..Ibadah qurban itu berarti perlu disiapkan dengan beternak yg baik !

Minggu, 01 Juli 2012

MEMBANGUN PERTANIAN SECARA LEBIH CEPAT DAN TEPAT




















RANCANGAN SISTEM PEMBANGUNAN PERTANIAN SECARA TERPADU DI KRAYAN

Oleh : Dian Kusumanto
(Sekretaris Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Nunukan)



Latar Belakang
-     Ciri khas pertanian organic untuk wilayah Krayan dan sekitarnya di dataran tinggi Borneo sudah ditetapkan dalam konvensi Hearth of Borneo
-     Ada kombinasi yang cukup harmonis antara persawahan dan ternak kerbau dalam system budidaya padi sawah ekositem basah di Krayan
-     Pola keterpaduan antara ternak kerbau dan budidaya Padi sawah sudah menjadi warisan leluhur yang terus dipertahankan

Permasalahan
-     Tuntutan perubahan terus terjadi akibat terbukanya akses baik keluar dan masuk ke Krayan
-     Pola kehidupan modern dan tuntutan pola kehidupan masyarakat mulai berubah dan semakin beragam, yang menyebabkan kebutuhan hidup meningkat sementara system dan pola usaha tani yang menjadi andalan masyarakat cenderung tetap atau bahkan semakin menurun.
-     Lapangan usaha pertanian cenderung mulai ditinggalkan atau kurang menarik bagi generasi muda, menyebabkan regenerasi pekerja usaha tani dalam masa yang akan datang menjadi terancam kelangsungannya.
-     Luas Areal Tanam Padi ada kecenderungan menurun karena beberapa sebab, antara lain pertama karena menurunnya luas tanam, meningkatnya lahan yang tidak produktif atau ditinggalkan karena regenerasi pekerjaan usaha tani kurang diminati para pemuda. 
-     Dalam system usaha tani di Krayan ternak Kerbau di samping turut menjaga keseimbangan system budidaya Padi sawah, di sisi lain ternyata menjadi factor penghambat dalam system usaha lahan kering masyarakat.  Kerbau malah cenderung menjadi ‘hama besar’ yang menyebabkan komoditas lainnya tidak berkembang optimal, sehingga praktis masyarakat petani ‘hanya’ mengandalkan pada usaha tani Padi sawah dan ternak Kerbau sebagai sumber pendapatan tani mereka.
-     Jumlah populasi Kerbau semakin menurun dari tahun ke tahun yang disebabkan karena penjualan Kerbau ke Luar Negeri, penyembelihan untuk berbagai kepentingan konsumsi, yang tidak dimbangi dengan produktifitas. Pada 1999 populasi kerbau masih sekitar 9.000 ekor dan berdasarkan hasil pendataan ternak 2011 yang dilaksanakan BPS, populasi ternak kerbau di Kecamatan Krayan sekitar 2.987 ekor.
-     Menurunnya populasi Kerbau tentu akan mengganggu kelangsungan sistem pertanian Padi Sawah dan  dikhawatirkan produksi Padi sawah akan semakin menurun  pada masa yang akan  datang.

Langkah yang perlu dilakukan
-     Perlu dilakukan upaya-upaya untuk tetap mempertahankan sumber pendapatan masyarakat dari usaha budidaya Padi sawah dan ternak Kerbau di Krayan.
-     Perlu pengembangan system yang lebih produktif sehingga akan meningkatkan produktifitas Padi sawah dan ternak Kerbau serta berkembangnya system usaha tani lahan kering di Krayan sebagai upaya penganeka ragaman sumber dan peningkatan pendapatan usaha tani dengan ekosistem yang tetap terjaga kelangsungannya.
-     Perlu dicarikan pola usaha tani yang beragam dan menarik bagi generasi muda sehingga bisa menjadi andalan sumber penghasilan yang tidak kalah dengan bidang usaha di luar usaha tani yang selama ini menjadi daya tarik mereka.  Usaha tani yang akan dikembangkan adalah yang mempunyai nilai ekonomi tinggi sehingga masih bisa toleran dengan biaya transportasi hasil produksi maupun biaya pemasaran produk.
-     Perlu mengadopsi perkembangan teknologi yang terbaru namun tetap dalam prinsip-prinsip pertanian organic sesuai semangat konvensi ‘hearth of Borneo’.
-     Perlu meningkatkan mutu, nilai, ‘branding’ produk-produk pertanian sehingga mendongkrak nilai tambah dan nilai tukar petani serta hasil usaha taninya.

Beberapa alternative upaya praktis pembangunan pertanian secara terpadu :
1.    Mencegah berkurangnya populasi Kerbau sekaligus meningkatkan produktifitas Kerbau dengan beberapa cara sebagai berikut :
a.    Penyediaan dana untuk pembelian Kerbau yang akan dijual ke luar negeri
b.    Mencegah pembenyembelihan Kerbau produktif untuk kepentingan konsumsi masyarakat dan menggantinya dengan jenis ternak yang lainnya seperti Sapi, Payau, Babi, Ayam, Itik, dll.
c.    Menyediakan dana kredit untuk pembelian Kerbau dari Luar negeri.
d.    Ada insentive bagi peternak Kerbau agar masyarakat termotivasi untuk turut mengembangkan populasi Kerbau di Krayan.

