..Ibadah qurban itu berarti perlu disiapkan dengan beternak yg baik !

Minggu, 14 Desember 2014

Mari mengenal tanaman Alfalfa yang multi fungsi dan berkhasiat

Rumput Alfalfa (Medicago Sativa L)

Alfalfa (Medicago sativa) Adalah Jenis Tanaman Kacang-kacangan (Leguminoseae) Yang Sudah Dapat Dibudidayakan Sejak Jaman Dahulu.  Berkat Kandungan Dan Nutrisinya Alfalfa Disebut Juga Father Of Food (Nenek Moyang Makanan). Tanaman Ini Mampu Hidup 3 Sampai 12 Tahun Tergantung Pada Kondisi Iklim Dan Varietas Serta Lokasi Dimana Tanaman Alfalfa Hidup.   Jumlah benih per 1000 gr adalah 182.360 - 188.000 biji





















Pakan Ternak Alfalfa Hay produk Boyolali Indonesia



HAY ALFALFA dari tanaman keluarga kacang-kacangan (medicago sativa) yang mengandung lebih banyak protein kasar , energi dan kalsium yang dicerna dari pada jenis rumput apapun. Perbedaan-perbedaan ini membuat Alfalfa Hay merupakan pilihan yang sempurna untuk hewan/ ternak yang sedang mengalami pertumbuhan, bunting atau menyusui. Dokter Hewan merekomendasikan Hay Alfalfa untuk kesehatan hewan Anda.

Hay Alfalfa dipanen dari kebun Selo Pass Boyolali bermerek COWBOY  ALFALFA (“Cowboy” singkatan dari Cow Boyolali/ Sapi Boyolali) telah dipilih oleh Pemiliknya langsung Nugroho Widiasmadi. Nugroho adalah generasi petani yang memahami dan mengakui kualitas Alfalfa.  Itulah mengapa setiap kemasan Hay Alfalfa Selo Pass selalu dikerjakan dengan  kualitas terjamin dan memenuhi kebutuhan gizi tinggi untuk hewan peliharaan Anda.


KONSUMSI UNTUK HEWAN
Sapi/ lembu, Biri-biri / domba, Kuda, Kelinci, Chinchillas, Anjing, Babi , Ayam/ Unggas, Kura-kura, Burung, Reptile / Iguana, Ikan air tawar, Ikan tambak/ Laut, dll
KANDUNGAN
Protein (min) ..............................25.0  %
Lemak (min)................................1.50  %
Serat (max) .................................20,0  %
Kandungan Air (max) ................15,0 %

KESEHATAN TERNAK 
Hay Alfalfa mutlak dan vital bagi kesehatan hewan memamah biak. Hay Alfalfa menyediakan tidak hanya serat, tetapi juga pengayaan lingkungan hewan peliharaan Anda yang sesuai dengan  habitat aslinya.  Sebagai peternak / pemelihara, ini merupakan bentuk tanggung jawab Anda untuk selalu menjaga kesehatan ternak  dengan menggunakan Hay Alfalfa.

PENYIMPANAN 
Simpan Hay Alfalfa ini di tempat yang sejuk dan kering, terlindung dari sinar matahari secara langsung. Dalam kemasan aslinya tidak diperlukan pendinginan atau pembekuan. Jika Anda memilih untuk menyimpan dalam wadah lain, pastikan  memiliki sirkulasi udara yang cukup.

HARGA PASAR             :    Rp. 45.000,-/ kg (tidak ada minimal order)
HARGA DISTRIBUTOR :    Rp. 30.000,-/ kg (minimal order 500 kg)
harga diluar ongkos kirim
PEMBAYARAN
Via Rekening atas nama Nugroho Widiasmadi
BCA            No. Rek  8165038068
MANDIRI    No. Rek. 135 00 95008585
BNI             No. Rek. 0198130919

Ekowisata Taman Air Indonesia / ETASIA
Jl. Tentara Pelajar Boyolali
Hp 081 22654 915

Sumber : http://nusaword.blogspot.com/2011/09/hay-alfalfa-dari-tanaman-keluarga.html

Jumat, 12 Desember 2014

Kisah kecil sosok Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman Menteri Pertanian Kabinet Kerja Jokowi-JK


'Pembunuh Hama' Kembalikan Uang Negara 600 Juta

Sandi Prastanto
'Pembunuh Hama' Kembalikan Uang Negara 600 Juta
Menteri Pertanian Amran Sulaiman (ANTARA/Andika Wahyu)
MAKASSAR (HN) -Penunjukan Amran Sulaiman, putra Sulawesi Selatan (Sulsel) sebagai Menteri Pertanian Kabinet Jokowi-JK dinilai tepat. Kejujurannya teruji saat ia pernah mengembalikan uang negara senilai lebih dari Rp. 600 juta.

"Kala itu sekitar tahun 1997, Amran bertugas sebagai juru bayar pembebasan lahan di Proyek Gula Tinanggea, Kendari, ia mengembalikan sisa uang lebih dari Rp 600 juta ke negara, padahal saat itu jika ia mau mengambilnya tak akan ada yang mempersoalkan karena dana pembayaran tersebut sudah dianggap habis," ungkap mantan Direktur PTPN XIV H.M. Ali Arief yang saat itu menjadi atasan Amran, di Makassar, Minggu (26/10).

Kejujuran Amran inilah yang menurut Ali, pada akhirnya membuat ayah empat anak tersebut memilih mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Bagian Logistik di perusahaan pelat merah tersebut.

"Amran tidak nyaman dalam kondisi sistem yang banyak menyimpang saat itu," ujarnya.

Selain jujur, lanjutnya, Amran juga merupakan sosok yang cerdas, inovatif, dan mampu memecahkan masalah.

"Saya menjuluki dia sebagai 'trouble shooter' karena setiap kali ada masalah yang pelik ia pasti mampu memecahkannya," urainya.

Ali mencontohkan suatu ketika mereka menghadapi masalah serangan hama babi di perkebunan kelapa sawit, sehingga mereka memutuskan membangun parit mengelilingi kebun.

"Hasilnya, babi-babi itu malah menimbun kembali parit yang dibuat dengan cara menggugurkan tanah di tepi parit," ujarnya.

Untunglah Amran datang dengan solusi yang sederhana namun efektif.

"Ia memberikan umpan tanpa racun selama dua hari berturut-turut, baru pada hari ke tiga, saat babi-babi mulai lengah, umpan dicampur dengan racun, hasilnya ribuan hama babi mati dan perkebunan terselamatkan," katanya.



Satu visi, punya kemauan
Keputusan Amran untuk terlibat mendukung Jokowi sebagai koordinator relawan Sahabat Rakyat KTI, kata Ali, juga tak terlepas dari kesamaan visi Amran dan Jokowi.

"Mereka sama-sama ingin melihat negara dibangun dengan sistem yang bersih," katanya.

"Amran sudah mengkaji berbagai masalah pertanian Indonesia dengan sejumlah pakar dan sudah ada konsep yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan ke depan," ujarnya.

Ali khususnya optimis jika Amran mampu membawa Indonesia menuju swasembada gula.

"Amran tahu betul berbagai masalah yang ada di industri gula dengan pengalamannya yang panjang di PTPN XIV, dan dengan kapasitasnya yang sudah teruji ia akan mampu menyelesaikan masalah tersebut," katanya.

Dilansir dari Antara, saat ditemui di Makassar, Sabtu (25/10) sebelum pengumuman kabinet, Amran Sulaiman sendiri mengaku tidak ingin berandai-andai jika ia menjadi menteri. Namun, kata Amran, jika Allah mempercayakan jabatan tersebut kepadanya ia optimis bisa memperbaiki sektor pertanian Indonesia.

"Saya yakin tidak sulit, yang penting punya kemauan, selain itu hati dan pikiran harus sejalan, jika tidak energi kita akan habis hanya karena pertarungan hati dan pikiran," ujarnya.

Amran Sulaiman pernah berkiprah di PTPN XIV, dan terakhir menjabat sebagai Kepala Bagian Logistik PTPN XIV Wilayah Timur, sebelum akhirnya mengundurkan diri pada tahun 2010. Amran juga tercatat sebagai Dosen Luar Biasa di Universitas Hasanuddin, dan CEO di Tiran. (sdp)

Sumber : http://m.harnas.co/2014/10/27/pembunuh-hama-kembalikan-uang-negara-600-juta

Pagari dengan pohon Salak cara efektif untuk mengatasi serangan hama Babi


Cara Mengatasi Serangan Babi Hutan Pada Tanaman Kelapa Sawit

Tanaman sawit hancur akibat serangan babi hutan
Tanaman sawit hancur


Mengatasi serangan babi hutan bukanlah perkara mudah. Mengendalikan hama bermoncong panjang dan kuat ini jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan mengatasi serangan tikus atau landak
Tingkat kesulitan mengendalikan babi hutan ini cukup tinggi dan butuh biaya ekstra,  karena tubuh babi yang lebih besar, tenaganya yang sangat kuat, dan kemampuan menggali tanahnya yang luar biasa. Jika babi mau, ia bisa menumbangkan sepohon kayu tegak sebesar paha orang dewasa, dengan cara menggali tanah tempat tumbuhnya.
babi hutan
babi hutan

Nah, apabila lahan anda yang akan ditanami kelapa sawit atau tanaman lain ada babi hutannya, maka terlebih dahulu harus diupayakan penanggulangan akan kemungkinan serangan hama itu.
Pemagaran tiap pohon sawit yang baru ditanam dengan kayu-kayu kecil tidaklah banyak membantu, karena babi memiliki kekuatan penghancur yang cukup kuat.

anak-sawit

Cara paling efektif dan murah adalah dengan memagari sekeliling lahan dengan tanaman salak yang banyak berduri panjang-panjang.

salak 1

Saat kecambah bibit sawit mulai ditanamkan ke polibag persemaiannya, maka mulai jugalah semai bibit salak.
Setahun kemudian, bibit salak sudah bisa ditanamkan di sekeliling lahan, jarak tanam 35-40 cm, atau tergantung besar anakan salak. Yang menjadi perhitungan adalah, setahun kemudian barisan tanaman salak sudah menyatu, hingga tak ada celah bagi babi untuk masuk.

Nah, saat bibit sawit sudah berumur dua tahun, adalah umur yang tepat untuk ditanamkan ke lahan yang memiliki sejarah serangan tikus, landak dan babi hutan.
Babi hutan dan landak sudah dipagar dengan salak berduri, sedangkan tikus sudah tak berdaya menghadapi besar dan kerasnya batang anak sawit umur dua tahun.
Sekarang anda sudah bisa memiliki sebidang kebun yang aman dari serangan hama pengerat. Dan anda bisa juga menikmati manis dan renyahnya buah salak yang berasal dari pohon yang anda tanam, meski pun awalnya hanya sebagai pagar hidup pelindung lahan.

salak lebat

Sebenarnya, masih ada cara lain yang cukup efektif untuk mengurangi efek destruktif dari babi hutan. Hanya saja cara ini butuh modal yang lebih banyak untuk pekerjaan.

Bibit kelapa sawit di tanam di dalam lubang ukuran panjang 50 cm, lebar 50 dan dalam 40 cm. Lalu didasar  lubang dibuat lubang lagi untuk menanam bibit. Lubang yang besar dibiarkan atau tidak ditimbun. Dengan cara ini babi hutan akan kesulitan menjangkau batang bawah bibit sawit. Babi tak punya pijakan untuk beraksi. Jika babi nekad, maka babi akan terperosok dan hidungnya tertusuk duri sawit.

Cara ini sudah terbukti efektif kami praktekkan di Bagan Siapi-api.

Cara yang paling umum dilakukan orang adalah dengan menanam bibit sawit yang sudah berumur 2 tahun. 1/3 bagian bibit sebelah atas dipangkas, lalu ditanam dengan cara memendam sejengkal batang bawah.
Jadi, bagian akar dan sejengkal bagian batang bawah ada di dalam tanah.

Kesulitannya adalah jarang sekali ada dijual bibit sawit umur 2 tahun. Kalau pun ada, harganya lumayan mahal. Jika bibit sawit non sertifikat umur setahun harganya 14.000 rupiah, bibit umur dua tahun bisa seharga 24.000 rupiah perpokok. 

Sumber foto lihat di : http://zahirkabupatenbatubara.blogspot.com/2014/03/1.html
Sumber : http://bibitsawitkaret.blogspot.com/2014/03/tanaman-sawit-hancur-mengatasi-serangan.html

Kearifan lokal penanganan hama secara tradisional di Gowa Sulawesi Selatan

Pengetahuan Petani Desa Tassese Tentang Penanganaan Hama Secara Tradisional

Tassese, 19 April 2010


Desa Tassese terletak di salah satu bukit kabupaten Gowa, kecamatan Manuju. Hamparan sawah, gunung, hutan dan sungai akan ditemui di desa ini, udara segar (bebas polusi) dan lingkungan yang bersahabat akan menjadi jaminan ketika berkunjung ke desa ini. Jarak tempuh desa ini dari kota Makassar menghabiskan waktu selama dua jam perjalanan dengan mengendarai mobil. Desa Tassese memiliki luas wilayah 9,7 Km2 dengan luas lahan pertanian (sawah) 267 Ha. Jumlah penduduk desa Tassese 1.767 jiwa terdiri atas 481 kepala keluarga. 99,7% penduduk Tassese adalah petani dan 0,3% sisanya berpropesi sebagai Pegawai Negri Sipil (PNS). Petani Tassese masing-masing memiliki lahan sendiri, namun tidak memiliki luas lahan yang sama, dalam satu kepala keluarga memiliki luas lahan minimal ½ Ha. 

Jissa (ibu angkat saya) seorang petani Tassese merupakan perempuan pekerja keras. Seorang ibu sekaligus ayah bagi kedua putranya (Rahmat dan Ramli). Suaminya (Maharuddin) meninggal 10 tahun yang lalu pada saat Rahmat berusia 5 tahun dan Ramli berusia 7 bulan. Sepeninggal suaminya, Jissa harus menghidupi kedua putranya dengan bertani, mengusahakan atau mengerjakan sendiri sawahnya seluas 1 ½ Ha. Untuk menyelesaikan pekerjaan yang berat(membajak sawah, panen, dan mengangkat hasil panen dari sawah ke rumah) Jissa tertolong oleh semangat gotong royong yang dimiliki oleh warga. Dari masa penanaman sampai panen selama 4 bulan Jissa tiap harinya berangkat ke sawah dengan melewati perjalanan ± 2 Km. 

Rutinitas ini harus dijalani Jissa untuk menjaga padinya dari hama penyerang. Kera atau Dare’ (Bahasa Makassar) menganggu tanaman padi pada pagi hari sampai pada sore hari jika tidak dijaga pemiliknya. Kondisi perekonomian penduduk Tassese’ sebagian besar masih memprihatinkan, hasil yang mereka peroleh dari pertanian kadang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dengan kondisi seperti ini Jissa harus mengurangi pengeluaran untuk menjaga kelangsungan hidupnya bersama kedua putranya. Untungnya Rahmat dan Ramli memperoleh pendidikan gratis di desa ini yang merupakan program pemerintah untuk menyelamatkan anak bangsa.

Pertanian ini adalah pekerjaan yang paling utama di desa ini sekaligus menjadi sumber kehidupan dan perekonomian penduduk dari zaman dahulu (nenek moyang) untuk menjaga kelangsungan hidup mereka. Hama penganggu tanaman padi, ditangani secara tradisional dengan menggunakan tangkai kayu yang diyakini dapat menangkal hama penganggu tanaman padi. Hama penganggu tanaman padi yaitu kera (dare’) babi hutan (bawi), tikus (balao), ulat daun (cambulu-bulu), ulat batang (lipang) dan sejenisnya. 

Cara tradisional untuk menangani hama dilakukan karena yakin dapat membantu dan setelah menggunakannya ternyata berhasil maka warga tetap menggunakan itu kemudian mengajarkannya kepada keturunan mereka. Cara tradisional menangani hama padi pada umumnya dikuasai oleh perempuan karena merekalah yang merawat tanaman padi setelah penanaman sampai panen. Setiap hama pengganggu tanaman padi cara penanganan tradisional berbeda-beda. Berikut ini gambaran atau penjelasan cara penanganan tiap-tiap hama.

a.      Kera (Dare’)
Kera atau dare’ menganggu tanaman padi mulai dari masa penanaman sampai pada padi siap di panen. Padi yang baru di anam akan dicabut atau diijak-injakdare' jika tidak dijaga pemiliknya, ketika padi sudah berbuah dare' ini mulai mengganggu lagi dengan mencabut dan memakan buah padi. Selain dijaga, cara lain yang digunakan oleh para petani untuk menjaga tanaman padi dari gangguan hama dare' adalah melakukan gotong royong untuk memassal(memburu) dare' dengan menggunakan tombak dan anjing. 
Ada juga cara lain yang diguankan tanpa dijaga atau dimassal yaitu membuat jebakan yang terbuat dari kayu yang menyerupai kandang dengan menaruh umpan yang sangat digemari  dare' yaitu pisang, jebakan tersebut hanya bertahan atau penggunaanya hanya beberapa tahun saja dan dare' pun tahu dan tidak bisa dijebak lagi, namun para petani tidak kehabisan akal setelah mengetahui bahwa ada racun yang bisa mematikan dare' tanpa dijebak atau dimassal dengan menggunakan pisang lalu memasukkan racun kedalamnya. Cara ini hanya bertahan sekitar tahun 90-an karena sudah banyak ternak, pisang yang menggunakan racun tidak hanya dare' yang memakannya tetap juga ternak penduduk. Namun cara lain seperti menjaga padi dan memburu secara massal masih bertahan sampai sekarang.

b.      Babi Hutan (bawi)
Babi hutan atau bawi (Bahasa Makassar) menganggu tanaman padi penduduk setelah padi berbuah dan mulai berisi. Babi merusak padi dan memakan buahnya, yang dapat menimbulkan kerugian besar ketika tidak ditangani. 
Ada beberapa cara tradisional yang digunakan untuk menangani hama babi :
1.  Menggunakan bessi-bessikang, dengan memasang bessi-bessikang pada pematang sawah maka hama babi mulai takut untuk mendekati, namun jika babi sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu babi tersebut tidak takut lagi (masih di gunakan sampai sekarang).
2.   Penggunaan ulambi’, dengan menggunakan ulambi’ yang digantungkan pada pematang sawah yang digantungi baju bekas, plastik, atau karung yang diolesi sabun atau oli dapat membantu petani untuk menjaga padi dari gangguan hama padi, bauh yang menyengat (sabun atau oli) serta gerakan kain, plastik yang digantung dapat menakuti babi untuk mendekat (masih digunakan).
3.   Gerseng longga (kallambau’), gerseng longga (kallambau’) dibakar sampai mengeluarkan bau yang menyengat kemudian digantungkan atau diletakkan pada sudut-sudut sawah agar babi hutan tidak mendekat karena bau yang dihasilkan oleh gerseng longga bakar. Penggunaan gerseng longga ini hanya bertahan selama dua hari kemudian diganti lagi (masih digunakan sekarang).
4.      Penggunaan tangkai kayu yang dianggap dan dipercayai dapat membantu menjaga tanaman padi dari serangan hama  babi. Jenis kayunya yakni :
*    Pakupalili dan seta, dipercayai dapat mengalihkan babi ke tempat lain dan tidak menuju ke tanaman padi milik petani yang menggunakannya.
*   Mali-mali’, dipercayai dengan menggunakan mali-mali’ babi hutan akan memiliki rasa sayang pada tanaman padi sehingga tidak merusak tanaman padi tersebut.
*     Leko' Inruk (daun aren) , dipercayai dapat mengalihkan babi ke tempat lain karena daun inruk muda dapat memancarkan atau silau ketika mata babi tertuju pada daun tersebut. Penggunaanpakupalilimali-maliseta dan leko' inruk digunakan dengan cara menancapkan pada bagian yang  telah dimakan atau dirusak  oleh babi hutan agar tidak dirusak ulang. Penggunaan ini tidak dilakukan sebelum babi merusak padi dan hanya berlaku pada tanaman padi tidak pada tanaman lain seperti palawija  dan tanaman perkebunan lainnya. Penggunaan cara tradisional ini masih digunakan sampai sekarang.
5.     Dimassal, cara penanganan hama babi ini dilakukan secra bergotong royong dengan melibatkan banyak warga serta menggunaka tombak dan anjing untuk membantu  memburu dan menangkap hama babi. Cara ini masih digunakan sampai sekarang.
6.     Memasang racun pada umpan (talas,ubi, pisang dll ), cara ini digunakan untuk mematikan babi, namun cara yang digunakan ini tidak berlangsung karena banyak ternak yang juga memakan umpan. Cara ini hanya bertahan samapi padatahun 90-an.
7.     Memasang jebakan, para petani memasang jebakan dengan cara memasang tali pada jalan  yang biasa dilalui oleh babi berupa tali yang bias menangkap babi pada saat tali tersebut terinjak. Selain itu jebakan yang bisa digunakan  yaitu membuat lubang kemudian memasang bamboo runcing pada lubang tersebut sehingga pada saat babi jatuh ke dalam maka akan tertusuk  oleh bamboo terebut (sudah tidak digunakan lagi)

c.       Hama Tikus (Balao)
Hama tikus merusak tanaman padi pada usia muda dan memakan buahnya setelah berbuah. Cara petani mengatasi hama ini dengan menggunakan jebakan untuk menangkap tikus yang terbuat dari  kayu yang menyerupai kayu namun cara ini tidak berlangsung lama digunakan karena dianggap tidak episien dan beralih keracun tikus, racun tikus tidak terlalu berbahaya pada ternak penduduk (sapi, kuda dan kerbau). Sampai sekarang ini cara yang digunakan adalah menggunakan racun dengan menggunakan umpan beras yang dicampur racu tikus atau kepiting kecil yang dimatikan kemudian menaruh racun tikus pada kepiting tersebut.
d.      Hama lainnya ( ulat, ulat batang, walang sangit dan semut merah ).
Cara tradisional yang digunakan petani untuk menangani hama padi tersebut dengan menggunakan leko' tattang olo’. Jenis hama padi ini menganggu tanaman padi pada  pertumbuhan sampai padi mulai berbuah. leko' tattang olo’dipercayai dapat mengusir hama jenis ini secara perlahan-lahan dan akhirnya menghilang pada tanaman padi. Cara tradisional ini masih digunakan sampai sekarang. Selain mempertahankan dan menerapkan pengetahuan yang diwariskan oleh nenek moyang juga untuk mengurangi biaya yang digunakan untuk merawat tanaman padi.

Cara-cara tradisional seperti penanganan hama kera dan babi  yang tidak mematikan ternak, masih tetap dipertahankan dan digunkan sampai sekarang  begitupun pada penanganan kelompok hama lainnya namun tidak semua penduduk atau petani tassese’ menggunkannya karena beberapa daerah (sawah petani) tidak diganggu oleh hama babi atau kera karena jauh dari hutan akan tetapi daerah (sawah) petani yang ada di dekat hutan masih menggunakan cara tersebut. Karena kurang atau tidak diserang oleh hama babi dan kera maka banyak penduduk yang tidak memperhatikan lagi serta tidak tahu cara penanganan hama traisional tersebut.

Selain itu dengan adanya penyuluhan pertanian serta pengetahuan para petani tentang penanganan hama praktis (penggunaan pestisida) masyarakat lebih cenderung  menggunakan pestisida untuk memberantas hama tetapi petani yang tidak memiliki uang yang cukup membeli pestisida masih tetap menggunakan cara tradisional. Informasi dari hasil penelitian saya ini saya peroleh dari ibu angkat saya (Jissa) seorang petani (35 tahun), Abbas Situru (37 tahun) Sekdes Tassese’, Dg. Sonrong (45 tahun) petani, Karaeng Tutu (60 tahun), Rahmad (Siswa SLTP), Indar Sallang (35 tahun ) petani Tassese’, dan Dg. Juma’(50 tahun) petani Tassese’.

-Yosep Rantesalu-

Sumber : http://pilartassese.blogspot.com/2012/03/pengetahuan-petani-desa-tassese-tentang.html



Mengusir hama babi dengan potongan rambut manusia ternyata sangat efektif dan aman


“PANCANG” TEKNIK MENGUSIR HAMA BABI ALA RANGKIANG LULUIH


pancang
Seorang Ibu-ibu sedang asyik membakar rambut sebagai cara untuk mengusir hama babi.(Febriboy Amra doc.)

Disaat masyarakat daerah lain disibukkan dengan melakukan berburu babi massal agar hama bai dapat musnah dari sekitar sawah dan ladang mereka dengan bermodalkan anjing pemburu yang harganya berkisar dari ratusan ribu rupiah hingga Puluhan jura rupiah, nun jauh di Tigo Lurah sana masyarakat melalui cara yang turun temurun mereka terima sampai saat ini masih manjur untuk mengusir hama babi dari sawah mereka. Bisa dibilang ini adalah salah satu KEARIFAN LOKALl masyarakat Tigo Lurah, karena cara seperti ini mungkin tidak akan kita temukan di daerah lain. 

Sekarang kita simak sebentar Teknik Mengusir Babi ini :
Peralatan dan bahan yang dibutuhkan sangat sederhana
  1. Rambut manusia, biasanya rambut kaum hawa khan sering rontok, jadi itu bisa digunakan.
  2. Bambu yang sudah dibelah (PANCANG), sebagai tempat untuk meletakkan rambut.
Daun, biasanya di Tigo Lurah  masyarakat memakai daun Manggis karena pohon Manggis cukup banyak disana.
Cara pelaksanaannya :
  1. Ambil rambut, kemudian gulung  kira-kira sebesar kotak korek api,
  2. Selipkan rambut tersebut ke Bilah (bambu yang telah dibelah),
  3. Tancapkan bambu yang sudah ada rambutnya ditanah pada sekeliling sawah/kebun,
  4. Pada bagian atas rambut selipkan daun yang masih hijau untuk menghindari rambut basah oleh embun atau karena hujan,
  5. Letakkan pancang disekeliling sawah/kebun,
  6. Bakar rambut tersebut pada sore hari.
deretan-pancang-disekeliling-sawah(Febriboy Amra doc.)

Menurut keterangan masyarakat setempat alasan mereka mempergunakan teknik “Pancang” ini karena bau dari rambut yang dibakar tersebut sangat menyengat sehingga mirip dengan bau Harimau, seperti kita ketahui Babi sangat takut dengan Harimau karena Babi adalah salah satu dari mangsanya Harimau. Sekilas saja dapat kita analisa bahwa alasan masyarakat setempat sangat ilmiah , wajar sepanjang warga yang menerapkan teknik ini sawah/ladangnya cukup terjaga dari hama babi.

Mungkin saja teknik ini dapat diadopsi oleh masyarakat di daerah lain yang cukup terganggu dengan kehadiran hama Babi, karena “Membunuh makhluk hidup lain bukanlah satu-satunya jalan untuk membuat kita selamat dari gangguannya “. Semoga bermanfaat.

Sumber : http://tigolurah.wordpress.com/2008/11/15/pancang-teknik-pengusir-hama-babi-ala-rangkiang-luluih/