..Ibadah qurban itu berarti perlu disiapkan dengan beternak yg baik !

Kamis, 31 Mei 2012

BELAJAR DARI PENANGANAN OPT DALAM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS HORTIKULTURA DI VIETNAM

BELAJAR DARI VIETNAM

Beras Adan Krayan Peroleh Sertifikasi Indikasi Geografis

Beras Adan Krayan Peroleh Sertifikasi Indikasi Geografis

Rabu, 25 Januari 2012
Beras Adan Krayan memperoleh sertifikat indikasi geografis dari Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM.Sertifikat Indikasi Geografis Beras Adan Krayan diserahkan langsung oleh Dirjen HKI yang didampingi Kakanwil Kalimantan Timur kepada Gubernur Kalimantan Timur pada upacara hari ulang tahun Kalimantan Timur ke 55 di lapangan Madya Sempaja Samarinda pada tanggal 9 Januari 2012.

Upaya perlindungan beras Adan Krayan merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI dengan Kementerian Dalam Negeri RI dan Kementerian Pertanian RI ”Tentang Pengembangan Potensi Produk Indikasi Geografis Bidang Pertanian”. Kemudian pada tanggal 26 September 2011, Beras Adan Krayan diajukan oleh Asosiasi Masyarakat Adan untuk mendapatkan perlindungan hukum perlindungan Indikasi Geografis
           
Beras Adan Krayan. Permohonan ini ditindaklanjuti oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bersama dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM dan Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan Timur dengan melakukan pembinaan dan bantuan tehnis yang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan substantif oleh Tim Ahli Indikasi Geografis dan dinilai memenuhi syarat  untuk dapat didaftar sebagai salah satu produk Indikasi Geografis Indonesia.
           
Beras Adan merupakan beras yang diproduksi oleh petani di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur yang merupakan salah satu kawasan terluar yang berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia. Wilayah Krayan berada pada ketinggian sekitar 1.000 m di atas permukaan laut Wilayah tersebut termasuk sulit dijangkau karena hanya bisa ditempuh melalui jalan udara dari kabupaten Nunukan atau Tarakan dan tidak ada akses melalui jalan darat atau sungai, Wilayah Krayan merupakan  lembah yang dikelilingi hutan lindung dan sejumlah gunung yang secara administratif dibagi menjadi dua yaitu kecamatan Krayan Induk dan Kecamatan Krayan Selatan.  Wilayah tersebut terkenal menghasilkan  beras dengan  cita rasa khas,   penanaman padi diolah secara organik dengan memanfaatkan kotoran kerbau sebagai input pemupukan. Cita rasa beras Adan Krayan tidak bisa ditemukan di wilayah lain hal ini merupakan satu keunikan tersendiri.
           
Dengan keunggulan yang dimiliki maka beras Adan dikonsumsi secara luas di Malaysia dan Brunei Darussalam bahkan konon keluarga kerajaan Brunei Darussalam gemar mengkonsumsi beras Adan Krayan sebagai sumber makanan pokok sehari-hari.

Bario Rice            
Salah satu alasan pentingnya pendaftaran IG Beras Adan Kerayan tidak terlepas dari keberadaan Bario rice. Bario rice adalah beras yang dihasilkan di kampung Bario, Serawak Malaysia yang wilayahnya berbatasan langsung dengan wilayah Krayan,  Bario Rice yang telah terdaftar sebagai produk IG di Malaysia memiliki ciri khas yang tidak jauh berbeda dengan Adan Krayan karena wilayah pertumbuhan ada dalam satu kawasan.

Wilayah penanaman Bario Rice tidak seluas areal penanaman Beras Adan oleh sebab itu surplus beras Adan sering diperdagangkan  dengan nama Bario Rice oleh para pedagang di Malaysia. Hal ini tentu bisa ditebak mereka membeli beras Adan Krayan dengan harga sangat murah dan menjualnya dengan harga setinggi-tingginya dengan nama Bario Rice.
           
Harapan masyarakat Krayan dengan didaftarkannya beras adan krayan adalah Pemerintah cq Kementerian hukum dan HAM dapat memberikan pengakuan sekaligus perlindungan hukum terhadap penyalahgunaan nama asal barang sehingga reputasi yang ada dapat dipertahankan. pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan para petani  krayan.


Sumber: http://www.dgip.go.id/kegiatan/berita-hki/107-beras-adan-krayan

Sumber : http://www.organicindonesia.org/05infodata-news.php?id=321
 

Padi Adan Tana Tam, Tradisional dan Organik Dataran Tinggi Krayan

Padi Adan Tana Tam, Tradisional dan Organik Dataran Tinggi Krayan

Rabu, 10 November 2010
Masyarakat adat di dataran tinggi Borneo khususnya Kecamatan Krayan Selatan dan Krayan Induk, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur telah menghasilkan padi lokal Adan Tana Tam. Padi adan putih, hitam dan merah atau dalam bahasa lokal pade adan buda, hitem dan sia merupakan bibit lokal hasil budidaya masyarakat adat secara tradisional.

“Beras tersebut adalah produk unggulan hasil pertanian tradisional masyarakat dengan ciri khas aroma, cita rasa dan tekstur halus,” kata Darius Khamis sebagai Ketua Koperasi Tana Tam di sela acara Indonesia Organic and Green Fair 2010 di Lapangan Taman Koleksi Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Baranangsiang, Bogor, Jawa Barat (6/11).

Khamis mengatakan bahwa pola pertanian tradisional di dataran tinggi Krayan ini merupakan pola pertanian organik yang dipadukan dengan peternakan kerbau dan memanfaatkan air jernih dari gunung untuk irigasi persawahan. Proses penanaman sederhana.

Dalam setahun masyarakat hanya memanan padi ini satu kali. Setelah panen, lahan dibiarkan menjadi tempat kerbau berkubang dan membuang kotoran di sana. Pada bulan Juli sampai Agustus merupakan masa tanam, lalu pemanenan dilakukan pada bulan Januari sampai Februari.  

Hutan yang masih alami dan belum rusak menjamin bahwa lahan dan air yang mengalir ke persawahan adalah air yang  murni, jernih dan bebas bahan kimia. Sebagian hutan di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan termasuk dalam Taman Nasional Krayan Mentarang, taman nasional pertama di Indonesia yang dikelola secara kolaboratif bersama masyarakat adat.

Menurut Khamis, beras adan sudah dikenal oleh konsumen baik di tingkat lokal, nasional mupun luar negeri. Permintaan konsumen akan beras organik bermutu tinggi dari Krayan semakin hari semakain meningkat. Hal itu mendorong kelompok petani di Krayan Selatan membentuk Koperasi Serba Usaha Tana Tam Krayan Hulu (KSU-TTKH).

Pembentukan koperasi ini untuk menjaga kualitas beras dan keorganikan menyangkut proses persiapan lahan, seleksi bibit, penanaman, pasca panen, penggilingan sampai proses pengemasan untuk dipasarkan. Upaya ekstra tersebut dilakukan untuk menambah nilai pasar beras adan agar harganya adil dan mendapat kepercayaan konsumen.

Sebelum ada inisiatif ini, beras adan varietas merah dan hitam kian kurang ditanam oleh petani karena hasil panennya lebih rendah dibandingkan varietas padi baru hasil rekayasa laboratorium. Padahal jenis lokal lebih tahan terhadap perubahan lingkungan dan serangan hama. Namun dengan meningkatnya minat pasar maka petani di Krayan sudah mulai menanam kembali varietas lokal yang organis ini dalam jumlah lebih banyak.

Untuk meningkatkan kualitas juga, mulai 2008 budidaya padi ini juga menggunakan pupuk kompos buatan petani sendiri. "Upaya penggunaan kompos buatan ini tidak akan mengurangi nilai tradisional dari padi adan," kata Khamis.

Beras adan putih, merah dan hitam ini adalah makanan yang sehat. Zat yang terkandung di dalamnya, khususnya varietas beras adan merah (vitamin B2) dan beras adan hitam (mineral ferum, phosphorus dan calcium) menunjukkan bahwa pilihan beras ini adalah pilihan beras sehat untuk keluarga. Beras adan hitam juga memiliki kandungan protein yang sangat tinggi sedangkan kandungan lemaknya lebih sedikit.

Beras Adan Tana Tam (tana tam berarti tanah kita) dijual dalam kemasan 1 kg dan sudah mendapat sertifikat merk dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Kementerian Hukum dan HAM. Harga 1 kg beras adan sekitar 25 ribu rupiah saat pameran. Saat ini lahan padi Adan Tana Tam seluas 0,5 hektar dan menghasilkan hasil panen 0,5 ton (500 kg).  

Sumber : http://www.organicindonesia.org/05infodata-news.php?id=204
 

Petani Sambut Gembira Sertifikat IG Beras Adan Krayan

Petani Sambut Gembira Sertifikat IG Beras Adan Krayan

Senin, 13 Februari 2012

Robertson, petani adat Krayan mengaku yakin semua masyarakat adat di Krayan akan menyambut gembira kabar berhasilnya pemerintah provinsi mendapatkan sertifikat IG beras Adan Krayan. Meski belum banyak masyarakat yang tahu tentang terbentuknya Asosiasi Masyarakat Adat Perlindungan Beras Adan Krayan yang baru beberapa bulan yang lalu namun sejak dulu para petani ingin agar beras adan itu keluar membawa nama Krayan.
“Beras adan merupakan varietas khas di Krayan sejak nenek moyang dulu, dan  secara turun temurun tetap dipertahankan sebagai beras yang paling halus di dataran tinggi Borneo dengan nilai pasar cukup tinggi juga,” kata pemuda adat yang juga berprofesi sebagai guru SMK ini.
Yagung sebagai Kepala Adat Besar Krayan Darat dan pengurus FORMADAT berharap dengan adanya sertifikat IG, beras Adan Krayan punya nama dan label, dapat membuka lebar pintu pemasaran untuk beras Adan Krayan. Selain itu  juga  harga beras Adan dari Krayan yang selama ini banyak tergantung pada Malaysia bisa stabil.
“Padi Adan inilah yang ditanam sampai sekarang oleh masyarakat adat di dataran tinggi, bukan hanya di Krayan tetapi juga di Bario, Ba’ Kelalan, dan Long Pasia (Malaysia), karena kami sebenarnya satu rumpun, satu keluarga yang terpisah oleh batas negara,” katanya,
“Sekarang sudah ada nama beras Adan Krayan, ada juga beras Bario, mudah-mudahan akan ada juga nama beras Adan Ba’Kelalan dan nama beras Adan Long Pasia, itulah beras Adan warisan kearifan dan praktik pertanian tradisional masyarakat di dataran tinggi Borneo,” tambahnya.
HKI Menurut Kearifan Lokal dan Kawasan Masyarakat Adat
Ada juga harapan bahwa pada satu hari akan ada pengakuan HKI sesuai kearifan lokal dan tanah atau kawasan masyarakat adat dan bukan berdasarkan batas negara, karena beras Adan memang sama. Bila ditelusuri asal usul dan kepemilikan secara intelektual beras Adan tersebut adalah HKI bersama (collective right) masyarakat adat dataran tinggi Borneo, termasuk Krayan, Ba’ Kelalan, Ulu Padas, dan Bario.
Selama ini Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo (FORMADAT) memperjuangkan bagaimana varietas lokal padi Adan (putih, merah, dan hitam) diakui sebagai bentuk kearifan lokal dan hak kepemilikan intelektual oleh semua masyarakat adat (satu rumpun budaya, bahasa dan asal usul) di dataran tinggi Borneo, Indonesia dan Malaysia (Sarawak dan Sabah). 
Sejak 2006, masyarakat adat di dataran tinggi Borneo (Bario-Sarawak, Krayan and Krayan Selatan-Nunukan, Indonesia, Ba’ Kelalan dan Long Semadoh-Sarawak, Ulu Padas-Sabah), melalui FORMADAT Malaysia-Indonesia, sesuai visi dan misi organisasi ini telah berusaha memperkenalkan dan mempromosikan beras Adan (organik) sebagai  Varietas Lokal Dataran Tinggi Borneo melalui beberapa cara: penjualan, promosi dalam pameran baik di Indonesia maupun di Malaysia.
Di kemasan  beras Adan TANA TAM (merek dagang resmi) terdapat tulisan, “VARIETAS LOKAL DATARAN TINGGI BORNEO” (beras yang dijual di Ba’ Kelalan-Sarawak dan Krayan-Indonesia) sebagai bentuk pengakuan secara informal dan secara adat bahwa beras Adan yang ada di Bario, Krayan, Ba’ Kelalan, dan Ulu Padas adalah varietas lokal yang sebenarnya sama, hasil kearifan tradisional dan warisan budaya masyarakat adat di dataran tinggi Borneo, Indonesia dan Malaysia. (ANP/SNY)
Sumber : http://www.organicindonesia.org/05infodata-news.php?id=328
 

Selasa, 29 Mei 2012

Sambut Gembira Sertifikat IG Beras Adan Krayan

Sambut Gembira Sertifikat IG Beras Adan Krayan

Senin, 13 Februari 2012
Robertson, petani adat Krayan mengaku yakin semua masyarakat adat di Krayan akan menyambut gembira kabar berhasilnya pemerintah provinsi mendapatkan sertifikat IG beras Adan Krayan. Meski belum banyak masyarakat yang tahu tentang terbentuknya Asosiasi Masyarakat Adat Perlindungan Beras Adan Krayan yang baru beberapa bulan yang lalu namun sejak dulu para petani ingin agar beras adan itu keluar membawa nama Krayan.
“Beras adan merupakan varietas khas di Krayan sejak nenek moyang dulu, dan  secara turun temurun tetap dipertahankan sebagai beras yang paling halus di dataran tinggi Borneo dengan nilai pasar cukup tinggi juga,” kata pemuda adat yang juga berprofesi sebagai guru SMK ini.
Yagung sebagai Kepala Adat Besar Krayan Darat dan pengurus FORMADAT berharap dengan adanya sertifikat IG, beras Adan Krayan punya nama dan label, dapat membuka lebar pintu pemasaran untuk beras Adan Krayan. Selain itu  juga  harga beras Adan dari Krayan yang selama ini banyak tergantung pada Malaysia bisa stabil.
“Padi Adan inilah yang ditanam sampai sekarang oleh masyarakat adat di dataran tinggi, bukan hanya di Krayan tetapi juga di Bario, Ba’ Kelalan, dan Long Pasia (Malaysia), karena kami sebenarnya satu rumpun, satu keluarga yang terpisah oleh batas negara,” katanya,
“Sekarang sudah ada nama beras Adan Krayan, ada juga beras Bario, mudah-mudahan akan ada juga nama beras Adan Ba’Kelalan dan nama beras Adan Long Pasia, itulah beras Adan warisan kearifan dan praktik pertanian tradisional masyarakat di dataran tinggi Borneo,” tambahnya.
HKI Menurut Kearifan Lokal dan Kawasan Masyarakat Adat
Ada juga harapan bahwa pada satu hari akan ada pengakuan HKI sesuai kearifan lokal dan tanah atau kawasan masyarakat adat dan bukan berdasarkan batas negara, karena beras Adan memang sama. Bila ditelusuri asal usul dan kepemilikan secara intelektual beras Adan tersebut adalah HKI bersama (collective right) masyarakat adat dataran tinggi Borneo, termasuk Krayan, Ba’ Kelalan, Ulu Padas, dan Bario.
Selama ini Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo (FORMADAT) memperjuangkan bagaimana varietas lokal padi Adan (putih, merah, dan hitam) diakui sebagai bentuk kearifan lokal dan hak kepemilikan intelektual oleh semua masyarakat adat (satu rumpun budaya, bahasa dan asal usul) di dataran tinggi Borneo, Indonesia dan Malaysia (Sarawak dan Sabah). 
Sejak 2006, masyarakat adat di dataran tinggi Borneo (Bario-Sarawak, Krayan and Krayan Selatan-Nunukan, Indonesia, Ba’ Kelalan dan Long Semadoh-Sarawak, Ulu Padas-Sabah), melalui FORMADAT Malaysia-Indonesia, sesuai visi dan misi organisasi ini telah berusaha memperkenalkan dan mempromosikan beras Adan (organik) sebagai  Varietas Lokal Dataran Tinggi Borneo melalui beberapa cara: penjualan, promosi dalam pameran baik di Indonesia maupun di Malaysia.
Di kemasan  beras Adan TANA TAM (merek dagang resmi) terdapat tulisan, “VARIETAS LOKAL DATARAN TINGGI BORNEO” (beras yang dijual di Ba’ Kelalan-Sarawak dan Krayan-Indonesia) sebagai bentuk pengakuan secara informal dan secara adat bahwa beras Adan yang ada di Bario, Krayan, Ba’ Kelalan, dan Ulu Padas adalah varietas lokal yang sebenarnya sama, hasil kearifan tradisional dan warisan budaya masyarakat adat di dataran tinggi Borneo, Indonesia dan Malaysia. (ANP/SNY)
Sumber : http://www.organicindonesia.org/05infodata-news.php?id=328
 

Pembuatan Ethanol Fuel Grade Dari Sorghum (Sorghum Bi Color) Metode Reaksi Simultan Sakarifikasi Dan Fermentasi Sebagai Bahan Bakar Alternatif

Pembuatan Ethanol Fuel Grade Dari Sorghum (Sorghum Bi Color) Metode Reaksi Simultan Sakarifikasi Dan Fermentasi Sebagai Bahan Bakar Alternatif

Oleh : Ir. ENDAH RETNO DYARTANTI MT


Pembuatan etanol fuel grade dengan proses reaksi simultan sakarifikasi dan fermentasi (SSF) biji sorgum (sorghum bicolor L. Moencl) dengan enzim glukoamilase (aspergillus niger) dan yeast (saccharomyces cerevisiae). Pengeringan etanol menggunakan metode adsorpsi kolom unggun tetap dengan adsorbent silica gel dan CaO.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinetika reaksi SSF dan karakterisasi Ethanol Fuel Grade yang dihasilkan dengan proses adsorpsi kolom unggun tetap dengan adsorbent silica gel dan CaO. Reaksi SSF dilakukan setelah proses likuifikasi dimana sorghum,larutan aliquot dan enzim alpha-amylase pada pH 6,9 dipanaskan pada suhu 85 OC selama 1.5 jam.

Pada SSF, hasil proses likuifikasi kemudian didinginkan sampai suhu 55 OC dan pH 4,5 setelah itu ditambahan larutan stater dan enzim glukoamilase. Substrat direaksikan dalam erlenmeyer anaerob yang terendam dalam shaker bath. Proses SSF dijaga pada temperatur 30OC selama 10 jam. Proses pengeringan diawali dengan pemurnian etanol melalui destilasi hingga kadar ±95% dilanjutkan pengeringan menggunakan adsorber kolom unggun tetap dengan bahan isian Silica gel dan CaO.

Kolom adsorber terdiri tabung adsorber (D= 3,8cm;H= 40cm) dengan dengan jaket pemanas. Etanol diuapkan pada temperatur ± 80ºC. Uap etanol kemudian dialirkan ke dalam kolom unggun tetap yang berisi adsorbent (±200gr) yang telah dikeringkan. Pengeringan etanol dijalankan selama 90 menit. Uap etanol keluaran diembunkan menjadi etanol cair melalui kondenser. Dari penelitian ini dapat pada reaksi SSF dengan kisaran enzim glukoamilase 4 ml, 8 ml, 10 ml, dan 12 ml untuk konsentrasi substrat 12 %, didapatkan kondisi optimum yaitu menggunakan konsentrasi enzim glukoamilase 8 ml.

Pada penelitian diperoleh konstanta Michaelis-Menten (Km) untuk konsentrasi substrat 12 % dan enzim glukoamilase 8 ml adalah 11,6875 gr/l.jam dan laju reaksi maksimum (Vmax) 12,5 gr/l.jam.  Pada proses pengeringan didapatkan kondisi terbaik pada berat adsorben 200 gram laju alir uap etanol 0.1667 ml/s dan menit ke 25dengan konsentrasi etanol 99,7 %

Sumber : http://lppm.uns.ac.id/sirine/penelitian.php?idp=2916

"Azolla microphylla" Jadi Tumbuhan Alternatif Pakan Ternak

"Azolla microphylla" Jadi Tumbuhan Alternatif Pakan Ternak

Oleh: M Rusman



 "Azolla microphylla", tumbuhan sejenis rumput gulma air, kini banyak dijadikan sebagai alternatif bahan baku untuk pakan ternak di Kabupaten Nunukan.

"Tumbuhan jenis ini hidup dan mengapung di atas air pada kolam-kolam atau air tergenang dengan bentuk yang sangat kecil. Azolla microphylla ini sangat mudah didapatkan," kata Sekretaris Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, Ir Dian Kusumanto, di Nunukan, Kalimantan Timur, Selasa.

Menurut dia, tumbuhan itu sangat baik untuk dijadikan pakan ternak, karena kandungan proteinnya sangat tinggi, yakni sekitar 22-24 persen dalam keadaan kering dan 2-5 persen dalam keadaan basah.

"Azolla microphylla", kata Dian, merupakan tumbuhan merambat tetapi tidak memiliki batang dengan daun keriting serta banyak ditemukan di ruang terbuka yang tidak terkena cahaya matahari langsung.

Menurut dia, "Azolla microphylla" kandungan proteinnya lebih tinggi dari pada kedelai dan jagung. Dengan dasar inilah sehingga, tumbuhan ini dapat dijadikan pakan ternak alternatif.

Kemudian, katanya, tumbuhan itu sudah diteliti beberapa perguruan tinggi di Jawa misalnya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di mana zat-zat yang dibutuhkan ternak terdapat di dalamnya termasuk zat nitrogen yang diserap langsung dari udara.

Selain dapat dijadikan pakan ternak, katanya, "Azolla microphylla" ini juga dapat dijadikan sebagai bahan dasar pupuk cair. Apalagi dicampur dengan kencing sapi, air rumput laut dan batang pisang.

"Azolla ini dapat juga dijadikan bahan dasar untuk membuat pupuk cair. Tapi harus dicampur dengan bahan baku lainnya," kata Dian.  (*)

Editor: Arief Mujayatno

Sumber : http://www.antarakaltim.com/berita/6979/azolla-microphylla-jadi-tumbuhan-alternatif-pakan-ternak