2.    Mencegah potensi Kerbau sebagai ‘hama besar’ dan sekaligus meningkatkan daya dukung Kerbau dalam usaha tani Padi sawah dan usaha tani lahan kering dengan beberapa cara sebagai berikut :
a.    Melakukan pola ‘kandangisasi’ Kerbau di dekat areal persawahan petani.  Kandangisasi memang belum lazim pada system budaya dan budidaya masyarakat di Krayan, oleh karena itu perlu dibangun model-model tepat guna, tepat cara, tepat skala, tepat pola, tepat metode kandangisasi serta sumber pakan pendukung, kesesuaian dan kemudahan dalam aplikasinya bagi petani.
b.    Mengelola limbah ternak Kerbau untuk sumber pupuk organic dengan teknoogi yang murah dan tepat guna bagi lahan sawah dan lahan kering di Krayan
c.    Membuat konvensi dalam pengelolaan budidaya Kerbau yang lebih produktif dan lebih optimal dalam system usaha pertanian di Krayan dengan ‘Branding’ yang ‘acceptable’, ‘proudly’ dan ‘marketable’.

3.    Mencegah penurunan genetic sekaligus meningkatkan produktifitas Kerbau Krayan dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
a.    Pengembangan program kandangisasi
b.    Pengembangan kegiatan Inseminasi Buatan (IB)
c.    Melakukan pendidikan dan pelatihan teknis IB dan teknis peternakan lainnya terhadap calon tenaga IB maupun tenaga teknis peternakan yang ada di Krayan

4.    Mengembangkan Kandangisasi Kerbau dan penyediaan pakan ternak Kerbau di Krayan :
a.    Memanfatkan dan mengelola jerami sebagai sumber pakan Kerbau dengan system kandang
b.    Mengembangkan budidaya Azolla sebagai sumber bahan pakan alternative bagi ternak Kerbau di areal persawahan Padi sawah Krayan
c.    Mengembangkan ‘Kandang Ngebrok’ untuk ternak Kerbau Krayan.
d.    Membuat suatu model kandangisasi yang terintegrasi dengan system persawahan, system pengolahan pupuk organic baik padat maupun pupuk cair, pestisida nabati dari Urine Kerbau dan lain-lain.

5.    Mencegah penurunan produktifitas Padi sawah sekaligus meningkatkan produktifitas lahan Padi sawah dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
a.    Pengembangan penangkaran Padi sawah mandiri pada tingkat kelompok tani
b.    Pengembangan pola pertanian organic pada Padi sawah dengan teknologi tepat guna bagi masyarakat petani di Krayan
c.    Penggunaan pupuk organic hasil dari pengelolaan limbah ternak untuk budidaya Padi sawah maupun usaha tani lahan kering.
d.    Memperbaiki tata pengairan sawah dan pola budidaya Padi SRI Organik.

6.    Meningkatkan nilai tambah dan nilai tukar hasil produksi petani
a.    Meningkatkan upaya pengolahan paska panen padi yang lebih bermutu
b.    Melakukan ‘branding’ untuk meningkatkan nilai jual, hal ini karena Beras Adan Krayan memang sudah dikenal melebih Beras Anti Diabetes bermerk Taj Mahal dari India, dan lain-lain.
c.    Perbaikan system pengemasan beras yang menarik dan berkelas dengan perlindungan merek dan paten atas produk dari Beras Adan ini.
d.    Melakukan manajemen tata niaga beras Krayan yang lebih berdaya saing dan daya jual yang kuat baik untuk pasar di luar negeri (Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam dan lain-lain) maupun untuk pasar dalam negeri Indonesia.
e.    Menumbuhkan kelembagaan pemasaran beras Krayan yang bisa mempersatukan pola pemasaran beras yang sendiri-sendiri, tidak tertata, lemah dalam bargaining harga dengan pihak pembeli di luar negeri (Ba’kalalan).  Bentuk yang sudah dicoba adalah melalui Gapoktan-gapoktan dengan beberapa program yang diarahkan, seperti LDPM dari Badan Ketahanan Pangan dan PUAP dari Badan Pengembangan SDM Kementrian Pertanian.  Untuk selanjutnya Koperasi Beras Krayan bisa dikembangkan untuk mengawal sehinga nilai harga beras Krayan di luar negeri menjadi lebih pantas (tinggi) dan memiliki branding yang kuat sehingga daya saingnya dengan produk sejenis juga semakin kuat.

7.    Diversifikasi usaha pertanian di Krayan
a.    Pengembangan komoditi usaha pertanian lahan kering yang cocok dengan kondisi social, ekonomi, geografis dan budaya di Krayan
b.    Mengembangan komoditi yang bernilai tinggi sehingga bisa mereduksi beban biaya angkutan dan pemasaran yang relative sangat mahal.  Komoditi yang disarankan seperti Vanili, Nilam, Cengkeh,
c.    Perlu dikembangkan komoditi yang bisa mensubstitusi pangan masyarakat maupun pakan bagi ternak masyarakat (yang selama ini menjadi beban padi atau beras).   Sumber-sumber bahan pangan yang sekaligus bisa menjadi sumber pakan bagi sebagian besar ternak adalah Singkong, Tebu, Ubi-ubian lainnya, maupun sumber-sumber bahan gula lainnya.
d.    Perlu mengurangi ketergantungan dari pasokan dari luar negeri atau dari luar Krayan terhadap komoditi-komoditi yang sebenarnya bisa dihasilkan di Krayan sendiri.

(Ditulis untuk bahan pemikiran tambahan pada Workshop Forum Profesor Riset di Kabupaten Nunukan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar