by
Sumber : http://asbudisalamminds.blogspot.com/2011/06/ayam-nunukan.html

Kamis, 05 April 2012

Kota Tarakan Tawarkan Kepiting Soka dan Singkong Gajah

kepiting_soka.jpg


Kota Tarakan Tawarkan
Kepiting Soka dan Singkong Gajah



Di ajang pameran Pekan Nasional (Penas) Kelompok Tani Nelayan Andalan ( KTNA) XIII di Kutai Kertanegara (Kukar) yang digelar 18-23 Juni 2011, Kota Tarakan memamerkan dua produk unggulannya yaitu kepiting soka dan singkong gajah.

Menurut Dinas Peternakan dan Tanaman Pangan (Disnaktan) Kota Tarakan, Elang Buana, alasan dua produk unggulan ini dipamerkan, karena produk pertanian dan perikanan ini mempunyai kelebihan tersendiri dan sudah dikenal di beberapa daerah di Indonesia.

"Kalau untuk kepiting soka kita tahu, di Tarakan ini paling terkenal dengan masakan lautnya, apalagi yang namanya kepiting soka.Begitu pula dengan singkong gajah beberapa petani kita telah mengembangkan singkong gajah di beberapa tempatnya, misalnya di daerah Juwata," ucapnya.

Dalam pameran ini Kota Tarakan mendapatkan tiga stand yang menawarkan berbagai produk unggulan. mulai dari kepiting soka, singkong gajah, ikan kering tipis, teknologi tepat guna, hingga produk pertanian dan perikanan lainnya.

Khusus untuk stand kepiting soka akan ada penyajiannya. Artinya setiap pengunjung yang datang ke stand kepiting soka dapat mencicipi hidangan kepiting soka yang telah dimasak. Dengan penyajian ini pengunjung dapat merasakan kenikmatan kepiting soka dari Kota Tarakan.

Sumber : http://kaltim.tribunnews.com/2011/06/17/kota-tarakan-tawarkan-kepiting-soka-dan-singkong-gajah

Rabu, 04 April 2012

Durian Jadi Topik 'Terhangat' Para Pemimpin ASEAN

foto

ANTARA/Basri Marzuki


Durian Jadi Topik 'Terhangat' Para Pemimpin ASEAN

TEMPO.CO , Phnom Penh - Apa topik yang pertama dibahas para pemimpin negara-negara saat berlangsung Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Phnom Penh, Kamboja? Pemilu di Myanmar? Pengeboman di Thailand Selatan? Bukan.


"Jawabannya adalah durian," kata Wakil Presiden Boediono seperti dilaporkan wartawan Tempo dari Kamboja, Burhan Sholihin, Selasa 3 April 2012. Ini bukan sembarang durian. Ini durian Kamboja. "Rasanya enak,"

Menurut Boediono, pembicaraan tentang raja buah itu terjadi saat para pemimpin negara-negara berkumpul di lounge gedung Peace Palace, menunggu pembukaan KTT ASEAN ke-20. Semua pemimpin, kata Boediono lagi, membicarakan durian Kamboja yang dihidangkan oleh Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dalam jamuan makan malam sehari sebelumnya

"Kok enak, kata para pemimpin negara," ujar Boediono. Mantan gubernur Bank Indonesia itu mengaku heran karena untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya bertemu durian disajikan sebagai buah penutup makan.

"Enak juga durian Kamboja. Juga mangga kamboja," kata Boediono. Durian di Negeri Khmer ini bentuk dan rasanya lebih mirip durian Indonesia ketimbang durian montong Thailand. Daging buahnya berwarna kekuningan.

Selama di Phnom Penh, Boediono mengaku kerasan. Soalnya, penduduknya mirp dengan Indonesia. Makanannya pun mirip dengan masakan Thailand. Bedanya, masakan Kamboja tak banyak menggunakan cabe dan tidak pedas. Meski Ibu Kota, Pnom Penh juga tidak terlalu ramai. Jumlah penduduknya setara dengan kota-kota sedang di Indonesia.

Dia lalu bercerita, masyarakat Phnom Penh bisa menerima harga bahan bakar minyak yang lebih tinggi ketimbang Indonesia. Di Kamboja BBM dijual dengan harga 5.300 sampai 5.900 Riel. Itu setara dengan US$ 1,25 atau Rp 11.500. "Silakan diartikan sendiri hahaha," kata Boediono tertawa. Pendapatan per kapita penduduk Kamboja sebenarnya lebih rendah ketimbang Indonesia. Pendapatan mereka sekitar US$ 2.189. Adapun pendapatan per kapita penduduk Indonesia US$ 3.979.

Burhan Sholihin (Phnom Penh)

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2012/04/03/118394544/p-Durian-Jadi-Topik-Terhangat-Para-Pemimpin-ASEAN

Senin, 02 April 2012

Bupati Nunukan: Jangan Jual Padi ke Malaysia


Bupati_Nunukan_tatap_muka_NIKO_RURU.jpg
Bupati Nunukan Basri, Sabtu (10/12/2011) bertatap muka dengan petani
di Kampung Enrekang, Desa Binalawan, Kecamatan Sebatik Barat


Bupati Nunukan: Jangan Jual Padi ke Malaysia


Bupati Nunukan Basri meminta petani di Kecamatan Sebatik Barat tidak menjual produksi padinya ke Tawau, Malaysia.

"Jangan jual padi ke Malaysia. Prioritaskan jual ke Pulau Nunukan dulu," ujarnya, Sabtu (10/12/2011) saat bertatap muka dengan warga di Kecamatan Sebatik Barat.

