..Ibadah qurban itu berarti perlu disiapkan dengan beternak yg baik !

Jumat, 02 Januari 2015

DENDENG DAUN SINGKONG

Dendeng Daun Singkong

daun singkong
Dendeng menjadi ikon kuliner bangsa Indonesia. Dendeng pernah dinobatkan sebagai salah satu makanan terfavorit para wisatawan dunia. Pada umumnya, bahan utama pembuatan dendeng adalah irisan daging sapi yang diawetkan dengan cara dikeringkan atau dijemur di bawah terik matahari. Agar hasilnya tambah lezat, dendeng dibumbui dengan asam, garam, dan bumbu rempah-rempah. Untuk menyantap lezatnya menu sajian dendeng, maka harus ditebus dengan harga yang cukup mahal, apa lagi ketika harga daging sedang tinggi. Oleh karena itu, beberapa orang yang kreatif mencoba memanfaatkan kepopuleran masakan dendeng dengan menciptakan menu olahan dendeng dari bahan lain, salah satunya adalah daun singkong.

Dendeng daun singkong merupakan masakan inovatif yang memanfaatkan daun singkong sebagai pengganti daging. Sajian kreatif tersebut dapat menjadi jembatan bagi orang-orang yang ingin menikmati rasa dendeng, namun terkendala oleh larangan mengkonsumsi daging karena kolesterol atau karena harga yang tidak terjangkau. Oleh karena itu, membuat dendeng berbahan daun ubi singkong bisa menjadi salah satu alternatif usaha skala rumah tangga atau pun menu pelengkap pada usaha rumah makan. Bagaimanakah cara membuat dendeng daun singkong? Inilah resep sederhananya!
dendeng daun singkong
Cara Membuat Dendeng Daun Singkong
Alat-alat yang dibutuhkan yaitu kompor, panci, pisau, pengukus, ulekan, penumbuk, dan lain-lain.
Bahan-bahan yang dibutuhkan terdiri dari: 
  • Daun singkong muda 500gr
  • Telur ayam 3 butir
  • Tepung tapioka 100gr
  • Tepung kanji 5 sendok makan
  • Bumbu-bumbu yang terdiri atas: cabe 5-10 biji, daun jeruk 5 lembar, ketumbar 1 sdt, kencur 1 ruas, bawang merah 5 siung, gula pasir 4 sdm, bawang putih 7 siung, garam 1 sdm, dan penyedap rasa sapi secukupnya.

Proses pembuatan: 
Pertama daun singkong direbus di dalam panci agar menjadi empuk. Kemudian daun singkong tersebut ditiriskan lalu diiris tipis-tipis. Tumbuk atau giling (blender) semua bumbu. Daun singkong yang telah diiris kemudian dicampur bersama telor, tepung-tepung, bumbu, dan sedikit air. Aduk hingga adonan tercampur satu dan merata. Langkah berikutnya adalah memasukkan adonan ke dalam kantong plastik yang kemudian dikukus selama 30-40 menit. Setelah proses pengukusan, angkat dan dinginkan adonan, kemudian selanjutnya diiris tipis-tipis menyerupai daging dendeng. Langkah terakhir adalah proses pengeringan, yaitu dengan cara dijemur sekitar 3-4 hari. Dendeng pun siap untuk digoreng dan dikemas dalam plastik kedap udara.

Sumber : http://www.kerjausaha.com/2013/06/usaha-kecil-dendeng-daun-singkong.html

Kamis, 01 Januari 2015

Swasembada Pangan 3 Tahun Harus Tercapai ! Iya kah ?

Selasa, 30 Desember 2014

Swasembada Pangan Masih Sebatas Impian?

Jakarta, (Antarariau.com)

Di awal masa pemerintahannya, Presiden RI Joko Widodo memprogramkan untuk meraih kembali swasembada pangan, yang dulu pernah dicapai pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto.
Bahkan, pemerintahan Jokowi-JK menargetkan akan mencapai swasembada pangan dalam waktu tiga tahun.

Sepertinya Presiden tidak ingin main-main dengan target swasembada pangan tersebut, terlebih lagi swasembada pangan merupakan manivestasi dari visi ketujuh pemerintah Jokowi-JK yang tertuang dalam Program Nawacita.

Salah satu yang tertuang dalam Nawacita tersebut, yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi nasional dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, salah satunya sektor pertanian melalui upaya membangun dan mewujudkan kedaulatan pangan.

Menurut Jokowi, Indonesia harus sudah bisa mandiri atau swasembada pangan dalam tiga tahun. "Tidak boleh ditawar," ujarnya.

Sejumlah komoditas pangan utama yang menjadi target swasembada, yakni padi, jagung, dan kedelai terjadi 1--3 tahun ke depan. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menuturkan bahwa pemerintah telah membuat target untuk masing-masing komoditas tersebut.

Untuk padi agar bisa mencapai swasembada, menurut dia, produksi harus mencapai 73 juta ton. "Insya Allah, pada tahun 2015, Departemen Pertanian menargetkan 73 juta ton dan jagung rencananya ditargetkan 20 juta ton pada tahun 2016," katanya.

Kendati demikian, untuk mencapai swasembada kedelai, Mentan mengakui hal itu agak berat. "Insya Allah tiga tahun baru kita mencapai swasembada (kedelai)," kata Amran di Kantor Wapres, Jakarta, Senin (15/12).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2013, disebutkan bahwa produksi padi sebesar 71,28 juta ton gabah kering giling (GKG) atau mengalami kenaikan sebesar 2,22 juta ton, atau sebesar 3,22 persen jika dibandingkan pada tahun 2012.

Sementara itu, untuk produksi padi pada tahun 2014 (ARAM I) diperkirakan sebesar 69,87 juta ton GKG atau mengalami penurunan sebesar 1,41 juta ton atau 1,98 persen dibandingkan pada tahun 2013.

Penurunan produksi diperkirakan terjadi karena penurunan luas panen seluas 265.310 hektare atau sekitar 1,92 persen dan produktivitas sebesar 0,03 kuintal per hektare atau sebesar 0,06 persen.

Melihat target yang tidak ringan tersebut, pemerintah pun segera melakukan berbagai langkah, antara lain menyelesaikan berbagai kendala yang dinilai akan menghambat pencapaian swasembada pangan dalam tiga tahun mendatang.

Berbagai persoalan mendasar tersebut, menurut Mentan Amran Sulaiman, yakni rusaknya saluran irigasi hampir di seluruh wilayah Indonesia, penyaluran pupuk dan benih, ketersediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta keberadaan penyuluh pertanian yang dinilai masih sangat minim.

Terkait dengan rusaknya saluran irigasi, Amran mengatakan bahwa kerusakan pada saluran irigasi, baik primer, sekunder, maupun tersier tersebut, kurang lebih 52 persen saluran irigasi yang ada di Indonesia. Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini, belum pernah ada perbaikan.

"Presiden telah mengeluarkan Perpres Nomor 172 Tahun 2014, dan saluran irigasi pada tahun 2015 akan kami perbaiki, kurang lebih untuk satu juta hektare di seluruh Indonesia. Kami akan perbaiki secara bertahap," ujarnya.

Mengenai persoalan pupuk, Mentan mengatakan bahwa hal itu terkait dengan distribusi di lapangan dan terkadang tidak cukup. Sementara itu, serapan benih pada tahun 2014 hanya 20 persen sehingga membuat produksi petani mengalami penurunan.

Terkait dengan permasalahan tersebut, Kementerian Pertanian akan memberikan pupuk gratis sebanyak 57.000 ton, dan bantuan benih gratis untuk lima juta hektare sawah di seluruh Indonesia.

Saat ini, pemerintah telah menyiapkan dana sebesar Rp28 triliun untuk subsidi pupuk senilai dengan 9,5 juta ton pupuk dan Rp2 triliun pada benih. Bantuan dana subsidi ini dimaksudkan untuk menggenjot terwujudnya swasembada pangan di Indonesia.

Arman mengatakan bahwa alokasi anggaran tersebut sudah masuk dalam APBN Perubahan 2015 yang akan diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.

Untuk alat pertanian, Kementerian Pertanian berencana memberikan sebanyak 61.000 unit.

Terkait dengan kekurangan penyuluh sebanyak 21.000 orang, Mentan telah melakukan MoU dengan TNI. Dalam hal ini akan ada kerja sama dengan Babinsa seluruh Indonesia yang saat ini jumlahnya sekitar 52.000 orang dan juga dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

Langkah lain yang telah diambil Kementerian Pertanian adalah dengan direalisasikannya dana kontingensi kurang lebih Rp600 miliar. Dana tersebut disalurkan menjadi traktor untuk para petani di Indonesia.

"Traktornya telah diterima 100 persen di 14 provinsi. Selain itu, kami melakukan refocusing anggaran yang rencananya diperuntukkan bagi bangunan pada tahun 2015. Akan tetapi, kami alihkan untuk pertanian sebesar Rp4,1 triliun, sementara pada RAPBN-P 2015 kami usulkan Rp20 triliun," ujar Amran.

Sementara itu, khusus padi, Mentan menyatakan untuk mencapai swasembada pangan dalam waktu tiga tahun mendatang, pihaknya mendorong peningkatan produksi sebesar 11 juta ton pada tahun 2015 dari wilayah-wilayah penghasil padi di Indonesia.

Ia menyatakan para gubernur telah mendukung rencana swasembada. Mereka berjanji akan meningkatkan produksi dengan total keseluruhan 11 juta ton. Beberapa wilayah yang akan meningkatkan produksi padi, antara lain Jawa barat dan Jawa Timur yang menyanggupi kenaikan sebesar dua juta ton, sementara untuk Jawa Tengah sebanyak 1,5 juta ton, serta Sumatera Barat dan Sumatera Utara masing-masing satu juta ton.

"Seluruhnya 11 juta ton. Jika separuhnya terpenuhi, swasembada bisa tercapai," ujar Amran.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan para insinyur Indonesia turun ke lapangan untuk memberikan bimbingan kepada petani. Menurut dia, untuk mencapai target swasembada pangan dalam tiga tahun, para insinyur harus proaktif memberikan penyuluhan kepada petani.

"Insinyur-insinyur pertanian kita jangan di belakang meja, harus kembali ke lapangan, berikan bimbingan kepada petani-petani kita," ujarnya saat acara "Penghargaan Adikarya Pangan Nusantara 2014" di Kecamatan Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Jumat (26/12).

Selain itu, Jokowi meminta para kepala daerah dan menteri pembantunya untuk bekerja keras mewujudkan swasembada pangan ini. Jika tidak, dia mengancam untuk tidak segan-segan memecatnya.


Penunjukan Langsung

Sementara itu, pemerintah mengeluarkan surat edaran agar penunjukan pengadaan bibit dan perbaikan tersier atau perbaikan saluran irigasi takperlu lagi melalui sistem tender. Surat edaran itu untuk menunjang swasembada pangan yang direncanakan pemerintah terwujud satu atau dua tahun ke depan.

Surat edaran itu ditandatangani oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljo, Kepala Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan Mardiasmo, Wakapolri Komjen Pol. Badrodin Haiti, dan Jaksa Agung H.M. Prasetyo.

Bila dilakukan tender, menurut Jusuf Kalla, memakan waktu 45 hari. Selain itu, dari pengalaman dua tahun lalu, proses tender melahirkan mafia pangan dan menghambat swasembada pangan.

Wapres juga menuturkan bahwa keterlibatan Polri dan Kejaksaan Agung guna memberi kepastian payung hukum bahwa penunjukan langsung tak menyalahi aturan.

Untuk penyaluran pupuk bersubsidi ada tiga BUMN yang sudah ditunjuk pemerintah, yaitu PT Sang Hyang Seri, PT Pupuk, dan PT Pertani.

Terkait dengan harga bibit, karena penunjukan langsung, pemerintah yang menentukan harga tersebut. Pihak yang berwenang menentukan adalah Kementerian Pertanian bersama Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan. Mereka mengaku telah terjun ke 13 provinsi.

"Harga disesuaikan di wilayah masing-masing," kata Mentan.


Keterbatasan Lahan

Pengamat pertanian Khudori menilai Indonesia sampai saat ini masih sulit untuk mencapai swasembada pangan. Hal itu disebabkan relatif banyaknya perang komoditas di lahan yang terbatas. Saat ini terdapat 18 komoditas nasional yang terus digenjot produktivitasnya oleh pemerintah, sedangkan lahan pertanian tidak mengalami penambahan.

Menurut dia, pemerintah harus lebih peka lagi terhadap upaya-upaya pencapaian swasembada pangan itu sendiri. Pasalnya, kemampuan pemerintah dalam membuka lahan baru di Indonesia untuk saat ini sangat terbatas.

Selain itu, mengenai infrastruktur seperti irigasi juga menyebabkan Indonesia sulit capai swasembada pangan.

"Irigasi yang menjamin ketersediaan air apakah pada saat kemarau maupun hujan. Kalau hujan, petani tetap bisa tanam. Akan tetapi, kan yang terjadi kan dua-duanya menjadi masalah," katanya.

Ketua Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir memandang perlu peraturan untuk meredam alih fungsi lahan pertanian. Ia menceritakan lahan produktif di Jawa yang kian menyusut. Sekarang ini luasnya sekitar 3,5 juta hektare karena berkurang 600.000 hektare dibandingkan tahun lalu.

"Di Jawa, alih fungsi lahan paling banyak terjadi di Jawa Barat. Kebanyakan alih fungsi lahan pertanian ini digunakan untuk perumahan," katanya.

Menteri Pertanian Kabinet Indonesia Bersatu II Suswono menyebutkan ada beberapa prasyarat yang memang harus dipenuhi untuk bisa mencapai swasembada. Pertama, ketersediaan lahan, bahwa untuk menambah produksi untuk tebu saja misalnya untuk swasembada gula paling tidak minimal 350.000 hektare, untuk kedelai paling tidak minimal 500.000 hektare.

Direktur lembaga kajian ekonomi, INDEF, Enny Sri Hartati berpendapat bahwa lemahnya koordinasi antarkementerian dan lembaga dalam pemerintahan saat ini mengakibatkan tidak tercapainya swasembada selama ini.

Kementerian Pertanian, Badan Pertanahan Nasional (BPN), dan lembaga terkait lainnya, kata dia, harus punya kemauan politik meningkatkan pertanian di dalam negeri. Ia mengingatkan, selain mampu menjaga ketahanan pangan, sektor pertanian yang dikelola dengan baik akan menciptakan lapangan kerja, menekan angka kemiskinan hingga pada akhirnya mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

"Memang betapa mahalnya koordiansi yang ada di negara yang namanya NKRI walaupun di sana ada kebijakan otonomi daerah, bahkan antarsektor mestinya enggak ada egosektoral dan egoregional. Nah, ini yang harus didesain menyelesaikan persoalan itu," ujar Enny.

Sementara itu, Sekjen Petani Nasdem Syaiful Bahri menyatakan minimnya akses ini adalah problem serius di dalam isu pertanian. Kepemilikan lahan yang hanya 0,25 hektare/KK Petani dari 45 juta KK petani, dari total 6.000.000 hektare lahan pertanian.

Menurut dia, pertanian modern bukan berarti menggantikan pertanian rakyat dengan "rice estate" atau pembukaan lahan secara besar-besaran untuk ditanam satu macam komoditas, dalam hal ini padi.

"Lebih baik akses tanah-tanah telantar yang dimiliki oleh negara diberikan kepada petani untuk menggarap," tuturnya.

Target pemerintahan presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono untuk mencapai swasembada pangan pada tahun 2014, ternyata tidak terwujud. Kini, pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla mencanangkan kembali program tersebut sebagai agenda besar.

Akankah pemerintahan kali ini mampu mewujudkannya dalam tiga tahun ke depan sesuai dengan targetnya, atau untuk kesekian kalinya swasembada pangan tetap sebatas mimpi bangsa Indonesia.

Sumber berita: www.antarariau.com

Sumber : http://www.tepungmocaf.com/2014/12/swasembada-pangan-masih-sebatas-impian.html?m=1



Senin, 29 Desember 2014

Singkong, makanan ajaib untuk obat kanker

O







SINGKONG....
Obat Ajaib untuk Kanker

by Dr. Cynthia Jayasuriya

Ini pengalaman saya sendiri, sembuh dari kanker dengan singkong. Semoga pengalaman ini bermanfaat untuk banyak orang.

Saya mengidap kanker kandung kemih stadium 2, setelah tujuh tahun mengidap kanker di urethra.

Ginjal, urethra dan sebagian dari kandung kemih sudah diangkat. Setelah itu saya menjalani radiasi di bagian perut.

Saya merasa sehat selama tujuh tahun. Saya menjalani pemeriksaan rutin setiap tahun.

Pada tahun ke tujuh itu, ada darah dalam urine saya yang ternyata disebabkan oleh berkembangnya lagi sel kanker di kandung kemih. Kanker baru itupun diangkat lagi. Tapi bagaimana kalau kanker itu berkembang lagi?

Dari internet saya menemukan informasi tentang penggunaan biji aprikot untuk pengobatan kanker di Australia dan Amerika tanpa kemoterapi.

Seorang dokter dari Inggris yang bertugas sebagai misionaris di sebuah tempat terpencil di Afganishtan menemukan kandungan vitamin B17 dalam biji aprikot.

Di Afganishtan, kekayaan seseorang diukur dari jumlah pohon aprikot yang dimilikinya. Mereka tidak hanya makan buah aprikot, tetapi juga bijinya. Biji aprikot memiliki bentuk almond dan rasanya pahit.

Orang-orang dari wilayah ini tidak ada yang menderita kanker.

Setelah diteliti, biji aprikot mengandung vitamin B17.

Pada saat sedang dirawat karena kanker, saya ingin tahu jenis makanan rutin kami yang mengandung vitamin B17. Ternyata vitamin B17 ada dalam singkong.

Jadi saya makan singkong 10 gram tiga kali sehari.

Setelah dikonsumsi selama 1 bulan, saya melakukan pemerikansaan kandung kemih yang dilakukan oleh doker yang menangani kanker saya. Beliau terkejut karena kandung kemih saya benar-benar bersih dan normal.

Selama makan singkong, saya merasa sangat fit dan orang lainpun melihat saya sangat sehat.

Setelah itu setiap tiga bulan saya periksa dan hasilnya tetap bersih. Sejak itu saya hanya makan singkong dan tidak menjalani pengobatan lainnya.

Secara sederhana, cara kerja singkong sbb:

Nama ilmiah vitamin B17 adalah Amygdaline. Sel kanker adalah sel yang belum matang dan memiliki enzym yang berbeda dengan enzym normal.

Ketika vitamin B17 digabungkan dengan enzyme sel normal, B17 akan terurai menjadi 3 jenis gula.

Tetapi ketika tergabung dengan enzyme sel kanker, B17 terurai menjadi 1 gula, 1 benzaldehida dan 1 asam hidrosianik. Asam hidrosianik inilah yang membunuh sel kaker secara lokal.

Biji aprikot dan singkong sama-sama mengandung vitamin B17.

Setelah saya menulis artikel sebelumnya pada tahun 2010, saya menerima beberapa informasi dari pasien kanker yang juga mengkonsumsi singkong.

Mr. Pereira, pria berusia 70 tahun, terdiagnosis mengidap kanker prostat. Istrinya yang seorang pensiunan di rumah sakit kebetulan membaca artikel saya.

Mereka tidak punya dana untuk biaya pengobatan kanker dan suntikan yang diberikan membuat Mr. Pereira sangat lemah.

Istrinya memberikan singkong kepada Mr. Pereira.

Setelah mengkonsumsi singkong selama seminggu, kondisinya mulai membaik. Dan setelah sebulan makan singkong setiap pagi, dia menjalani pemeriksaan.

Sejak terdiagnosis kanker, hasil test PSA nya 280 – 290. Tetapi setelah sebulan PSA nya menjadi 5.89!

Mereka mengunjungi saya untuk memperlihatkan hasil test sebelum dan sesudah mengkonsumsi singkong.

Mr. Pereira sudah tidak merasakan lagi gejala kanker.

Ada seorang pria lain yang mengidap kanker hati dan sudah menjalani operasi. Tapi dari hasil MRI scan berikutnya, ternyata masih ada sel kanker yang belum terangkat.

Dia mulai makan singkong setelah oprasi. Sebulan setelah makan singkong, dokter mengatakan tidak perlu dilakukan operasi lagi karena dari MRI scan, sel kanker itu tidak membesar.

Jadi kenapa tidak mencoba singkong?

Singakong murah, mudah didapat, mudah memasaknya dan sangat lezat.

Caranya sangat mudah:

1. Pilih singkong yang segar, yang tidak ada noda biru.

2. Rebus dan jangan tutup panci selama memasak. Ini akan membantu menguapkan kelebihan asam midrosianik.

3. Jangan mengkonsumsi makanan yang mengandung jahe/ginger, seperti biskuit jahe, ginger beer, ginger ale sedikitnya 8 jam setelah mengkonsumi singkong.

Semoga bermanfaat!

Sumber :  https://m.facebook.com/PengobatanSpiritualGratis/posts/171234749697972

Vitamin B17 sebagai Anti Kanker ada juga pada Singkong

Aprikot Kernel, dan Vitamin B17 Anti Kanker

Kategori: kesehatan
Selama bertahun-tahun telah ada sejumlah pesan campuran tentang kernel aprikot, yang mengandung vitamin B17 yang kontroversial (juga dikenal sebagai amygdalin), dan efektivitas mereka baik dalam mengobati kanker dan menjaga di teluk. Amygdalin adalah molekul dengan empat komponen - dua glukosa (gula), salah satu dari benzaldehida dan satu sianida. Tampaknya bahwa komponen sianida dari amygdalin adalah salah satu yang baik memiliki orang hitching sampai rok mereka dan berjalan ke bukit, atau sebaliknya, mencari cara untuk mengklaim itu sebagai milik mereka sendiri dan menggunakannya sebagai obat kanker potensial. Ia akan muncul bahwa ketika masyarakat makan kernel aprikot, dengan komponen sianida tak terelakkan, mungkin sangat berbahaya, tapi ketika para ilmuwan memodifikasi komponen sianida, dan menyebutnya pengobatan, mungkin cukup aman. Membingungkan bukan?
Pada 7 September 2000, kata ‘The Independent’ kita bahwa para ilmuwan di Imperial College London telah menemukan bahwa ‘peluru ajaib sianida bisa membunuh sel kanker’. Ternyata, Deonarain Dr dari Imperial College menyatakan bahwa untuk pertama kalinya mereka telah mampu menunjukkan bahwa mereka bisa membunuh sel kanker dengan menggunakan ‘pendekatan aktivasi prodrug’ (kata-katanya, bukan saya). Makalah ini menggambarkan ‘peluru ajaib’ sebagai koktail sianida yang berasal dari tanaman singkong. Mungkinkah ini karena, bersama dengan biji aprikot, pabrik singkong juga mengandung B17 (amygdalin)?
Namun, sebelum kita unhitch rok kami dan kembali dari bukit-bukit kita perlu tahu tentang ‘bahaya Fatal menyembuhkan kanker alternatif di web’ seperti yang dilaporkan dalam ‘The Sunday Times’ (3 Agustus 2004). Tampaknya ‘ribuan pasien kanker mempertaruhkan kesehatan mereka dengan mengikuti saran dari situs terapi alternatif mempromosikan obat palsu’. Edzard Ernst, yang rupanya profesor hanya negara pengobatan komplementer (jelas pekerjaan kesepian), menyerukan pemerintah untuk mengarahkan orang dari perawatan dipromosikan di interweb perkasa! Mengejutkan, para peneliti menemukan bahwa puluhan obat sedang dipromosikan sebagai menyembuhkan atau mencegah kanker - termasuk tulang rawan ikan hiu, enema kopi, mistletoe dan ‘ekstrak aprikot’ - hal menakutkan!
The Sunday Times melaporkan jelas menunjukkan kebodohan semata-mata mengambil kesehatan Anda ke tangan Anda sendiri. Dan seolah-olah peringatan keras mereka tidak cukup, pada tahun 2006 (11 April), BBC tua yang baik mari kita tahu ‘Watchdog memperingatkan lebih dari biji aprikot’. Apakah tidak ada lolos dari aprikot! BBC melaporkan bahwa Badan Standar Makanan khawatir bahwa sianida dapat beracun dalam dosis tinggi, dan bahwa kita harus mengkonsumsi tidak lebih dari dua kernel aprikot pahit per hari. Dalam laporan yang sama, Cancer Research UK (juga rupanya khawatir dengan aprikot) memperingatkan kita bahwa klaim pips aprikot menyembuhkan kanker tidak benar. Mereka menyatakan bahwa ‘jika hanya makan biji aprikot bisa menyembuhkan kanker, tidak ada yang akan lebih senang dari kita’. Mungkin mereka perlu untuk mendapatkan bersama Dr Deonarain dari Imperial College?
Dalam rangka untuk dapat membuat penilaian tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kita benar-benar harus melihat pada ilmu balik berita utama.
Teori ortodoks kanker
Karena kebanyakan dari kita sadar, pandangan konvensional kanker adalah bahwa benjolan / tumor / pertumbuhan ‘adalah kanker’ dan bahwa ini perlu diobati dengan operasi, kemoterapi, radioterapi, atau mungkin hormon atau imunoterapi. Idenya adalah bahwa dengan pertumbuhan menyusut, atau memotong keluar dari tubuh, kanker akan hilang. Ini kecuali jika kanker telah metastasised (menyebar ke daerah lain), dalam hal ini pengobatan lain dapat disarankan, atau pasien akan diberitahu bahwa kanker telah menyebar terlalu jauh dan tidak ada lagi yang bisa dilakukan.
Teori alternatif kanker
Pandangan alternatif adalah bahwa benjolan / tumor / pertumbuhan ‘bukan kanker’ tetapi adalah ‘gejala’ - tanda bahwa ada sesuatu yang salah dengan keseimbangan alami tubuh. Diperkirakan bahwa sekali masalah mendasar adalah dikoreksi pertumbuhan hanya akan diserap kembali ke dalam tubuh. Meskipun, disepakati bahwa jika pertumbuhan ini tidak diserap dan tak sedap dipandang, atau begitu besar untuk mengganggu fungsi normal dari suatu area tertentu dari tubuh, maka harus dihilangkan dengan operasi.
Pertumbuhan ini tidak dianggap ‘kanker murni’ - mungkin sesedikit 20% sebenarnya kanker, dengan 80% sisanya yang non-kanker. Disarankan bahwa daerah yang terserang kanker pertumbuhan ini lebih tahan terhadap radioterapi dari area non-kanker dan karena itu kurang mungkin dimusnahkan. Dengan kata lain, pertumbuhan dapat dikurangi, tetapi kanker masih mungkin tetap dan berpotensi dapat menyebar.
Jika kita melukai diri kita sendiri proses penyembuhan dimulai dan sel-sel yang terkena diganti dengan sel baru. Namun, diperkirakan bahwa kanker adalah proses penyembuhan yang belum dimatikan. Dengan kata lain, jika tubuh kekurangan sesuatu yang penting untuk homeostasis tidak dapat bekerja secara efektif dan proses penyembuhan hanya dapat terus terjadi. Hasilnya adalah bahwa tubuh akan mulai menyembuhkan, dan kemudian menyembuhkan lagi dan lagi sampai akhirnya muncul pertumbuhan.
Ada tampaknya dua baris pertahanan terhadap proses penyembuhan dan over-perkembangan kanker. Yang pertama melibatkan ‘enzim proteolitik (enzim yang dirancang untuk mencerna protein), yang diproduksi oleh pankreas. Kedua enzim proteolitik, tripsin dan chymotrypsin, melarutkan lapisan protein pelindung di sekitar sel kanker dan efektif ini memungkinkan sel darah putih tubuh darah untuk menyerang dan menghancurkan sel-sel kanker.
Garis pertahanan kedua melawan kanker adalah zat yang dikenal sebagai nitrilosides. (Diperkirakan bahwa ada lebih dari 800 makanan dalam keluarga nitriloside). Makanan ini mengandung vitamin B17 nitriloside (amygdalin) yang terdiri dari empat komponen - dua glukosa (gula), salah satu dari benzaldehida dan satu sianida. Dinding sel kanker memiliki enzim yang disebut beta-glikosidase (juga dikenal sebagai ‘enzim unlocking’). Ketika B17 (amygdalin) dan enzim datang ke dalam kontak membuka sel kanker dihancurkan. Sungguh menarik untuk dicatat bahwa beta-glikosidase ditemukan dalam sel kanker, dan tidak dengan sel lain dalam tubuh (karena itu, tidak ada sel lainnya dapat hancur). Sebagai penulis G. Edward Griffin poin di 2005 presentasinya - ‘ini adalah mekanisme alam yang menakjubkan yang tidak bisa disengaja’. (Lihat referensi dan link di bawah ini).
Oleh karena itu, dalam pandangan alternatif kanker, tidak ada ‘obat’ karena kanker sebenarnya semua bagian dari proses fisiologis alami tubuh. Hanya ketika sel-sel penyembuhan yang diizinkan untuk mengembangkan dicentang, dan garis pertahanan alami kita menurun, yang menjadi masalah. Beberapa orang bahkan merasa bahwa kita mungkin mengembangkan kanker lagi dan lagi selama hidup kita, namun pada kesempatan kebanyakan sistem pertahanan kita hanya berurusan dengan hal itu - kita tidak pernah tahu bahwa kita telah menderita kanker.
Teori ini tampaknya didukung oleh penjelasan yang menarik G. Edward Griffin ternak pada pertengahan-barat peternakan Amerika. Dalam sebuah wawancara untuk FHV (Sebuah organisasi kesehatan konsumen kebebasan Norwegia) Griffin menjelaskan sebagai berikut: Pada bagian pertengahan barat bersatu menyatakan petani menemukan bahwa, dalam bulan-bulan musim dingin, ternak mereka akan mengembangkan kanker di mulut mereka. Namun, karena salju mencair dan musim semi datang, ternak akan mulai makan rumput berdaun lebar (kaya B17) dan kanker hanya akan menghilang.

Sumber :http://nitaayu75.blogdetik.com/2011/09/21/aprikot-kernel-dan-vitamin-b17-anti-kanker/

Sabtu, 27 Desember 2014

Ternyata Obat Kanker itu adalah Air Liur dan Buah-buahan


"AIR LIUR + BUAH = OBAT KANKER" ------ HOAX????

"Dr. Stephen memperlakukan pasien sakit "Kanker" dengan cara yang "un-ortodoks" dan banyak pasien Sembuh!".


Ia percaya pada penyembuhan alami dalam tubuh terhadap penyakit.

"Obat" untuk 
"Kanker" sudah ditemukan!

Anda percaya?

Saya berdukacita bagi pasien 
"Kanker"yang meninggal di bawah perawatan konvensional.

Pasien 
"Kanker" tidak seharusnya mati !

Menurut DR. Shu, 3 generasi Sinshe di Taiwan:

Makan "buah" segar dan caranya!

Ini sangat informatif!
Umumnya makan "buah" berarti membeli "buah", cuci, memotongnya dan masukkan ke dalam mulut kita?

Tapi tidak semudah yang kita pikirkan! Pengetahuan penting bagaimana dan kapan harus makan "buah".

Cara yang tepat makan "buah";

+ TIDAK MAKAN "BUAH"-"BUAH"AN SETELAH ANDA MAKAN.

"BUAH" HARUS DIMAKAN PADA SAAT PERUT KOSONG.

"BUAH" ADALAH MAKANAN PALING PENTING!

BAHAYA! "Buah" bercampur dengan makanan lain akan membusuk dan menghasilkan gas sehingga lambung akan kembung!

Menurut penelitian Dr Herbert Shelton;

Jika Anda telah menguasai cara yang benar makan "buah"-"buah"an,

Anda memiliki:
umur panjang,
selalu sehat,
Penuh energi,
tubuh dan pikiran jadi nyaman dan berat badan normal.

Makan "buah" yang utuh segar dan bersih (Bukan "buah"/Juice kemasan kaleng/botol Plastik) lebih baik dari pada minum jus.

Tapi jika terpaksa minum jus, maka minumlah seteguk demi seteguk secara perlahan, karena Anda harus membiarkannya bercampur dengan "air liur" Anda sebelum menelannya.

MINUM AIR ES SETELAH MAKAN = "KANKER"!!

Air dingin akan membuat makanan yang berminyak menjadi solid (beku)!.

Hal ini akan menghambat proses pencernaan.

Ketika 'lumpur' tersebut bereaksi dengan asam, maka akan jadi lemak bertoksin (Racun) dan berbaris di dalam usus dan terserap dengan sangat cepat! Sehingga menyebabkan 
"Kanker"!

Cara Terbaik adalah;

* Minum air hangat setelah makan
* Makan "buah" segar saat perut kosong.

("Buah" + Air Liur Manusia = "Obat Kanker").

Analisis (Penolakan artikel di atas):
  1. "Buah" bercampur dengan makanan lain akan membusuk dan menghasilkan gas sehingga lambung akan kembung!"
    Gas dibuat oleh bakteri dalam perut dan usus. Bakteri ini mengurai serat dan unsur makanan yang tidak tercerna dari kebutuhan kita dan menggunakannya untuk energi. Produk sampingan dari proses ini adalah gas. Beberapa jenis bakteri menghasilkan gas lebih dari jumlah normal bila dalam tubuh tidak terdapat enzim yang tepat untuk mengolah makanan (contoh, bila kekurangan enzim laktase untuk mengurai gula susu dapat mengakibatkan produksi gas berlebih).
  2. Nutrisi "buah" tidak akan berubah baik dimakan dalam kondisi perut kosong maupun dalam kondisi perut terisi.
  3. Penjelasan bahwa minum air es setelah makan menyebabkan "Kanker" sama sekali tidak sesuai teori medis manapun, tradisional dan modern. Tidak ada basis (teori, kasus, dan sebagainya) dari klaim bahwa air dingin akan mengentalkan zat berminyak, ataupun lemak bertoksin akan memenuhi usus, atau perubahan lemak menjadi pemicu "Kanker".
  4. Air dingin di dalam tubuh akan menjadi hangat karena suhu tubuh dan tidak akan menyebabkan minyak menjadi beku. Bahkan asam lambung mampu melarutkan minyak dalam air sehingga minyak dalam lambung tidak akan pernah beku.
  5. Terdapat kalimat yang bertolak belakang berkaitan dengan minum es setelah makan ini. Disebutkan bahwa minum es setelah makan akan membuat proses pencernaan terhambat. Namun pada kalimat berikutnya disebutkan dapat membuat penyerapan menjadi sangat cepat. Jadi mana yang betul?
  6. Artikel ini berjudul "Buah + Air Liur Manusia = Obat Kanker", namun tidak ada pembahasan sama sekali barkaitan dengan "air liur" ini dalam artikel tersebut. Tidak ada bukti empirik bahwa "buah + air liur" bisa menyembuhkan "Kanker"
  7. Nama Dr. Stephen dan Dr. Shu adalah tokoh fiksi, tidak terdapat literatur mengenai mereka. Namun Dr. Stephen sering disebut dalam artikel "hoax"serupa dalam bahasa Inggris dengan nama lengkap Dr. Stephen Mak.
  8. Herbert M. Shelton adalah tokoh nyata dan telah meninggal tahun 1985. Dia adalah seorang doktor naturopati, menjadi pengajar dan penulis yang berkaitan dengan kesehatan. Namun dia sering ditangkap karena membuka praktik pengobatan tanpa ijin.
Analisis di atas merupakan penolakan artikel "Buah + Air Liur Manusia = Obat Kanker". Mereka tidak percaya alias menganggap bahwa artikel di atas hanya merupakan berita "Hoax" belaka. Namun, semua kembali kepada pribadi Anda masing-masing. Percaya atau tidak, kembali kepada pribadi para pembaca. 


Saya pribadi menerapkan saran-saran di atas, yaitu makan "buah" sebelum makan nasi. Dan saya pun juga jarang atau bahkan hampir tidak pernah minum es/air dingin setelah makan. Saya dulu punya benjolan dalam perut saya yang menurut dokter itu adalah Mioma dan Kista. Mioma dan Kista merupakan benjolan yang merupakan jenis penyakit"kanker" yang ukurannya bisa membesar dan akan sangat mengganggu kesehatan. 

Setelah saya tahu kondisi penyakit yang ada dalam tubuh saya, kemudian saya menerapkan teori di atas dan sekarang keluhan sakit karena Mioma dan Kista pun telah musnah. Dokter pun juga menyatakan bahwa Mioma dan Kista yang ada dalam perut saya ukurannya tidak membesar, bahkan mengecil karena mengering. Alhamdulillah...... Penyakit "kanker" yang dulu sempat mengganggu saya, sekarang ini telah musnah. Kalau Anda percaya silahkan dicoba..... 

Sumber:
1. Family-Guide's-Photo.....
2. https://www.facebook.com/FansDewasa/posts/457733337601513
3. janganpercayahoax.blogspot.com/.../hoax-air-liurbuah-obat-cancer.html
4. hoaxcapede.wordpress.com/.../air-liurbuah-obat-cancer-cancerkanker/
5. laely.widjajati.facebook.com/NDAH-TERBENTANG-LUASNYA-SAMUDRA-BIRU
6. laely.widjajati.facebook.com/Monggo-Buahnya......
7. laely.widjajati.facebook.com/Monggo-Dinikmati.......Camilan-BUAH.......

Sumber : http://laely-widjajati.blogspot.com/2014/06/air-liur-buah-obat-kanker-hoax.html

2015 Subsidi Pupuk 28 Trilyun Benih 2 Trilyun

Pemerintah Alokasikan 28 Triliun untuk Pupuk


Untuk menargetkan swasembada padi, gula, jagung, dan kedelai dalam tiga tahun ke depan, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp28 triliun untuk kebutuhan pupuk dan Rp2 triliun untuk benih nasional. Penggaran itu dimasukan dalam RAPBN Perubahan 2015.

"Subsidi untuk 9,5 juta ton pupuk senilai Rp28 triliun, untuk subsidi benih insya Allah Rp2 triliun," kata Menteri Pertanian, Amran Sulaiman di Kantor Wakil Presiden, Selasa, 23 Desember 2014.
Menurut Amran terdapat sejumlah perkara yang menghambat untuk mewujudkan target swasembada tersebut.
Persoalan pertama, Amran menuturkan yaitu irigasi pertanian. Ia menyebutkan sekitar 50 persen irigasi yang rusak di seluruh Indonesia. "Jumlah totalnya itu 3,3 juta hektar," ujarnya.
Amran menambahkan masalah lain adalah tentang penyerapan benih yang hanya mencapai 20 persen. Ada juga faktor keterlambatan distribusi pupuk. Ia mengaku saat berkunjung ke 14 provinsi, menemukan 50 kabupaten mengalami masalah tersebut.
Dia menambahkan masalah transportasi kerap menjadi hambatan di berbagai kabupaten. Selain itu, ia juga menemukan ego sektoral antarkabupaten soal distribusi pupuk yang berlebihan, juga menjadi akar persoalan keterlambatan distribusi tersebut.
"Katakanlah, contohnya, kabupaten A itu dapat alokasi pupuk 10 ton tapi butuhnya 7 ton. Ada sisa 3 ton. Namun, karena egoisme sektoral, kelebihan pupuk ini tidak mau dipindahkan ke kabupaten lain. Yang seperti itu lah contohnya sehingga membuat lambat. Ini enggak boleh ada egoisme sektoral dalam membangun ini republik," kata dia.
Untuk mengantisipasi adanya persoalan distribusi, pemerintah akan melakukan upaya penunjukan langsung untuk pengadaan pupuk, irigasi dan benih.
Penulis: Nasir

Sumber : https://id.berita.yahoo.com/pemerintah-alokasikan-28-triliun-untuk-pupuk-042509564--finance.html

SWASEMBADA PANGAN MASIH PANJANG BERLIKU


SWASEMBADA PANGAN

I.    PENDAHULUAN


Negara Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan jumlah petani yang menjadi mayoritas penduduk di Indonesia. Walaupun saat ini lahan pertanian semakin sempit namun ekses pekerja di bidang pertanian semakin banyak. Fenomena diatas bukan terjadi karena bidang pertanian adalah pelarian bagi para penganggur tetapi disebabkan oleh pandangan hidup mayoritas Indonesia. Kegiatan bertani yang dilakukan bukan semata mata pencaharian, tetapi sebagai kebudayaan.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Mubyarto ”Pertanian (agriculture) bukan hanya merupakan aktivitas ekonomi untuk menghasilkan pendapatan bagi petani saja. Lebih dari itu, pertanian/agrikultur adalah sebuah cara hidup (way of life atau livehood) bagi sebagian besar petani di Indonesia”.

Produksi pangan yang saat ini kita nikmati juga tidak terlepas dari kegiatan budaya masyarakat Indonesia. Pola makan yang dianut masyarakat Indonesia pun juga tercipta oleh kontruksi dari budaya Indonesia. Jika Indonesia ingin memerangi masalah pangan maka ia harus merubah livehood dari petani dan masyarakat Indonesia, bukan hanya melakukan modernisasi pertanian.

II.    PEMBAHASAN

Swasembada Pangan umumnya merupakan capaian peningkatan ketersediaan pangan dengan wilayah nasional. Swasembada pangan berarti kita mampu utk mengadakan sendiri kebutuhan pangan masyarakat dengan melakukan realisasi & konsistensi kebijakan tsb, antara lain dengan melakukan:

1. Pembuatan UU & PP yg berpihak pada petani & lahan pertanian.

2. Pengadaan infra struktur tanaman pangan seperti: pengadaan daerah irigasi & jaringan irigasi, pencetakan lahan tanaman pangan khususnya padi, jagung, gandum, kedelai dll serta akses jalan ekonomi menuju lahan tsb.

3. Penyuluhan & pengembangan terus menerus utk meningkatkan produksi, baik pengembangan bibit, obat2an, teknologi maupun sdm petani.

4. Melakukan Diversifikasi pangan, agar masyarakat tidak dipaksakan utk bertumpu pada satu makanan pokok saja (dlm hal ini padi/nasi), pilihan diversifikasi di indonesia yg paling mungkin adalah sagu, gandum dan jagung (khususnya indonesia timur).

Jadi diversifikasi adalah bagian dr program swasembada pangan yg memiliki arti pengembangan pilihan/ alternatif lain makanan pokok selain padi/nasi (sebab di indonesia makanan pokok adalah padi/nasi). Salah satu caranya adalah dengan sosialisasi ragam menu non pad/nasi.


Kebijakan Pemerintah dalam Swasembada Pangan

Pada masa SBY, pemerintah mengeluarkan progam perencanaan revitalisasi pertanian yang mencoba menempatkan kembali sektor pertanian secara proporsional dan kontekstual dengan meningkatkan pendapatan pertanian untuk GDP, pembangunan agribisnis yang mampu meyerap tenaga kerja dan swasembada beras, jagung dan palawija. Sampai tulisan ini dibuat baru satu target yang telah dicapai oleh pemrintah yaitu swasembada beras pada tahun 2008 yang lalu.

Dari sederetan kebijakan yang pernah dirumuskan oleh pemerintah hanya beberapa saja yang berhasil mendongkrak kondisi pangan Indonesia, itupun hanya secara parsial dan interim saja. Jika semua permasalahan pangan tersebut berasal dari kebijakan pemerintah, maka kita perlu mempertanyakan paradigma pangan yang selama ini dianut oleh pemerintah.

Presiden menegaskan ada tiga hal yang menjadi perhatian utama pemerintah yaitu peningkatan ketahanan pangan, peningkatan penelitian dan peningkatan kesejahteraan petani. Namun, Wapres Jusuf Kalla merincinya lebih jauh. Menurutnya, swasembada pangan dapat dilaksanakan melalui peningkatan jumlah bibit hibrida, perbaikan saluran irigasi, penguasaan teknologi pertanian serta sosialisasi penggunaan bibit hibrida kepada petani. "Kita hanya butuh kenaikan lima persen produksi padi untuk menuju swasembada, apalagi kita hanya mengimpor 1,5 juta ton dari kebutuhan rata-rata konsumsi beras 32-33 juta ton. Jadi tidak sulitlah untuk mencapai swasembada," kata Wapres, seperti dikutip Antara.

Wapres mengatakan, mandegnya swasembada pangan Indonesia dikarenakan produksi nasional yang konstan, sedangkan rata-rata pertumbuhan penduduk serta konversi lahan pertanian masing-masing meningkat 1,5 persen per tahun.Jadi, tambahnya, apapun alasannya pemerintah harus meningkatkan produksi padi tiga juta ton per tahun, dan untuk menutupi hal itu pada 2007 pemerintah mencanangkan kenaikan produksi lima persen atau setara dengan dua juta ton beras. Target itu akan bisa dicapai, apalagi saat ini bibit-bibit hibrida telah menghasilkan delapan hingga 10 ton per ha atau 10 - 25 persen dibandingkan dengan padi non hibrida.PROGRAM RIIL: Secara teoritis, memang tidak terlalu sulit bagi Indonesia untuk mencapai swasembada pangan. China saja yang penduduknya 1,3 miliar bisa tidak antre beras atau demo karena kekurangan beras. Sedangkan kita yang hanya 240 juta ton penduduk masih mengantre beras.

Selain peningkatan jumlah bibit hibrida, lanjut Wapres, pemerintah perlu ada perbaikan proyek irigasi dan penguasaan teknologi pertanian melalui penelitian dan pengembangan oleh balai-balai penelitian di kampus-kampus, lembaga terkait serta swasta. ”Selama ini, peran swasta dalam mendukung ketahanan pangan nasional masih kurang maksimal, padahal dukungan mereka sangat diperlukan terutama untuk dapat menghasilkan bibit-bibit hibrida yang berkualitas," katanya lagi.Menurut catatan Departemen Pertanian, saat ini Indonesia sudah menghasilkan 287 varietas padi, terdiri atas 189 padi dihasilkan oleh BBPT, 13 oleh Batan, dan 25 varietas oleh swasta. Sayangnya, ”Penggunaan produksi varietas unggul itu belum maksimal, karena belum disosialisasikan secara optimal tentang keuntungan teknis dan ekonomis padi hibrida,” kata Menteri Pertanian Anton Apriyantono, seperti dilansir Antara.
Dalam kesempatan terpisah, Mentan Anton Apriyantono mengklaim, program revitalisasi tanaman pangan dan kebijakan swasembada pangan bahkan dapat dikatakan berhasil. Hal ini, lanjutnya, dapat dilihat dari lima komoditas tanaman pangan unggulan berupa padi, jagung, kedelai, gula dan sapi potong. Data Deptan menunjukkan produksi beras naik 4,8% pada 2007 atau tertinggi dalam 15 tahun. Kenaikan harga beras, ujarnya, merupakan tren musiman yang terjadi menjel.

Hambatan dalam Program Swasembada Pangan

Masih rendahnya peningkatan produksi pangan di Indonesia dan terus menurunnya laju peningkatan produksi pangan dari tahun ke tahun secara teknis lebih di dominasi oleh dua penyebab utama yaitu: (1) Produktivitas pangan yang masih rendah dan terus menurun; dan (2) Peningkatan luas areal penanaman/panen yang stagnan bahkan terus menurun khususnya di lahan pertanian produktif di pulau Jawa.
Kombinasi kedua faktor di atas mempertajam penurunan laju pertumbuhan produksi dari tahun ke tahun. Kondisi ini akan terus menjadi “endemic” ke daerah-daerah dan tentunya akan semakin parah dengan seringnya diberitakan kondisi rawan pangan.

Disamping dua masalah klasik di atas, hambatan produksi pangan dipacu pula oleh beberapa isu nasional yang merupakan bagian dari “propaganda dagang” para importir pangan dan lemahnya pranata pertanian sehingga menurunkan gairah produksi oleh petani, antara lain:

1. Misalnya pada Kedelai, bahwa rata-rata kedelai nasional rendah yaitu 1,28 ton/ha, sedangkan di Amerika mampu mencapai 2,3 ton/ha yang kemudian banyak para ahli pertanian latah dan menjustifikasi bahwa tanaman kedelai identik sebagai tanaman subtropik yang hanya cocok tumbuh dan berproduksi tinggi di Negara-negara subtropik dan kurang cocok jika di tanam di Indonesia.Hal ini tidak sepenuhnya benar karena di India dan Cina ternyata rata-rata produktivitas nasionalnya sama dengan Indinesia bahkan lebih rendah. Pada kenyataannya dengan teknologi yang tepat tanaman kedelai di Indonesia mampu mencapai produksi lebih dari 3 ton/ha dan bahkan dalam beberapa pengujian sekala lapangan produksi kedelai di Indonesia dapat melampaui 4,5 ton/ha. Beberapa jenis kedelai temuan baru saat ini telah berhasil pula ditanam dan berproduksi dengan baik pada ketinggian 1.300 m dpl dengan produktivitas lebih dari 3 ton/ha yang selama ini dan selama ini banyak ahli dan pihak-pihak pesimis.

2. Hama dan penyakit komoditi pangan cukup besar karena kondisi iklim di Indonesia yang tropis (panas dan lembab) dan atas dasar teori dan fenomena parsial tersebut diklaim bahwa bertani pangan tidak efisien dan rugi ditanam di Indonesia. Padahal hal di Negara sub tropis sendiri dahulu mengalami masalah yang sama sebelum menerapkan tanaman GMO (genetically modified organism) dan Hibrida. Di negara maju seperti Amerika, Canada dan Australia, lebih dari 80 % tanaman Jagung dan Kedelai yang ditanam adalah GMO. Teknik pengendalian hamanya dilakukan secara total dengan penyemprotan pestisida dalam hamparan yang luas (dengan pesawat) sehingga kemungkinan hama di areal hamparan tersebut musnah termasuk burung dan satwa alam lainnya ikut musnah.

3. Negara maju lebih banyak memberikan produk dan teknologi olahan pangan yang berbasis pada bahan baku impor seperti Biji kedelai, gandum dan kentang, untuk memacu pemakaian konsumsinya, tetapi segi teknologi budidaya pangan kurang diperkenalkan sehingga dalam produksi komoditi pangan di dalam negeri tidak lebih efisien dan kalah bersaing, dan impor semakin besar. Kondisi ini justru tidak memihak ke pembangunan pertanian rakyat dan jika scenario kebijakan pemerintah berpihak kepada kepentingan industri Negara maju di atas, maka Indonesia menjadi pasar produk pangan mereka dan makin besar ketergantungannya dan terjajah pangannya.

4. Sentra perbenihan pangan kurang di kembangkan sebagai industri benih Nasional yang utama dan berkelanjutan. Para produsen benih baik swasta maupun petani penangkar kuang mampu menghasilkan benih yang unggul dan berdaya hasil tinggi dalam jumlah yang cukup. Oleh karena itu perlu perhatian yang serius terhadap jaminan ketersediaan benih, pemberian insentif produsen benih, teknologi produksi, keterjaminan akan konsumsi benih dan tata perbenihan komoditi pangan yang bermutu (pengadaan, persebaran dan ketersediaan, dll.) merupakan titik awal untuk memulai bangkit Pangan.

5. Permasalah lain adalah lemahnya permodalan petani untuk menanam dalam lahan yang lebih luas. Kredit yang dapat menjamin usaha di sektor ini tidak ada. Kalaupun ada hanya sebatas diwacanakan, milsalnya kebijakan KKP kedelai. Lemahnya modal untuk membiayai usaha tani kedelai berdampak langsung pada rendahnya produktivitas dimana ketiadaan modal petani tidak melakukan budidaya dengan tepat seperti tidak dipupuk (tidak mampu beli benih unggul, pupuk dan pestisida), tidak diurus/diberi air irigasi, tidak mampu menahan saat harga turun (stock gudang), bahkan petani terbelilit ijon (tanaman dijual/digadai sebelum panen) dengan harga murah.

Dari banyaknya persoalan dalam produksi pangan nasional serta isu-isu yang makin menjatuhkan posisi produsen (petani), sebenarnya masih ada “optimisme” jika Negara, pemerintah dan para pelaku bisnis pangan serius untuk membangun produksi dan membangun Agribisnis yang berbasis pada ketahanan pangan.
Salah satu hal yang dapat diharapkan dalam percepatan kemandirian pangan nasional adalah adanya hasil-hasil penelitian di dalam negeri yang cukup memberikan harapan. Seperti telah ditemukannya teknologi Bio P 2000 Z oleh anak bangsa telah membuktikan bahwa teknologi ini mampu
meningkatkan produktivitas seperti kedelai, padi dan tanaman pangan lain. Hasil sementara ini pada berbagai kedelai unggul lokal dan unggul Nasional yang dapat dicapai adalah rata-rata di atas 3 ton/ha, dan bahkan dalam riset, potensi kedelai Indonesia yang diperlakukan dengan teknologi Bio P
2000 Z ini secara akademik mampu mencapai 20 ton/ha suatu hasil yang belum pernah terjadi pada hasil riset di Negara maju manapun. Teknologi ini telah dipatenkan di National Patent maupun pada International Patent Organization (International Beureu (IB) , World Intellectual Property Organization (WIPO)) serta telah di Industrikan dalam fabrikasi dan diperdagangkan secara komersial. Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI juga telah berhasil mendapatkan berbagai jenis bakteri yang bekerja sangat efektif untuk meningkatkan
produktivitas seperti kedelai. Bakteri ini adalah bakteri penambat nitrogen (Rhizobium dan Azospirillum, Spirillum) serta bakteri pengurai pelarut fosfat. Berbagai jenis bakteri ini telah berhasil disisipkan ke dalam benih kedelai. Dengan teknik yang dikembangkannya, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI ini berhasil mengembangkan benih kedelai plus dan mensinergikan penemuan teknologinya dengan teknologi seperti Bio P 2000 Z untuk lebih mendongkrak produksi. Sementara itu, berbagai varitas kedelai unggul telah berhasil dirakit oleh BATAN, DEPTAN, Perguruan Tinggi dan riset perusahaan swasta menunjukkan kemajuan yang positif: potensi produktivitas varietas/galur meningkat, keseragaman dan ukuran lebih disukai pasar, lebih toleran terhadap cekaman anasir biotic dan abiotik seperti kemasaman lahan, keracunan Al3+ dan kekeringan atau genangan air sementara.
Melihat peluang dan harapan di atas maka tidak diragukan lagi bahwa pengembangan pertanian pangan di daerah transmigrasi yang selama ini terkendala karena rendahnya produktivitas di daerah transmigrasi akan dapat segera diatasi. Banyaknya anasir penghambat produksi pada lahan bukaan baru seperti pH yang rendah, tanah beracun, bahan organik yang tidak seimbang maupun lingkungan mikro ekosistem yang kurang ideal bagi tanaman yang bersangkutan bukan lagi sebagai permasalahan utama. Tentunya untuk mendapatkan hasil maksimal, dalam budidaya tanaman pangan ini memerlukan persyaratan-persyaratan khusus yang “Presisi” dalam pengelolaannya. Diyakini melalui pemanfaatan dan pengembangan lahan- lahan transmigrasi yang telah ada dan yang baru/akan dibuka, jika didukung teknologi, modernisasi (mekanisasi), infrastruktur dan tataniaga produksi yang jelas melalui pola baru pembangunan transmigrasi (KTM Trans) akan memberikan kontribusi yang berarti bagi percepatan swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional.

Program Swasembada Pangan Pemerintah Saat Ini

Pada era reformasi sekarang ini, pembangunan pertanian terbawa arus eforia dan warna sosial politik. Ada kecenderungan kebijakan sampai sekarang ini anggaran di sektor pertanian tidak terlalu besar. Untuk APBN terakhir hanya sebesar Rp 9 triliun. Disamping itu ada indikasi karena hiruk pikuknya kebijakan desentralisasi sehingga program swasembada pangan justru terabaikan. Isu-isu lainnya juga membuat kebijakan ini tidak optimal, karena alasan partisipasi rakyat serta mekanisme pasar sudah berjalan, artinya petani sudah menyadari mana komoditas yang menguntungkan maka mereka akan menanamnya. Ada permintaan tinggi maka mereka secara otomatis akan memenuhi supply-nya. Tetapi kenyataannya berbeda, petani Indonesia masih perlu dibimbing yang sejalan dengan program pemerintah.

Kalau kita cermati selama ini, kebijakan-kebijakan pemerintah yang diambil terkait dengan berbagai isu lonjakan harga komoditi pangan sungguh membingungkan. Kebijakan pemerintah yang ditempuh selama ini cenderung hanya responsif yang mempunyai implikasi jangka pendek, padahal permasalahannya menyangkut jangka panjang. Kita ambil contoh kebijakan mengenai minyak goreng tahun lalu, pemerintah kemudian tergopoh-gopoh dengan menaikkan pungutan ekspor crude palm oil (CPO). Kebijakan ini akhirnya tidak juga efektif, sampai akhirnya pemerintah merelakan merogoh kocek anggarannya dengan mengambil kebijakan klasik berupa subsidi minyak goreng, sebagai pro poor. Alangkah sederhananya menyetel sebuah paket kebijakan yang kelihatan grabak-grubuk itu. Padahal permasalahannya tidak sesederhana itu. Akhirnya kebijakan ini tidak tuntas. Kita yakin suatu saat permasalahan ini akan muncul kembali. Dan, instrumen klasik seperti subsidi digunakan lagi sebagai senjata pamungkasnya, sehingga beban anggaran juga semakin berat. Sekarang pemerintah disibukkan lagi dengan melonjaknya berbagai harga komoditas pangan kita, termasuk harga kedelai. Kita berharap kebijakan pemerintah yang diambil akan tuntas. Tidak hanya kebijakan jangka pendek, tetapi semestinya pemerintah mengambil kebijakan yang lebih permanen dan menyeluruh. Karena secara jangka panjang kebutuhan masyarakat terus meningkat seiring kesadaran masyarakat untuk hidup sehat. Jadi, swasembada pangan selalu menjadi prioritas. Jangan sampai pemerintah seolah gengsi untuk melanjutkan kebijakan pemerintah Orde Baru, apalagi kebijakan-kebijakan Orde Baru tidak selalu jelek.

Sudah saatnya pemerintah memikirkan sektor pertanian, perkebunan dan peternakan, sektor yang dianggap tidak penting di era reformasi. Untuk itu, perlu kebijakan serupa insentif perbankan, perbaikan infrastruktur pertanian dan lain-lain, yang mendorong kaum muda terlibat dan bersama-sama menuju cita-cita swasembada pangan.



III.    KESMPULAN

Dalam swasembada pangan pemerintah sudah cukup banyak melakukan usaha-usaha untuk memenuhi semua kebutuhan tetapi seharusnya pemerintah menekankan pada hambatan-hambatan swasembada pangan agar memperkecil tingkat hambatannya. Mewujudkan swasembada beras di tengah produktivitas padi yang kian melandai dan jumlah penduduk yang terus bertambah secara signifikan, menurut Posman Sibuea, maka orientasi kebijakan pangan harus ke arah diversifikasi konsumsi pangan. Hal ini patut segera dilakukan mengingat ketergantungan pada beras dapat menjadi musibah bagi Indonesia apabila harga beras di pasar internasional semakin mahal akibat stok dunia menurun.

DAFTAR PUSTAKA
Sumber  : http://ikha-giska.blogspot.com/2011/04/swasembada-pangan.html