..Ibadah qurban itu berarti perlu disiapkan dengan beternak yg baik !

Kamis, 31 Mei 2012

BELAJAR DARI PENANGANAN OPT DALAM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS HORTIKULTURA DI VIETNAM

BELAJAR DARI VIETNAM

Beras Adan Krayan Peroleh Sertifikasi Indikasi Geografis

Beras Adan Krayan Peroleh Sertifikasi Indikasi Geografis

Rabu, 25 Januari 2012
Beras Adan Krayan memperoleh sertifikat indikasi geografis dari Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM.Sertifikat Indikasi Geografis Beras Adan Krayan diserahkan langsung oleh Dirjen HKI yang didampingi Kakanwil Kalimantan Timur kepada Gubernur Kalimantan Timur pada upacara hari ulang tahun Kalimantan Timur ke 55 di lapangan Madya Sempaja Samarinda pada tanggal 9 Januari 2012.

Upaya perlindungan beras Adan Krayan merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI dengan Kementerian Dalam Negeri RI dan Kementerian Pertanian RI ”Tentang Pengembangan Potensi Produk Indikasi Geografis Bidang Pertanian”. Kemudian pada tanggal 26 September 2011, Beras Adan Krayan diajukan oleh Asosiasi Masyarakat Adan untuk mendapatkan perlindungan hukum perlindungan Indikasi Geografis
           
Beras Adan Krayan. Permohonan ini ditindaklanjuti oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bersama dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM dan Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan Timur dengan melakukan pembinaan dan bantuan tehnis yang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan substantif oleh Tim Ahli Indikasi Geografis dan dinilai memenuhi syarat  untuk dapat didaftar sebagai salah satu produk Indikasi Geografis Indonesia.
           
Beras Adan merupakan beras yang diproduksi oleh petani di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur yang merupakan salah satu kawasan terluar yang berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia. Wilayah Krayan berada pada ketinggian sekitar 1.000 m di atas permukaan laut Wilayah tersebut termasuk sulit dijangkau karena hanya bisa ditempuh melalui jalan udara dari kabupaten Nunukan atau Tarakan dan tidak ada akses melalui jalan darat atau sungai, Wilayah Krayan merupakan  lembah yang dikelilingi hutan lindung dan sejumlah gunung yang secara administratif dibagi menjadi dua yaitu kecamatan Krayan Induk dan Kecamatan Krayan Selatan.  Wilayah tersebut terkenal menghasilkan  beras dengan  cita rasa khas,   penanaman padi diolah secara organik dengan memanfaatkan kotoran kerbau sebagai input pemupukan. Cita rasa beras Adan Krayan tidak bisa ditemukan di wilayah lain hal ini merupakan satu keunikan tersendiri.
           
Dengan keunggulan yang dimiliki maka beras Adan dikonsumsi secara luas di Malaysia dan Brunei Darussalam bahkan konon keluarga kerajaan Brunei Darussalam gemar mengkonsumsi beras Adan Krayan sebagai sumber makanan pokok sehari-hari.

Bario Rice            
Salah satu alasan pentingnya pendaftaran IG Beras Adan Kerayan tidak terlepas dari keberadaan Bario rice. Bario rice adalah beras yang dihasilkan di kampung Bario, Serawak Malaysia yang wilayahnya berbatasan langsung dengan wilayah Krayan,  Bario Rice yang telah terdaftar sebagai produk IG di Malaysia memiliki ciri khas yang tidak jauh berbeda dengan Adan Krayan karena wilayah pertumbuhan ada dalam satu kawasan.

Wilayah penanaman Bario Rice tidak seluas areal penanaman Beras Adan oleh sebab itu surplus beras Adan sering diperdagangkan  dengan nama Bario Rice oleh para pedagang di Malaysia. Hal ini tentu bisa ditebak mereka membeli beras Adan Krayan dengan harga sangat murah dan menjualnya dengan harga setinggi-tingginya dengan nama Bario Rice.
           
Harapan masyarakat Krayan dengan didaftarkannya beras adan krayan adalah Pemerintah cq Kementerian hukum dan HAM dapat memberikan pengakuan sekaligus perlindungan hukum terhadap penyalahgunaan nama asal barang sehingga reputasi yang ada dapat dipertahankan. pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan para petani  krayan.


Sumber: http://www.dgip.go.id/kegiatan/berita-hki/107-beras-adan-krayan

Sumber : http://www.organicindonesia.org/05infodata-news.php?id=321
 

Padi Adan Tana Tam, Tradisional dan Organik Dataran Tinggi Krayan

Padi Adan Tana Tam, Tradisional dan Organik Dataran Tinggi Krayan

Rabu, 10 November 2010
Masyarakat adat di dataran tinggi Borneo khususnya Kecamatan Krayan Selatan dan Krayan Induk, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur telah menghasilkan padi lokal Adan Tana Tam. Padi adan putih, hitam dan merah atau dalam bahasa lokal pade adan buda, hitem dan sia merupakan bibit lokal hasil budidaya masyarakat adat secara tradisional.

“Beras tersebut adalah produk unggulan hasil pertanian tradisional masyarakat dengan ciri khas aroma, cita rasa dan tekstur halus,” kata Darius Khamis sebagai Ketua Koperasi Tana Tam di sela acara Indonesia Organic and Green Fair 2010 di Lapangan Taman Koleksi Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Baranangsiang, Bogor, Jawa Barat (6/11).

Khamis mengatakan bahwa pola pertanian tradisional di dataran tinggi Krayan ini merupakan pola pertanian organik yang dipadukan dengan peternakan kerbau dan memanfaatkan air jernih dari gunung untuk irigasi persawahan. Proses penanaman sederhana.

Dalam setahun masyarakat hanya memanan padi ini satu kali. Setelah panen, lahan dibiarkan menjadi tempat kerbau berkubang dan membuang kotoran di sana. Pada bulan Juli sampai Agustus merupakan masa tanam, lalu pemanenan dilakukan pada bulan Januari sampai Februari.  

Hutan yang masih alami dan belum rusak menjamin bahwa lahan dan air yang mengalir ke persawahan adalah air yang  murni, jernih dan bebas bahan kimia. Sebagian hutan di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan termasuk dalam Taman Nasional Krayan Mentarang, taman nasional pertama di Indonesia yang dikelola secara kolaboratif bersama masyarakat adat.

Menurut Khamis, beras adan sudah dikenal oleh konsumen baik di tingkat lokal, nasional mupun luar negeri. Permintaan konsumen akan beras organik bermutu tinggi dari Krayan semakin hari semakain meningkat. Hal itu mendorong kelompok petani di Krayan Selatan membentuk Koperasi Serba Usaha Tana Tam Krayan Hulu (KSU-TTKH).

Pembentukan koperasi ini untuk menjaga kualitas beras dan keorganikan menyangkut proses persiapan lahan, seleksi bibit, penanaman, pasca panen, penggilingan sampai proses pengemasan untuk dipasarkan. Upaya ekstra tersebut dilakukan untuk menambah nilai pasar beras adan agar harganya adil dan mendapat kepercayaan konsumen.

Sebelum ada inisiatif ini, beras adan varietas merah dan hitam kian kurang ditanam oleh petani karena hasil panennya lebih rendah dibandingkan varietas padi baru hasil rekayasa laboratorium. Padahal jenis lokal lebih tahan terhadap perubahan lingkungan dan serangan hama. Namun dengan meningkatnya minat pasar maka petani di Krayan sudah mulai menanam kembali varietas lokal yang organis ini dalam jumlah lebih banyak.

Untuk meningkatkan kualitas juga, mulai 2008 budidaya padi ini juga menggunakan pupuk kompos buatan petani sendiri. "Upaya penggunaan kompos buatan ini tidak akan mengurangi nilai tradisional dari padi adan," kata Khamis.

Beras adan putih, merah dan hitam ini adalah makanan yang sehat. Zat yang terkandung di dalamnya, khususnya varietas beras adan merah (vitamin B2) dan beras adan hitam (mineral ferum, phosphorus dan calcium) menunjukkan bahwa pilihan beras ini adalah pilihan beras sehat untuk keluarga. Beras adan hitam juga memiliki kandungan protein yang sangat tinggi sedangkan kandungan lemaknya lebih sedikit.

Beras Adan Tana Tam (tana tam berarti tanah kita) dijual dalam kemasan 1 kg dan sudah mendapat sertifikat merk dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Kementerian Hukum dan HAM. Harga 1 kg beras adan sekitar 25 ribu rupiah saat pameran. Saat ini lahan padi Adan Tana Tam seluas 0,5 hektar dan menghasilkan hasil panen 0,5 ton (500 kg).  

Sumber : http://www.organicindonesia.org/05infodata-news.php?id=204
 

Petani Sambut Gembira Sertifikat IG Beras Adan Krayan

Petani Sambut Gembira Sertifikat IG Beras Adan Krayan

Senin, 13 Februari 2012

Robertson, petani adat Krayan mengaku yakin semua masyarakat adat di Krayan akan menyambut gembira kabar berhasilnya pemerintah provinsi mendapatkan sertifikat IG beras Adan Krayan. Meski belum banyak masyarakat yang tahu tentang terbentuknya Asosiasi Masyarakat Adat Perlindungan Beras Adan Krayan yang baru beberapa bulan yang lalu namun sejak dulu para petani ingin agar beras adan itu keluar membawa nama Krayan.
“Beras adan merupakan varietas khas di Krayan sejak nenek moyang dulu, dan  secara turun temurun tetap dipertahankan sebagai beras yang paling halus di dataran tinggi Borneo dengan nilai pasar cukup tinggi juga,” kata pemuda adat yang juga berprofesi sebagai guru SMK ini.
Yagung sebagai Kepala Adat Besar Krayan Darat dan pengurus FORMADAT berharap dengan adanya sertifikat IG, beras Adan Krayan punya nama dan label, dapat membuka lebar pintu pemasaran untuk beras Adan Krayan. Selain itu  juga  harga beras Adan dari Krayan yang selama ini banyak tergantung pada Malaysia bisa stabil.
“Padi Adan inilah yang ditanam sampai sekarang oleh masyarakat adat di dataran tinggi, bukan hanya di Krayan tetapi juga di Bario, Ba’ Kelalan, dan Long Pasia (Malaysia), karena kami sebenarnya satu rumpun, satu keluarga yang terpisah oleh batas negara,” katanya,
“Sekarang sudah ada nama beras Adan Krayan, ada juga beras Bario, mudah-mudahan akan ada juga nama beras Adan Ba’Kelalan dan nama beras Adan Long Pasia, itulah beras Adan warisan kearifan dan praktik pertanian tradisional masyarakat di dataran tinggi Borneo,” tambahnya.
HKI Menurut Kearifan Lokal dan Kawasan Masyarakat Adat
Ada juga harapan bahwa pada satu hari akan ada pengakuan HKI sesuai kearifan lokal dan tanah atau kawasan masyarakat adat dan bukan berdasarkan batas negara, karena beras Adan memang sama. Bila ditelusuri asal usul dan kepemilikan secara intelektual beras Adan tersebut adalah HKI bersama (collective right) masyarakat adat dataran tinggi Borneo, termasuk Krayan, Ba’ Kelalan, Ulu Padas, dan Bario.
Selama ini Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo (FORMADAT) memperjuangkan bagaimana varietas lokal padi Adan (putih, merah, dan hitam) diakui sebagai bentuk kearifan lokal dan hak kepemilikan intelektual oleh semua masyarakat adat (satu rumpun budaya, bahasa dan asal usul) di dataran tinggi Borneo, Indonesia dan Malaysia (Sarawak dan Sabah). 
Sejak 2006, masyarakat adat di dataran tinggi Borneo (Bario-Sarawak, Krayan and Krayan Selatan-Nunukan, Indonesia, Ba’ Kelalan dan Long Semadoh-Sarawak, Ulu Padas-Sabah), melalui FORMADAT Malaysia-Indonesia, sesuai visi dan misi organisasi ini telah berusaha memperkenalkan dan mempromosikan beras Adan (organik) sebagai  Varietas Lokal Dataran Tinggi Borneo melalui beberapa cara: penjualan, promosi dalam pameran baik di Indonesia maupun di Malaysia.
Di kemasan  beras Adan TANA TAM (merek dagang resmi) terdapat tulisan, “VARIETAS LOKAL DATARAN TINGGI BORNEO” (beras yang dijual di Ba’ Kelalan-Sarawak dan Krayan-Indonesia) sebagai bentuk pengakuan secara informal dan secara adat bahwa beras Adan yang ada di Bario, Krayan, Ba’ Kelalan, dan Ulu Padas adalah varietas lokal yang sebenarnya sama, hasil kearifan tradisional dan warisan budaya masyarakat adat di dataran tinggi Borneo, Indonesia dan Malaysia. (ANP/SNY)
Sumber : http://www.organicindonesia.org/05infodata-news.php?id=328
 

Selasa, 29 Mei 2012

Sambut Gembira Sertifikat IG Beras Adan Krayan

Sambut Gembira Sertifikat IG Beras Adan Krayan

Senin, 13 Februari 2012
Robertson, petani adat Krayan mengaku yakin semua masyarakat adat di Krayan akan menyambut gembira kabar berhasilnya pemerintah provinsi mendapatkan sertifikat IG beras Adan Krayan. Meski belum banyak masyarakat yang tahu tentang terbentuknya Asosiasi Masyarakat Adat Perlindungan Beras Adan Krayan yang baru beberapa bulan yang lalu namun sejak dulu para petani ingin agar beras adan itu keluar membawa nama Krayan.
“Beras adan merupakan varietas khas di Krayan sejak nenek moyang dulu, dan  secara turun temurun tetap dipertahankan sebagai beras yang paling halus di dataran tinggi Borneo dengan nilai pasar cukup tinggi juga,” kata pemuda adat yang juga berprofesi sebagai guru SMK ini.
Yagung sebagai Kepala Adat Besar Krayan Darat dan pengurus FORMADAT berharap dengan adanya sertifikat IG, beras Adan Krayan punya nama dan label, dapat membuka lebar pintu pemasaran untuk beras Adan Krayan. Selain itu  juga  harga beras Adan dari Krayan yang selama ini banyak tergantung pada Malaysia bisa stabil.
“Padi Adan inilah yang ditanam sampai sekarang oleh masyarakat adat di dataran tinggi, bukan hanya di Krayan tetapi juga di Bario, Ba’ Kelalan, dan Long Pasia (Malaysia), karena kami sebenarnya satu rumpun, satu keluarga yang terpisah oleh batas negara,” katanya,
“Sekarang sudah ada nama beras Adan Krayan, ada juga beras Bario, mudah-mudahan akan ada juga nama beras Adan Ba’Kelalan dan nama beras Adan Long Pasia, itulah beras Adan warisan kearifan dan praktik pertanian tradisional masyarakat di dataran tinggi Borneo,” tambahnya.
HKI Menurut Kearifan Lokal dan Kawasan Masyarakat Adat
Ada juga harapan bahwa pada satu hari akan ada pengakuan HKI sesuai kearifan lokal dan tanah atau kawasan masyarakat adat dan bukan berdasarkan batas negara, karena beras Adan memang sama. Bila ditelusuri asal usul dan kepemilikan secara intelektual beras Adan tersebut adalah HKI bersama (collective right) masyarakat adat dataran tinggi Borneo, termasuk Krayan, Ba’ Kelalan, Ulu Padas, dan Bario.
Selama ini Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo (FORMADAT) memperjuangkan bagaimana varietas lokal padi Adan (putih, merah, dan hitam) diakui sebagai bentuk kearifan lokal dan hak kepemilikan intelektual oleh semua masyarakat adat (satu rumpun budaya, bahasa dan asal usul) di dataran tinggi Borneo, Indonesia dan Malaysia (Sarawak dan Sabah). 
Sejak 2006, masyarakat adat di dataran tinggi Borneo (Bario-Sarawak, Krayan and Krayan Selatan-Nunukan, Indonesia, Ba’ Kelalan dan Long Semadoh-Sarawak, Ulu Padas-Sabah), melalui FORMADAT Malaysia-Indonesia, sesuai visi dan misi organisasi ini telah berusaha memperkenalkan dan mempromosikan beras Adan (organik) sebagai  Varietas Lokal Dataran Tinggi Borneo melalui beberapa cara: penjualan, promosi dalam pameran baik di Indonesia maupun di Malaysia.
Di kemasan  beras Adan TANA TAM (merek dagang resmi) terdapat tulisan, “VARIETAS LOKAL DATARAN TINGGI BORNEO” (beras yang dijual di Ba’ Kelalan-Sarawak dan Krayan-Indonesia) sebagai bentuk pengakuan secara informal dan secara adat bahwa beras Adan yang ada di Bario, Krayan, Ba’ Kelalan, dan Ulu Padas adalah varietas lokal yang sebenarnya sama, hasil kearifan tradisional dan warisan budaya masyarakat adat di dataran tinggi Borneo, Indonesia dan Malaysia. (ANP/SNY)
Sumber : http://www.organicindonesia.org/05infodata-news.php?id=328
 

Pembuatan Ethanol Fuel Grade Dari Sorghum (Sorghum Bi Color) Metode Reaksi Simultan Sakarifikasi Dan Fermentasi Sebagai Bahan Bakar Alternatif

Pembuatan Ethanol Fuel Grade Dari Sorghum (Sorghum Bi Color) Metode Reaksi Simultan Sakarifikasi Dan Fermentasi Sebagai Bahan Bakar Alternatif

Oleh : Ir. ENDAH RETNO DYARTANTI MT


Pembuatan etanol fuel grade dengan proses reaksi simultan sakarifikasi dan fermentasi (SSF) biji sorgum (sorghum bicolor L. Moencl) dengan enzim glukoamilase (aspergillus niger) dan yeast (saccharomyces cerevisiae). Pengeringan etanol menggunakan metode adsorpsi kolom unggun tetap dengan adsorbent silica gel dan CaO.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinetika reaksi SSF dan karakterisasi Ethanol Fuel Grade yang dihasilkan dengan proses adsorpsi kolom unggun tetap dengan adsorbent silica gel dan CaO. Reaksi SSF dilakukan setelah proses likuifikasi dimana sorghum,larutan aliquot dan enzim alpha-amylase pada pH 6,9 dipanaskan pada suhu 85 OC selama 1.5 jam.

Pada SSF, hasil proses likuifikasi kemudian didinginkan sampai suhu 55 OC dan pH 4,5 setelah itu ditambahan larutan stater dan enzim glukoamilase. Substrat direaksikan dalam erlenmeyer anaerob yang terendam dalam shaker bath. Proses SSF dijaga pada temperatur 30OC selama 10 jam. Proses pengeringan diawali dengan pemurnian etanol melalui destilasi hingga kadar ±95% dilanjutkan pengeringan menggunakan adsorber kolom unggun tetap dengan bahan isian Silica gel dan CaO.

Kolom adsorber terdiri tabung adsorber (D= 3,8cm;H= 40cm) dengan dengan jaket pemanas. Etanol diuapkan pada temperatur ± 80ÂșC. Uap etanol kemudian dialirkan ke dalam kolom unggun tetap yang berisi adsorbent (±200gr) yang telah dikeringkan. Pengeringan etanol dijalankan selama 90 menit. Uap etanol keluaran diembunkan menjadi etanol cair melalui kondenser. Dari penelitian ini dapat pada reaksi SSF dengan kisaran enzim glukoamilase 4 ml, 8 ml, 10 ml, dan 12 ml untuk konsentrasi substrat 12 %, didapatkan kondisi optimum yaitu menggunakan konsentrasi enzim glukoamilase 8 ml.

Pada penelitian diperoleh konstanta Michaelis-Menten (Km) untuk konsentrasi substrat 12 % dan enzim glukoamilase 8 ml adalah 11,6875 gr/l.jam dan laju reaksi maksimum (Vmax) 12,5 gr/l.jam.  Pada proses pengeringan didapatkan kondisi terbaik pada berat adsorben 200 gram laju alir uap etanol 0.1667 ml/s dan menit ke 25dengan konsentrasi etanol 99,7 %

Sumber : http://lppm.uns.ac.id/sirine/penelitian.php?idp=2916

"Azolla microphylla" Jadi Tumbuhan Alternatif Pakan Ternak

"Azolla microphylla" Jadi Tumbuhan Alternatif Pakan Ternak

Oleh: M Rusman



 "Azolla microphylla", tumbuhan sejenis rumput gulma air, kini banyak dijadikan sebagai alternatif bahan baku untuk pakan ternak di Kabupaten Nunukan.

"Tumbuhan jenis ini hidup dan mengapung di atas air pada kolam-kolam atau air tergenang dengan bentuk yang sangat kecil. Azolla microphylla ini sangat mudah didapatkan," kata Sekretaris Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, Ir Dian Kusumanto, di Nunukan, Kalimantan Timur, Selasa.

Menurut dia, tumbuhan itu sangat baik untuk dijadikan pakan ternak, karena kandungan proteinnya sangat tinggi, yakni sekitar 22-24 persen dalam keadaan kering dan 2-5 persen dalam keadaan basah.

"Azolla microphylla", kata Dian, merupakan tumbuhan merambat tetapi tidak memiliki batang dengan daun keriting serta banyak ditemukan di ruang terbuka yang tidak terkena cahaya matahari langsung.

Menurut dia, "Azolla microphylla" kandungan proteinnya lebih tinggi dari pada kedelai dan jagung. Dengan dasar inilah sehingga, tumbuhan ini dapat dijadikan pakan ternak alternatif.

Kemudian, katanya, tumbuhan itu sudah diteliti beberapa perguruan tinggi di Jawa misalnya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di mana zat-zat yang dibutuhkan ternak terdapat di dalamnya termasuk zat nitrogen yang diserap langsung dari udara.

Selain dapat dijadikan pakan ternak, katanya, "Azolla microphylla" ini juga dapat dijadikan sebagai bahan dasar pupuk cair. Apalagi dicampur dengan kencing sapi, air rumput laut dan batang pisang.

"Azolla ini dapat juga dijadikan bahan dasar untuk membuat pupuk cair. Tapi harus dicampur dengan bahan baku lainnya," kata Dian.  (*)

Editor: Arief Mujayatno

Sumber : http://www.antarakaltim.com/berita/6979/azolla-microphylla-jadi-tumbuhan-alternatif-pakan-ternak
 

Pemerintah Daerah menggagas Raperda Peternakan dan Kesehatan Hewan

Dorong Optimalisasi PAD, Pemkab Prakarsai 3 Raperda



Pemerintah Kabupaten Nunukan dalam pertengan tahun ini, merumuskan 3 (tiga) Rancangan Peraturan Daerah( Raperda) yang bertujuan mendorong optimalisasi Pendapatan Asli Daerah. Raperda tersebut adalah Raperda Retribusi Pasar, Raperda Pelayanan Kebersihan dan Retribusi Mineral Bukan Logam dan Batuan.

Hal ini disampaikan Bupati Nunukan, Drs. Basri dalam Rapat Paripurna Ke 1 masa sidang II Tahun 2012 tentang Penyampaian Nota Penjelasan terhadap 7 Raperda yang diprakarsai Legislatif dan Eksekutif Kabupaten Nunukan, Rabu (16/05/12) di Ruang Rapat Paripurna DPRD Nunukan.

Dengan adanya raperda tersebut, dipastikan dapat menjadi payung hukum atau instrumen dalam pemungutan retribusi untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan serta tercapainya kesejahteraan masyarakat dan peningkatan pelayanan Publik.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Nunukan, Drs. Basri, juga menyampaikan 2 (dua) rancangan Peraturan Daerah (Raperda) antara lain, Raperda Tentang Rencana Pembangunan jangka Menegah Daerah (RPJMD) Kabupaten Nunukan Tahun 2012-2016, dan Raperda tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Nunukan.

Raperda RPJM D tersebut, diprakarsai untuk menjamin keterpaduan dan kesinambungan pembagunan yang berkelanjutan dalam jangka menengah sesuai kondisi Karakteristik daerah dalam mewujudkan visi misi dan arah pembagunan Kabupaten Nunukan.

“Raperda RPJMD sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan pembangunan Nunukan khususnya sebagai pedoman resmi bagi seluruh jajaran pemerintah Daerah dan DPRD dalam menentukan prioritas program dan kegiatan.” Kata Basri.

Untuk meningkatkan Produktifitas ternak dan melindungi masyarakat terhadap bahaya residu dan mikroba, Pemerintah Daerah menggagas Raperda Peternakan dan Kesehatan Hewan. Hal ini berperan penting dalam menyediakan hasil pangan yang bersumber dari hewan.
Adanya raperda ini di maksudkan untuk menciptakan kesehatan hewan ternak dan melindungi kesehatan manusia serta ekosistem lingkungan yang menjadi prasyarat terselenggaranya peternakan yang maju, berdaya saing dan berkelanjutan, sehingga penyediaan pangan aman, sehat, utuh dan halal.

Karena itu, melalui Nota Penjelasan Raperda tersebut, Bupati Nunukan, Drs. Basri berharap agar Pemerintah Daerah dan DPRD Nunukan bersama-sama meningkatkan dan memperkokoh pembangunan dalam mewujudkan masa depan Kabupaten Nunukan yang lebih baik.

“Saya sungguh berharap kepada para angggota DPRD, untuk bersama-sama pemerintah meningkatkan proses dan kulitas pembanguan yang telah berjalan selama ini.” Kata Basri, di akhir penyampaian Nota Penjelasan Raperda dalam Rapat Paripurna DPRD Nunukan, minggu lalu.(Humas-SH)
 
Sumber : http://dprd.nunukankab.go.id/index.php?mod=content&act=read&id=117&cat=berita&title=dorong-optimalisasi-pad-pemkab-prakarsai-3-raperda

Senin, 28 Mei 2012

Fermentasi Jerami Starbio, Usaha Baru Yang Menjanjikan




Fermentasi Jerami Starbio, Usaha Baru Yang Menjanjikan



Apa yang dilakukan Sukadi S.Pd, seorang mantan Kepala Desa Pandean, Karanganyar merupakan suatu upaya yang perlu ditiru, pasalnya, mantan Kepala Desa yang sekarang aktif menjadi pengajar di SMP 3 Karanganyar, telah melakukan usaha yang bisa menjadi contoh untuk meningkatkan kesejahteraan melalui budidaya fermentasi jerami starbio. Sebagai mantan Kades yang sudah dua kali menjabat sebagai kepala desa, Sukadi tergolong seorang yang peduli dan aktif meskipun tidak lagi menjabat. Hal ini bisa dibuktikan keikutsertaannya dalam membina dan membantu masyarakat sekitarnya dengan aktif dalam kegiatan kelompok tani.

Desa Pandean letaknya berbatasan antara Jawa Tengah – Jawa timur yang mempunyai areal hutan 4.118,114 Ha, sangat cocok untuk peternakan. Di Desa Pandean ini, terdapat 8 Kelompok tani dan ada 2.230 KK, hampir setiap KK rata-rata memiliki 2 ekor ternak, dengan niat yang tulus dan mulia, mantan kepala desa mengundang Balai Penyuluhan Pertanian dari dinas Perikanan dan Peternakan, untuk mengadakan pelatihan pembuatan pakan ternak dari limbah pertanian.

Jerami padi merupakan limbah tanaman pertanian yang sangat potensial sebagai pakan hijauan terutama di daerah kering. Pada penghujan, jerami padi diberikan dalam jumlah sedikit. sedangkan pada musim kemarau pada umumnya peternak memberikan jerami padi sebagai hijauan tunggal. Jerami padi mengandung sedikit protein, lemak dan pati serta serat kasar yang relatif tinggi karena lignin dan silikanya tinggi. Untuk meningkatkan kecernaan jerami padi dan jumlah konsumsinya, jerami padi perlu diberi perlakuan secara biologis dengan menggunakan probiotik. Probiotik merupakan produk bioteknologi yang mengandung polimikroorganisme, lignolitik, proteolitik, amilolitik, sellulolitik, lipolitik dan nitrogen non simbiotik yang dapat memfermentasi jerami sehingga dapat meningkatkan kualitas dan nilai kecernaannya

Pelatihan pembuatan pakan ternak dengan cara fermentasi jerami starbio yang dilakukan di desa Pandean Kecamatan Karanganyar, tepatnya di rumah mantan kades Sukadi, SPd., Senin 22/2/2010 yang dihadiri oleh satuan kerja dari Dinas Perikanan dan Peternakan, dalam hal ini diwakili oleh Kasi Pelayanan Usaha,Darijono S.Pt, para penyuluh peternakan, Bagian Humas setda Kab. Ngawi dan kelompok tani. Diharapkan para petani ternak mendapatkan semacam pengetahuan, dan sudah tidak akan kesulitan lagi tentang pakan ternak.

Saat ini Pemerintah menggalakkan UKM ( Usaha Kecil Menengah ) untuk menunjang kegiatan ekonomi masyarakat, oleh sebab itu masyarakat diajari salah satu kegiatan yang bersifat meningkatan, mendorong ekonomi produktif sehingga masyarakat tidak menggantungkan bantuan.
Dengan cara intensifikasi atau penggemukan melalui pakan ternak fermentasi starbio, bisa membantu Pemerintah Kabupaten Ngawi untuk mensumplai daging, sehingga tidak perlu import dari luar negeri. Ini merupakan salah satu poin untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Untuk memulai usaha sapi kereman paling tidak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya, memiliki ilmu, modal dan pemasaran. Dalam hal ini sdr. Darijono,menyampaikan bahwa fermentasi adalah proses perombakan dari struktur keras secara fisik, kimia dan biologis sehingga bahan dari struktur yang komplek menjadi sederhana, dan daya cerna ternak menjadi lebih efisien. Kemudian dilanjutkan dengan mempraktekan pembuatan pakan ternak secara fermentasi jerami starbio, dengan sebelumnya harus mengetahui komposisinya, bila jeraminya basah seberat 1 ton maka, starbio 5 Kg dan urea 5 Kg, kalau jerami kering dengan perbandingan starbio 6 Kg serta urea 6 Kg.

Sedangkan cara pembuatannya meliputi:
1. Tempatkan jerami pada tempat yang terlindung dari sinar matahari
2. Kelembaban jerami 60% yaitu basah ditelapak tangan
3. Tumpuk jerami setinggi 30 cm kemudian atasnya ditabur starbio dan urea, lalu diinjak-injak, lakukan berulang-ulang sampai ketinggian 1,5 cm, tumpuk jerami secara menyilang, guna mempermudah pembongkaran untuk penjemuran, apabila jerami kering, sirami dengan air terutama pada minggu pertama.
4. Jerami diperam selama 21 hari, jangan sampai lebih karena bisa jadi kompos.
5. Bongkar jerami kemudian diangin – anginkan atau dijemur lalu dapat disimpan, sebagai stok yang dapat disimpan selama 1 tahun.
6. Setelah diangin – anginkan sudah dapat diberikan pada sapi.
Untuk mengetahui Ciri – ciri jerami fermentasi yaitu : selama proses fermentasi jerami berbau harum, jerami berwarna coklat, serat jerami menjadi lunak (memes).(Hendro).

Sumber : http://humas.ngawikab.go.id/?paged=38

Jumat, 25 Mei 2012

MENGURANGI IMPOR DAGING SAPI DENGAN MEMANFAATKAN JERAMI PADI UNTUK PAKAN TERNAK

MENGUBAH JERAMI KERING MENJADI DAGING SAPI




Indonesia masih kekurangan daging sapi. Kekurangan tersebut selama ini dipenuhi dari impor daging beku, sapi siap potong maupun sapi bakalan untuk digemukkan. Kendala utama yang mengakibatkan adanya kekurangan daging sapi tersebut adalah jumlah induk betina sapi kita hanya tinggal sekitar 11 juta ekor. Idealnya kita memiliki induk betika sekitar 14 sd. 15 juta ekor. Namun di luar kendala kekurangan induk sapi tersebut, produktivitas sapi potong kita juga sangat rendah. Kalau sapi impor rata-rata mampu tumbuh dengan peningkatan bobot badan 1 kg per hari, maka sapi lokal kita hanya akan bertambah berat tara-rata 0,5 kg. per hari. Kendala produktivitas sapi potong kita antara lain disebabkan oleh kurangnya hijauan sebagai ransum, terutama pada musim kemarau.

Di Jateng, DIY dan Jatim, limbah pertanian berupa tebon jagung dan jerami kering pun digunakan sebagai pakan sapi. Padahal nutrisi dari tebon dan jerami kering tersebut sudah sangat rendah. Makanan tambahan yang diberikan oleh peternak kepada sapi mereka hanyalah dedak (padi serta jagung), ampas tahu, tetes serta limbah pertanian lainnya. Namun di lain pihak, jerami padi banyak yang dibakar sia-sia. Di kawasan Karawang, Jawa Barat atau di sentra-sentra penghasil padi lainnya, sering kita saksikan pembakaran jerami kering di sawah-sawah. Padahal di lain pihak, para peternak sapi di Gunung Kidul (DIY) serta Wonogiri (Jateng) sedang kekurangan hijauan untuk pakan sapi mereka.

Pola peternakan sapi rakyat di Jawa, Bali dan Lampung, agak berbeda dengan di luar Jawa/Bali/Lampung. Di Jawa/Bali/Lampung, ternak sapi selalu dikandangkan. Sementara di luar kawasan tersebut, sapi diliarkan di ladang-ladang atau hutan. Di Jawa/Bali/Lampung, peternak bisa berfungsi sebagai breeder, namun bisa pula sebagai penggemuk sapi kereman. Yang dimaksud sebagai breeder adalah, yang mereka pelihara sapi betina. Hasil yang mereka harapkan adalah anak sapi. Biasanya untuk proses pembuntingan, mereka menggunakan cara inseminasi buatan (kawin suntik). Kalau anak yang diperoleh jantan, akan digemukkan sebagai sapi potong. Apabila betina akan dibesarkan sebagai calon induk.

Keuntungan dari memelihara induk sapi betina ini relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan memelihara sapi bakalan untuk digemukkan sebagai sapi potong. Namun para peternak sapi di Jawa/Bali/Lampung biasanya tidak merasa dirugikan dengan memelihara sapi betina, sebab mereka juga sekaligus menggemukkan sapi jantan hasil peternakan mereka. Selain itu, di kawasan ini sapi betina tersebut juga bisa berfungsi sebagai tenaga kerja membajak sawah. Hingga di Jawa/Bali/Lampung, peternak tidak pernah membeda-bedakan fungsi peternakan mereka, apakah sebagai breeder atau sebagai penggemuk sapi kereman.

Jenis sapi lokal yang banyak dibudidayakan masyarakat Indonesia adalah sapi zebu, peranakan ongole (PO), sapi bali, sapi madura (silangan alami antara zebu, ongole dan bali), american brahman dan australian brahman. Kadang-kadang, di masyarakat juga kita jumpai jenis sapi yang tidak lagi ketahuan galur/rasnya. Sebab di kalangan masyarakat pedesaan, dulu ada kebiasaan untuk mengawinkan sapi betina mereka, tanpa pernah memperhitungkan jenis pejantannya. Akibatnya sapi PO bisa kawin dengan sapi madura, sapi brahman dan sebagainya. Keturunan yang diperoleh, tentu menjadi tidak murni lagi. Dulu, perkawinan sedarah (inbreeding) atau antar saudara, juga ikut pula memerosotkan kualitas sapi yang ada. Terjadi degradasi kualitas sapi yang ada di masyarakat. Upaya pemerintah dengan melakukan inseminasi buatan, berikut penyuluhan kepada para peternak, telah memperbaiki kualitas sapi rakyat. Hingga sekarang galur sapi yang dipelihara masyarakat kembali jelas.

Di Jawa dan Lampung, rata-rata masyarakat memelihara sapi zebu, PO atau brahman. Di Madura tentu sapi madura sementara di Bali sapi bali. Sapi madura dan sapi bali ini banyak pula dipelihara di  NTP dan NTT. Di kawasan transmigran atau pemukiman lain di Luar Jawa, Madura, Bali dan Lampung, sapi yang dipelihara tergantung dari masyarakat pemukimnya. Meskipun sekarang ada kecenderungan masyarakat untuk lebih memilih sapi bali serta madura karena  daya tahanannya yang relatif tinggi terhadap kekurangan hijauan maupun serangan penyakit.    

Dengan harga sekitar Rp 12.500,- per kg. hidup, dengan bobot rata-rata sekitar 300 sd. 400 kg. maka harga beli sapi jantan bakalan untuk digemukkan sekitar Rp 3.750.000,- sd. Rp 5.000.000,- Sapi-sapi lokal kita rata-rata akan mencapai pertambahan bobot hidup 0,5 kg. per hari. Sementara bakalan impor mampu tumbuh 1 kg. bobot hidup per hari. Namun biaya pakan dan perawatan sapi impor juga lebih tinggi dari sapi lokal.

Sementara harga per kg. bobot hidup sapi impor, justru lebih rendah dibanding sapi lokal. Ibaratnya harga ayam broiler dengan ayam kampung. Dengan pertambahan bobot hidup 0,5 kg. per hari, kalau harga per kg. bobot hidup Rp 12.500. maka akan diperoleh marjin kotor Rp 6.250,- per hari. Dengan menggunakan pola menggaduh (maro), maka 50% dari marjin tersebut merupakan hak bagi pemilik modal. Hingga hak bagi pemelihara hanyalah Rp 3.125,- per ekor per hari.

Dari marjin tersebut, 50% untuk biaya pakan. terutama konsentrat. Sebab hijauan biasanya akan dicari sendiri oleh si pemelihara. Hingga nilai "upah" bagi pemelihara sapi potong adalah Rp 1.562,50 per hari. Dengan kemampuan menggemukkan rata-rata sekitar 4 ekor, maka nilai penghasilan tenaga buruh penggemukan sapi adalah Rp 6.250,- per hari, dengan jam kerja antara 2 sd. 3 jam. Jam kerja ini akan digunakan untuk mencari hijauan, membersihkan kandang, memberi minum, memandikan sapi dll. Nilai upah ini setelah jangka waktu penggemukan selesai, biasanya 3 bulan, adalah Rp 140.625,- per ekor atau Rp 562.500,- untuk 4 ekor sapi.

Kalau penggemukan sapi ini dilakukan secara bisnis, maka nilai biaya yang harus dikeluarkan oleh investor adalah Rp 3.125,- per ekor per hari untuk sapi lokal, dan Rp 6.250,- per ekor per hari untuk sapi impor. Nilai biaya tersebut akan dialokasikan untuk penyusutan kandang, peralatan, perijinan dll, untuk pakan, obat-obatan serta tenaga kerja, termasuk untuk biaya manajemen. Jumlah minimal sapi lokal yang bisa digemukkan boleh hanya satu ekor dan sudah menguntungkan. Namun pada sapi impor, ada batasan minimalnya. Sebab mendatangkan sapi bakalan dari Australia, minimal harus satu kapal sebanyak sekitar 2.000 ekor. Hingga angka minimal yang harus digemukkan per angkatan adalah 2.000 ekor. Meskipun sekarang sudah ada pola "nempil".

Seorang investor yang hanya memiliki modal untuk menggemukkan 20 ekor, bisa patungan dengan dua atau tida investor lain hingga terkumpul 40 sd. 60 ekor. Jumlah ini diusahakan untuk nempil (membeli sebagian kecil) dari pengusaha feedlot yang melakukan impor sapi bakalan. Apabila investor kecil tersebut sudah dikenal baik oleh importir, biasanya akan diberi "tempilan" sejumlah yang dibutuhkannya. Bahkan importir yang biasanya juga pengusaha penggemukan tersebut, akan menjamin pula pemasarannya apabila usaha yang dilakukan oleh si investor kecil tersebut berhasil. Patokan keberhasilan ini ditandai dengan angka mortalitas nol dan laju pertumbuhan minimal 1 kg. per ekor per hari.

Komponen utama usaha penggemukan sapi potong adalah pakan. Dalam penggemukan berskala bisnis modern, pakan utama adalah konsentrat plus silase. Hijauan, baik segar maupun kering hanya diberikan sekadar untuk "lauk pauknya". Sementara dalam penggemukan secara tradisional, pakan utama adalah hijauan (juga segar maupun kering), sementara pakan tambahannya hanya berupa dedak, ampas tahu, ampas singkong, tetes tebu dan pakan lain sesuai dengan ketersediaan setempat. Karenanya pertambahan bobot hidup rata-rata pada penggemukan secara tradisional hanyalah 0,5 kg. per hari. Meskipun sapi yang digemukkan merupakan bakalan impor, dengan pola penggemukan tradisional, sulit untuk mencapai pertumbuhan bobot hidup 1 kg. per hari.

Sementara sapi lokal pun, apabila digemukkan dengan pakan utama konsentrat dan silase, sementara hijauannya hanya merupakan pakan tambahan, akan mencapai pertumbuhan bobot hidup lebih dari 0,5 kg per hari. Pada akhirnya, yang akan menentukan untung ruginya penggemukan sapi potong adalah komponen biaya pakan ini. Apabila kita bisa menemukan pakan yang mampu meningkatkan bobot hidup tinggi namun harganya murah, maka tingkat keuntungannya akan bertambah. Sebaliknya, penggunaan konsentrat pabrik secara berlebihan, akan menelan biaya tinggi, hingga pertumbuhan bobot hidup yang dicapai tidak mampu lagi menutup biaya pakan.

Hijauan murah yang selama ini masih belum termanfaatkan dengan baik untuk usaha penggemukan sapi potong adalah jerami padi. Kalau kita lewat kawasan Pantura atau sentra penghasil padi lainnya selama musim panen raya, maka akan tampak jerami yang dihamparkan di tengah sawah dan setelah kering langsung dibakar. Api (panas) yang ditimbulkan akibat pembakaran jerami ini, sebenarnya merupakan energi yang masih bisa diubah menjadi protein melalui pencernakan sapi. Di Gunung Kidul, DIY, pada musim kemarau sapi hanya diberi pakan jerami dan tebon (batang jagung) kering. Selulosa ini tentu sangat rendah gizinya. Namun di tahun 1950an, ketika pupuk urea diperkenalkan ke masyarakat, peternak di Gunung Kidul punya gagasan unik. Kalau mes (urea) bisa menyuburkan tanaman, mestinya juga bisa menggemukkan sapi.

Maka mereka pun memberi sapi mereka sedikit urea pada minumannya. Biasanya air minum sapi ini dicampur dengan tetes, ampas singkong atau dedak. Di luar dugaan, ternyata sapi yang hanya diberi jerami dan tebon kering ini setelah mendapat urea benar-benar jadi gemuk. Dalam rumen (lambung sapi), memang terdapat bakteri penghancur selulosa. Dengan adanya starter urea plus karbohidrat, bakteri tersebut akan tumbuh pesat dan menghancurkan selulosa. Karena penghancuran jerami dan tebon kering ini dibantu oleh jutaan bakteri, maka penyerapan nutrisinya menjadi lebih optimal. Sementara bangkai bakteri berupa protein itu, merupakan gizi tambahan yang luarbiasa. (R) ***           

Sumber : http://foragri.blogsome.com/mengubah-jerami-kering-menjadi-daging-sapi/

SINERGI USAHA BUDIDAYA JAGUNG MANIS DAN TERNAK SAPI PERAH

BUDIDAYA JAGUNG MANIS DI SENTRA SAPI PERAH



Sentra peternakan sapi perah di Indonesia terkonsentrasi di Pangalengan (Jabar), Boyolali (Jateng) dan Pujon (Jatim). Di Pangalengan misalnya, terdapat populasi sekitar 17.000 ekor sapi. Kalau dalam sehari rata-rata satu ekor sapi memerlukan hijauan sebanyak 40 kg.  maka sentra peternakan tersebut memerlukan 680 ton hijauan per hari. Produktivitas lahan yang ditanami hijauan, rata-rata 20 ton per 70 hari. Hingga tiap harinya harus ada 34 hektar lahan hijauan yang siap untuk dipanen. Dengan sistem rotasi yang baik, dengan adanya pengairan teratur, maka tiap dua bulan lebih 10 hari, penanaman akan kembali ke lahan semula. Hingga untuk mencukupi 17.000 ekor sapi perah tersebut, sebenarnya diperlukan lahan penanaman hijauan (monokultur) seluas 34 (hektar) X 70 (hari) = 2.380 hektar.

Padahal di kawaan pangalengan, lahan-lahan rakyat lebih banyak dimanfaatkan untuk menanam kentang. Sebab Pangalengan juga merupakan salah satu sentra kentang di Indonesia. Di luar lahan petani, Pangalengan dikelilingi oleh lahan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan lahan PT Perhutani (Persero). Lahan PTPN berupa perkebunan teh, sementara lahan Perhutani adalah hutan lindung atau tegakan pinus. Hingga upaya untuk menyediakan 2.380 hektar lahan untuk meningkatkan produktivitas susu di Pangalengan merupakan sebuah impian. Sebagai gambaran, lahan Perkebunan Teh Malabar hanya sekitar 3.000 hektar.

Salah satu alternatif memenuhi kebutuhan hijauan pakan ternak adalah dengan menggabungkan agribisnis jagung manis (sweet corn) dengan peternakan sapi perah. Jagung manis adalah varietas jagung yang hanya akan dipanen muda, yakni pada umur sekitar 70 hari di lahan dataran tinggi. Di dataran menengah dan rendah, umur panennya bisa lebih singkat, yakni sekitar 65 bahkan hanya 60 hari. Karena dipanen pada umur muda, maka tebon (batang berikut daun) jagung tersebut masih sangat hijau dan segar, hingga nilai gizinya masih tinggi bagi ternak ruminansia, khususnya sapi perah. Beda dengan budidaya jagung hibrida untuk pakan ternak yang akan dipanen tua, yakni pada umur 100 hari. Pada waktu itu tebon jagung sudah mengeras bahkan mengering hingga nutrisinya terlalu rendah sebagai pakan ternak.

Di sentra penanaman jagung hibrida, biasanya daun-daun jagung ini akan mulai diambil pada saat jagung berumur sekitar 80 hari. Nanti pada umur sekitar 90 hari, seluruh daun akan dihabisi hingga yang tinggal hanyalah batang bagian bawah sampai sebatas tongkol. Tongkol ini akan dibiarkan mengering di areal penanaman sampai saat panen. Pada jagung manis, pemanenan dilakukan berikut tongkolnya, hingga yang tersisa adalah batang serta daun jagung yang masih hijau. Di sentra-sentra penanaman jagung manis yang masyarakatnya banyak memelihara sapi serta domba, harga tebon jagung manis ini sekitar Rp 50,- per kg. Kalau dalam tiap hektar lahan jagung manis bisa dipanen   sekitar 20 ton tebon, maka petani masih akan memperoleh tambahan pendapatan Rp 1.000.000,- per hekrat per musim tanam.

Modal kerja penanaman jagung manis sekitar Rp 5.000.000,- per hektar per musim tanam. Modal tersebut akan digunakan untuk mengolah lahan, membeli benih, memupuk dan merawat tanaman serta memanen. Benih yang diperlukan sekitar 6 kg. untuk tiap hektar lahan. Pupuk organik yang diperlukan sebanyak 5 ton. Baik berupa pupuk kandang maupun kompos. Pupuk kimianya berupa urea, SP, KCL serta NPK. Total aplikasinya sekitar 1 ton dengan variasi jenis pupuk sesuai dengan kondisi lahan. Selain itu masih diperlukan pula pestisida dan pengapuran lahan apabila lahan tersebut ber pH di bawah 7.

Kebutuhan pupuk kandang di sentra-sentra penanaman jagung manis selama ini cukup tinggi. Sementara ketersediaannya sangat rendah. Karenanya pupuk kotoran sapi dan domba selalu menjadi rebutan. Alternatif yang ditempuh petani adalah dengan memanfaatkan pupuk kotoran ayam. Baik ayam pedaging (bercampur sekam) atau ayam petelur (murni kotoran). Namun kandungan bahan organik dari pupuk ayam, tidak sebaik pada pupuk kotoran sapi atau domba. Di lain pihak, kototan sapi perah biasanya hanya terbuang sia-sia. Tiap pagi, apabila akan dilakukan pemerahan, maka kandang yang berlantaikan semen itu akan diguyur air. Kotoran sapi akan langsung hanyat menuju perairan umum. Padahal nilai kotoran sapi tersebut sebagai pupuk kandang masih tinggi.

Penggelontoran ke sungai juga akan mencemari lingkungan. Penggabungan pertanian jagung manis dengan peternakan sapi perah dapat mengatasi dua kendala sekaligus. Jagung manis tidak perlu kekurangan pupuk organik, sementara pencemaran limbah peternakan juga tertanggulangi.
Fungsi pupuk organik, dalam hal ini pupuk kandang, dalam budidaya jagung manis sangat besar. Pertama, pupuk organik akan memperbaiki struktur tanah hingga daya serap akar terhadap nutrisi dalam bentuk unsur hara makro (N, P, K) akan semakin besar. Selama ini hampir semua lahan pertanian di Jawa, baik lahan sawah maupun ladang, sudah sangat kekurangan unsur organik.

Penyebabnya adalah tingginya erosi, serta aplikasi pupuk kimia yang sangat berlebihan. Hingga pemberian pupuk urena, Sp mapun Kalium serta pupuk majemuk NPK dalam dosis tepat pun, tidak akan terserap secara optimal oleh akar tanaman. Kedua, fungsi pupuk kandang bagi jagung manis adalah untuk memperkuat pertumbuhan akar.  Hingga pada saat tanaman pas berat-beratnya (umur 40 sd. 60 hari) apabila terjadi angin kencang, tanaman tidak akan roboh. Sebenarnya aplikasi pupuk kandang untuk lahan pertanian yang sudah terlanjur rusak untuk tanaman jagung manis, harus lebih dari 5 ton. Sebab dosis 5 ton per hektar per musim tanam adalah untuk kondisi normal. Dalam keadaan lahan sudah rusak berat. dosis yang dianjurkan adalah 20 ton. Kemudian berangsur-angsur diturunkan sampai ke kondisi normal yakni 5 ton per hektar per musim tanam. Dengan demikian, kebutuhan pupuk kandang untuk areal pertanian jagung manis seluas 100 hektar saja, sudah mencapai 2.000 ton per musim tanam.

Pupuk kandang yang dimaksudkan adalah kotoran ternak yang sudah terfermentasi dengan baik. Kotoran sapi perah segar yang baru saja disiram dari kandang, masih harus diperam dulu hingga siap untuk menyuburkan lahan pertanian. Kalau kotoran sapi yang baru saja diambil dari kandang itu langsung diaplikasikan ke lahan, tanaman akan mati. Sebab N dalam kotoran ternak tersebut masih sangat tinggi hingga akan melayukan tanaman. Selain itu, kotoran tersebut dalam proses fermentasinya akan mengeluarkan gas methan dan amonia yang juga bisa meracuni akar tanaman.

Panas dari proses fermentasi itu pun juga  akan menimbulkan panas yang langsung berdampak ke rusaknya parakaran. Karenanya, kotoran sapi perah yang disiram dari kandang idealnya ditampung terlebih dahulu dalam sebuah bak penampungan. Apabila bak tersebut dibuat tertutup, maka gas methan (biogas) yang dihasilkannya masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Namun dibanding dengan nilai investasinya, nilai ekonomis dari gas tersebut relatif tidak sebanding. Hingga bak penampungan tersebut bisa dibangun secara terbuka.

Untuk mempercepat proses fermentasi serta guna menghindarkan polusi bau, maka ke dalam bak penampungan tersebut perlu ditambahkan biang bakteri. Misalnya EM4 atau merk lain. Tanpa bantuan bakteri, proses pemasakan pupuk akan berlangsung selama lebih dari sebulan dengan polusi bau yang luarbiasa. Dengan bantuan bakteri, proses tersebut bisa dipersingkat menjadi paling lama 1 minggu dan tanpa adanya polusi bau.

Limbah peternakan sapi perah sangat spesifik. Beda dengan limbah kotoran sapi pedaging atau domba. Sebab kandang sapi perah rata-rata berlantai semen dan cara pembersihannya dilakukan harian dengan cara menyiram. Karenanya. limbah peternakan sapi perah berupa kotoran yang larut dalam air. Dalam larutan bahan pupuk tersebut, terkandung pula urine sapi yang kadan Nnya sangat tinggi. Karenanya pemeraman kotoran sapi perah harus dengan menyertakan airnya. Beda dengan fermentasi kotoran sapi pedaging atau domba yang bisa dilakukan hanya dengan kotoran padatnya.

Sebab urine sapi pedaging serta domba, masih tersimpan dalam jerami atau rumput kering yang biasanya dijadilan alas kandang. Karena pemeraman limbang sapi perah dengan menyertakan airnya, maka pemanfaatannya untuk tanaman pun idealnya juga dengan menyertakan airnya. Cara paling prakatis yang bisa dilakukan adalah dengan menyedot limbah cair tersebut dari bak penapungan menggunakan mobil tangki.

Selanjutnya kotoran yang telah terfermentasi dengan baik itu langsung disiramkan ke lahan yang akan ditanami jagung manis. Karena dosis normal 5 ton per hektar dan untuk lahan kritis 20 ton tersebut adalah pupuk padat, maka pada penggunaan pupuk organik cair ini dosisnya dilipatkan. Kalau diperkirakan bagian padatnya hanya 25 %, maka dosis tersebut dikalikan empat dari dosis normal. Kalau bahan padatnya sekitar 50 % maka cukup dikalikan dua. Pemberian pupuk ini sebaiknya dilakukan pada saat lahan belum dibajak.

Selanjutnya, pemberian pupuk pada saat areal sudah ditanami, dilakukan dengan   menampung pupuk dalam drum-drum yang ditaruh di pinggir jalan di dekat areal jagung manis. Selanjutnya penyiraman ke masing-masing individu tanaman dilakukan sebara manual. Pada pemupukan tahap kedua ini, bisa sekaligus dicampurkan (dilarutkan NPK) dengan dosis 1 atau 2 kuintal per hektar.

Saat panen jagung manis, tebon segar juga bisa langsung dipanen. Idealnya tebon segar ini dicacah menggunakan chooper hingga diperoleh partikel yang siap dicampur konsentrat untuk dikonsumsi sapi. Dalam keadaan tebon berlimpah, hasil cacahan ini bisa dibuat silase dan sekaligus disimpan dalam silo. Baik silo permanen dari bahan bata/batako, maupun silo berupa kantung plastik besar yang ditanam dalam tanah. Pemanfaatan kotoran sapi perah secara optimal, dapat meningkatkan hasil jagung manis dari 8 ton per hektar menjadi 12 sd. 14 ton per hektar. Sementara pemanfaatan tebon segar, bisa meningkatkan produktivitas susu dari 10 sd. 12 liter per hari menjadi 14 sd. 16 liter. 

Dengan harga jagung manis rata-rata Rp 1.000,- per kg. tongkol segar, maka peningkatan pendapatan petani antara Rp 4.000.000,- sd. Rp 6.000.000,- per hektar per musim tanam. Sementara peningkatan pendapatan peternak, dengan harga susu segar Rp 1.500,- adalah Rp 6.000,- per ekor sapi per hari.  Hingga penerapan pola agribisnis jagung manis di sentra peternakan sapi perah, akan menguntungkan pihak petani maupun peternak. (R) ***

Sumber : http://foragri.blogsome.com/budidaya-jagung-manis-di-sentra-sapi-perah/

Selasa, 22 Mei 2012

Pupuk Organik Cair Mengandung N, P dan K

Pupuk Organik Cair Mengandung N, P dan K


Dalam pertumbuhannya tanaman memerlukan tiga unsur hara penting, yaitu nitrogen (N), fosfat (P), dan kalium (K). Peranan utama nitrogen (N) adalah untuk merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, terutama pada fase vegetatif, khususnya batang, cabang, dan daun. Selain itu, nitrogen pun berperan penting dalam pembentukan hijau daun (klorofil) yang sangat berguna dalam proses fotosintesis. Fungsi lainnya ialah membentuk protein, lemak, dan berbagai persenyawaan organik lainnya.

Unsur fosfor (P) bertugas mengedarkan energi keseluruh bagian tanaman, berguna untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar, khususnya akar benih dan tanaman muda. Selain itu, fosfor juga berfungsi sebagai bahan mentah untuk pembentukan sejumlah protein tertentu, membantu asimilasi dan pernapasan, mempercepat pembungaan dan pembuahan, serta mempercepat pemasakan biji dan buah.

Sedangkan fungsi utama kalium (K) adalah membantu pembentukan protein, karbohidrat dan gula. Kalium pun berperan dalam memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur. Membantu pengankutan gula dari daun ke buah atau umbi. Yang tidak bisa dilupakan adalah kalium pun merupakan sumber kekuatan bagi tanaman dalam menghadapi kekeringan dan serangan penyakit.

Bahan-bahan alami yang mengandung unsur nitrogen diantaranya azolla, kacang-kacangan, jerami atau dedaunan yang berwarna hijau, serta urin dan kotoran hewan atau manusia. Sementara bahan alami yang mengandung unsur fosfor dan kalium antara lain ampas tebu, batang pisang, sabut kelapa, dan abu kayu. Berikut adalah cara pembuatan pupuk organik cair (POC) berdasarkan kandungan unsur haranya.

POC dengan unsur hara N
Nitrogen menjadi sangat penting bagi tanaman pada fase vegetatif. Kekurangan hara ini akan menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi lambat. Mula-mula daun menguning dan mengering, lalu rontok. Daun yg menguning diawali dari daun bagian bawah, lalu disusul daun bagian atas.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat POC berunsur hara N adalah daun salam 1 kg, babadotan 1 kg, air kelapa 1 liter, bintil akar kacang tanah 1 kg, EM TANI100 cc, dan gula pasir 10 sendok. Daun salam, babadotan, dan bintil akar kacang tanah ditumbuk sampai halus, lalu dimasukan ke dalam ember berisi air kelapa yang sudah dicampur EM TANI dan gula pasir. Selanjutnya ember ditutup rapat dan dibiarkan selama tiga minggu. Setelah itu cairan disaring dan siap untuk digunakan.

POC dengan unsur hara P
Gejala yang ditunjukan tanaman akibat kekurangan unsur fosfor adalah daun bawah berubah warna menjadi tua atau tampak mengkilap merah keunguan. Kemudian menjadi kuning keabuan dan rontok. Tepi daun, cabang, dan batang berwarna merah keunguan. Batang kerdil dan tidak menghasilkan bunga dan buah. Jika sudah terlanjur berbuah ukurannya kecil, jelek, dan lekas matang.

Bahan yang diperlukan untuk membuat POC berunsur hara P adalah batang pisang 1 kg, gula pasir 1 ons, dan air 1 liter. Untuk pembuatannya adalah sebagai brikut:
1.     Larutkan gula dengan air dalam ember dan iris-iris batang pisang.
2.     Masuka irisan tersebut pada plasitk yang sudah dilubangi sebelumnya atau dibungkus dengan kain kasa, lalu ikat jangan samapai irisan batang pisang berceceran.
3.     Masukan plastik atau kain kasa yang berisi irisan batang pisang ke dalam ember yang berisi larutan gula.
4.     Supaya tenggelam, platik atau kain kasa diberi pemberat.
5.     Tutup ember rapat-rapat.
6.     Setelah dua minggu irisan batang pisang dikeluarkan dari pembungkusnya, kemudian diremas-remas sampai airnya habis.
7.     Setelah disaring, larutan siap digunakan.

POC dengan unsur hara K
Kalium sangat penting bagi tanaman khususnya pada fase generatif, terutama dalam pembentukan biji, supaya biji tersebut bernas (berisi). Ciri tanaman yang kekurangan kalium adalah daun mengkerut atau keriting, timbul bercak-bercak merah kecoklatan lalu kering dan mati. Perkembangan akar lambat. Buah tumbuh tidak sempurna, kecil, jelek, dan tidak tahan lama.

Bahan untuk pembuatan pupuk cair ini adalah sabut kelapa sekitar 5 kg dan air 100 liter. Sabut kelapa dicacah, lalu dimasukan kedalam drum. Setelah itu, drum diisi air dan ditutup rapat. Supaya sabut kelapa tidak berantakan, sebaiknya dimasukan kedalam wadah (seperti irisan batang pisang), diikat dan diberi pemberat agar tenggelam. Setelah dibiarkan selama dua minggu air akan berubah warna menjadi coklat kehitaman. Selanjutnya air disaring dan siap untuk digunakan.

Aplikasi pada tanaman padi
-   Untuk merangsang pertumbuhan anakan semprotkan POC yang mengandung hara N dan P saat tanaman berumur 0-56 hari dengan interval seminggu sekali. Dosis yang digunakan untuk tangki yang berkapasitas 14 liter adalah 1 liter POC “N” ditambah 20 cc POC “P”.
-   Untuk merangsang pembungaan dan pembentukan biji yang bernas (berisi), semprot tanaman saat berumur 63 hari sampai biji padi terlihat menguning dengan interval seminggu sekali. Dosis yang digunakan adalah 40 cc POC “P” dicampur dengan 1 tangki (14 liter) POC “K”.
 
Sumber : http://informasi-budidaya.blogspot.com/2011/10/pupuk-organik-cair-mengandung-n-p-dan-k.html