Basri mengatakan, selama ini warga khususnya di Pulau Nunukan lebih banyak mendapatkan suplai beras dari Pare Pare Sulawesi Selatan. "Coba nanti saya coba, kapal dari Pare Pare jangan mengangkut beras ke Nunukan. Kalangkabut mereka, pasti dia ambil dari Sebatik," ujarnya.

Basri mengakui, selama ini terjadi kecenderungan petani mulai meninggalkan sawah. Mereka beralih ke rumput laut. "Di Nunukan sawah ditinggal, turun ke laut sampai laut saja habis dikaveling untuk rumput laut," katanya.

Selain itu ada kecenderungan anak-anak muda tidak lagi mau turun ke sawah. Mereka lebih memilih menjadi tenaga kontrak di kantor pemerintah dan merasa gengsi turun ke sawah. "Dia takut tangannya rusak, tangannya kotor. Padahal kalau bukan kita mengubah diri kita sendiri tidak ada yang berubah," ujarnya.

Ia mengharapkan sawah yang ada saat ini terus dipelihara. Jangan sawah ditanami tanaman lain yang menyebabkan produksi padi semakin berkurang.
"Memang petani sawah tidak ada yang kaya karena saya mantan petani juga.Tapi saya minta sawah yang ada supaya dipelihara. Sapi dikumpulkan nanti kotorannya minimal jadi pupuk. Kemudian dedak jangan dibakar tetapi dibusukkan dibuat kompos," ujarnya.

Selama ini untuk mendukung usaha para petani, Pemkab Nunukan terus memberikan perhatian salah satunya dengan bantuan hand tractor. Meskipun jumlahnya masih sangat terbatas.

Ia berjanji secara bertahap akan terus menambah bantuan peralatan pertanian.
"Makanya saya bilang sama pak camat harus didata apa yang menjadi kebutuhan. Ada juga yang kita berikan tetapi tidak dipakai. Makanya ini perlunya kita komunikasi yang baik," katanya. Ia meminta bantuan ini benar-benar dirawat agar tetap bisa digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Penulis : Niko Ruru
Editor : Fransina

Sumber : http://kaltim.tribunnews.com/2011/12/10/bupati-nunukan-jangan-jual-padi-ke-malaysia

ANALISa Rantai pasok Agribisnis Hortikultura Wilayah Perbatasan Indonesia dan Malaysia di Nunukan-Tawau











ANALISa Rantai pasok Agribisnis Hortikultura Wilayah Perbatasan Indonesia dan Malaysia di Nunukan-Tawau

Kuntoro Boga Andri1*

ABSTRACT

Wilayah perbatasan Kabupten Nunukan dengan Kota Tawau, negara bagian Sabah, Malaysia mempunyai potensi yang besar untuk dapat dikembangkan sebagai sentra produksi dan pemasok produk pertanian bagi kawasan ini. Sejauh ini, struktur ekonomi Nunukan masih didominasi oleh sumbangan sektor pertanian, hasil hutan dan perdagangan lintas batas melalui Pulau Sebatik.

P
engkajian ini bertujuan untuk:
(a) Mengetahui komoditas hortikultura potensial, struktur pasar dan pelaku pasar serta peranannya di kawasan ini,
(b) Identifikasi mekanisme perdagangan lintas batas Indonesia-Malaysia pada komoditas hortikultura di kawasan
(c) Menentukan strategi dan kebijakan perbaikan tataniaga yang berjalan.

Data primer diperoleh melalui
metode RRA dan FGD dengan para pelaku agribisnis dan pedagang pelintas batas di kedua wilayah. Diskusi mendalam (deep interview) dilakukan dengan petani, pedagang dan pelaku agribisnis hortikultura di beberapa lokasi wilayah perbatasan Nunukan dan Tawau. Data sekunder berupa informasi statistik wilayah perbatasan diperoleh dari dokumen, buku laporan tahunan, dan publikasi resmi Pemerintah Daerah Kabupaten Nunukan dan Propinsi Kalimantan Timur.

Pengkajian dilakukan pada tahun 2008 dengan melakukan survey intensif selama 3 minggu dalam bulan Juli, September dan November dikedua wilayah (Nunukan dan Tawau). Hasil pengkakajian memperlihatkan terbatasnya dukungan prasarana dan sarana transportasi dan telekomunikasi menyebabkan aksesibilitas aliran produk komoditas terhadap pasar kawasan perbatasan sangat terbatas. Keterbatasan dukungan kelembagaan agribisnis menyebabkan pengelolaan pembangunan dikawasan ini mengalami hambatan.

Selain itu sistem kelembagaan pasar juga belum berkembang dengan baik menyebabkan banyaknya kehilangan potensi ekonomi bagi daerah perbatasan. Untuk meningkatkan efisiensi yang menguntungkan sistem ekonomi secara keseluruhan, diperlukan sinergi antara produsen dengan konsumen serta industri pengolahan di kawasan ini untuk memperoleh tata niaga yang efektif.

Perlu pendekatan perbaikan tataniaga yang dapat meningkatkan posisi tawar petani sebagai produsen. Selain itu strategi dan model pengembangan rantai pasok yang mengurangi tingginya biaya transaksi dalam pemasaran produk hortikultura di kawasan ini sangatlah diperlukan.

1Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur (Email : kuntoro@gmail.com)

Sumber : http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pertanian%20nunukan&source=web&cd=23&ved=0CC4QFjACOBQ&url=http%3A%2F%2Ffaperta.ugm.ac.id%2Fsemnassosek%2Fform%2Ffiles%2FAbstrak_-_Seminar_Nasional_Sosek_Faperta_UGM_-_Kuntoro_Boga_Andri_(1).docx&ei=_GB5T7XaK8esrAfD-OW0DQ&usg=AFQjCNG4mc_hnst_xnsy48waOoJc6O2lUw&cad=rja